NIJI
Jurnal Kajian Sastra, Budaya, Pendidikan dan Bahasa Jepang
Vol. 1, No. 1, Januari 2019, p-ISSN 2355-889X
https://doi.org/10.18510/jt.2021.xxx
http://jurnal.stibainvada.ac.id/
1
KALA DAN ASPEK DALAM BAHASA JEPANG DENGAN BAHASA
INDONESIA (KAJIAN LINGUISTIK KONTRASTIF)
Yanti Hidayati
Institut Pendidikan dan Bahasa (IPB) Invada Cirebon
Riwayat Artikel:
Diterima November 2018;
Direvisi Desember 2018;
Disetujui Januari 2019.
Abstrak
Penelitian ini membahas tentang penggunaan kala dan aspek dalam bahasa Jepang dan
bahasa Indonesia, dan perbedaan kala dan aspek dalam bahasa Jepang dan bahasa
Indonesia. Metode yang digunakan adalah deskriptif. Sumber data dari media online
Jepang Sankei.com, Jakarta shimbun, dan Asahi Shimbun Digital. Serta media online
Indonesia Tempo.co, bbc.com, Kompas.com, dan Republika.co.id. Penelitian ini
menghasilkan kesimpulan bahwa penggunaan kala pada media online berbahasa Jepang
ditemukan kala sekarang, kala masa depan, kala melewati batas, dan kala lampau.
Sedangkan penggunaan kala pada media online berbahasa Indonesia dapat diketahui
perbedaannya bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang tidak mengenal sistem kala.
Ditemukan penggunakan kategori temporal pada kala masa depan, dan bentuk kala
lampau. Penggunaan aspek pada media online berbahasa Jepang ditemukan aspek
Kanryosou. Dalam bahasa Indonesia termasuk aspek perfektif dinyatakan dengan verba
turut berperan. Dan ditandai dengan kata telah. Aspek joutaisou ditandai dengan verba
yang diikuti morfem rangkap (te iru). Dalam bahasa Indonesia termasuk aspek progresif
ditandai dengan menggunakan unsur leksikal sedang. Aspek shinkousou ditandai verba
yang diikuti morfem rangkap (te iru). Dalam bahasa Indonesia termasuk imperfektif.
Aspek keizokusou ditandai dengan verba jissen shite diikuti morfem rangkap (te iru).
Dalam bahasa Indonesia termasuk kontinuatif.
Kata kunci : kala, aspek, kontrastif, bahasa Jepang, bahasa Indonesia
Yanti Hidayati
Kala dan Aspek dalam Bahasa Jepang dengan Bahasa Indonesia (Kajian Linguistik
Kontrastif)
2
PENDAHULUAN
Ketika kita menyampaikan ide, pikiran, hasrat dan keinginan kepada seseorang
baik secara lisan maupun secara tertulis, orang tersebut bisa menangkap apa yang kita
maksud, tiada lain karena ia memahami makna (imi) yang dituangkan melalui bahasa
tersebut, jadi fungsi bahasa merupakan media untuk menyampaikan (densetsu)
suatu makna kepada seseorang baik secara lisan maupun secara tertulis (Sutedi, 2010:2).
Atau berfungsi sebagai alat untuk mengungkapkan isi hati manusia. Samsuri (1985 : 251)
Untuk mengungkapkannya perlu untuk mengetahui bagaimana karakteristik atau sistem
bahasa tersebut.
Untuk mengungkapkan konsep waktu dalam bahasa Jepang menurut Sutedi (2010 :
85) kala dan aspek merupakan hal yang sulit untuk dipisahkan, karena keduanya
berhubungan dengan perbuatan atau kejadian. Kala dan aspek berhubungan dengan
perubahan verba. Seperti data bahasa Jepang yang tercantum dalam Sankei.com edisi 23
Desember 2014 Pukul 21:28, kolom 2 paragraf 1 :
アチェでは、支援が滞り始めた5年から農業や鉱業、観光業の新規投資
がほとんどなくなった。
Ache dewa, shien ga todokoori hajimeta 5 nen mae kara nougyou ya kougyou,
kankougyou no shinki toushi ga hotondo nakunatta.
“Di Aceh, hampir tidak ada investasi baru dari industri pariwisata, pertanian, dan
pertambangan bantuan mulai macet sejak 5 tahun yang lalu. “
Tetapi, tidak semua bahasa mempunyai sistem yang sama. Inilah salah satu kesulitan
ketika kita mempelajari bahasa asing yang tidak mempunyai sistem bahasa yang sama
dengan bahasa ibu. Seperti penjelasan Parera (1997 : 157 ) kesulitan mempelajari bahasa
asing adalah perbedaan-perbedaan yang terdapat antara bahasa ibu dan bahasa asing yang
kita pelajari. Seperti data bahasa Indonesia yang tercantum dalam Kompas.com edisi
tanggal 26 Desember 2014 Pukul 13 : 47 paragraf 2 :
Perdana Menteri Jepang juga menyampaikan penghormatan kepada semua pihak
yang selama 10 tahun ini telah berusaha bangkit dari kesedihan dan bersama-sama
berusaha membangun kembali Aceh.
Berdasarkan data-data tersebut, untuk mengetahui perbedaan antara bahasa Jepang
dan bahasa Indonesia perlu melakukan analisis kebahasaan secara kontrastif. Seperti
pemaparan Tarigan (2009 : 218) linguistik kontrastif hanya meneliti perbedaan-
perbedaan atau ketidaksamaan-ketidaksamaan yang mencolok yang terdapat pada dua
bahasa atau lebih. Dengan sumber data berasal dari media online Jepang Sankei.com,
Jakarta shimbun, dan Asahi Shimbun Digital. Serta media online Indonesia Tempo.co,
bbc.com, Kompas.com, dan Republika.co.id. Pemunculan data pada edisi bulan desember
tahun 2014. Dengan rumusan masalah yaitu, bagaimana penggunaan kala dan aspek
dalam bahasa Jepang dan bahasa Indonesia? dan bagaimana perbedaan kala dan aspek
Yanti Hidayati
Kala dan Aspek dalam Bahasa Jepang dengan Bahasa Indonesia (Kajian Linguistik
Kontrastif)
3
dalam bahasa Jepang dan bahasa Indonesia? Dengan tujuan penulis dapat
mendeskripsikan penggunaan kala dan aspek dalam bahasa Jepang dan bahasa Indonesia.
Dan dapat mendeskripsikan perbedaan kala dan aspek dalam bahasa Jepang dan bahasa
Indonesia.
METODE PENELITIAN
Untuk mencapai tujuan penelitian, maka penulis menggunakan metode penelitian
deskriptif menurut Nazir (2011 : 55). Teknik pengolahan data dengan melakukan studi
dokumentasi untuk memperoleh data, kemudian mengklasifikasikan data yang terkait
dengan kala dan aspek. Setelah itu melakukan analisis secara kontrastif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kala dan Aspek dalam Bahasa Jepang dan
Indonesia Kala dalam bahasa Jepang
Kala dalam bahasa Jepang diilustrasikan menurut Katou (1989 : 1) sebagai
berikut :
Lampau Masa depan
Waktu ujaran
Kala menunjukkan suatu peristiwa atau keadaan yang terjadi dengan
mempergunakan waktu ujaran sebagai patokannya. Katou (198934) membagi kala
menjadi adalah genzai “kala sekarang”, mirai “kala masa depan”, chouji “kalamelewati
batas waktu”, dan kako “kala lampau”.
1.
Kala sekarang, contoh : Arasuka e itte mitai.
(Saya) ingin pergi ke Alaska.
2.
Kala masa depan, contoh : Kare wa asu kimasu.
Dia (laki-laki) besok akan datang.
3.
Kala melewati batas waktu, contoh :
Orimpikku wa 4 nen goto ni
hirakareru. Olimpic diselenggarakan
tiap 4 tahun.
4.
Kala lampau, contoh : Jugyou wa senshuu de owarimashita.
Perkuliahan telah selesai minggu yang lalu.
Sedangkan Sutedi (2010 : 86) membagi kala menjadi 2 macam, yaitu kako “kala
lampau” dan hikako “kala bukan lampau”.
Yanti Hidayati
Kala dan Aspek dalam Bahasa Jepang dengan Bahasa Indonesia (Kajian Linguistik
Kontrastif)
4
Aspek dalam bahasa Jepang
Aspek dalam bahasa Jepang diilustrasikan menurut Katou (1989 : 2) sebagai berikut :
Permulaan Keberlanjutan Akhir
Perisiwa sesaat Keadaan sebagai hasil peristiwa
Aspek menunjukkan posisi suatu peristiwa atau keadaan dilihat dari proses
waktunya, apakah berada di awal proses, di akhir proses, proses sedang berlangsung,
atau suatu keadaan yang tetap terjadi sebagai hasil dari suatu peristiwa sesaat. Aspek
merupakan sifat kedudukan dari keadaan atau perbuatan yang ditunjukkan oleh predikat.
(Inoue, 1976: 6). Kelompok aspek dalam bahasa Jepang terbatas pada morfem [ru], [ta],
morfem rangkap [te iru] dan morfem rangkap [te ita]. Aspek menurut Inoue, ada 5
yaitu aspek selesai, aspek keadaan,
aspek sedang berlangsung, aspek terus-menerus, dan aspek berulang-
ulang Berikut ini adalah jenis-jenis aspek dalam bahasa Jepang:
a.
Kanryosou atau aspek selesai
Ciri semantis kata kerja yang menjadi predikat (-keadaan) dengan morfem [ta].
Contoh: Boku wa ano hon o mou yonda. (Saya sudah membaca buku itu)
b.
Joutaisou atau aspek keadaan
Ciri semantis kata kerja yang menjadi predikat (+perbuatan), (-kontinyu) dengan
morfem rangkap [te iru] atau (+keadaan) (-kontinyu) dengan morfem rangkap [te iru].
Contoh: Tarou no neko ga shinde iru. (Kucing Taro mati)
c.
Shinkousou atau aspek sedang berlangsung
Ciri semantis kata kerja yang menjadi predikat (+perbuatan) (+kontinyu) dengan
morfem rangkap [te iru]. Contoh: Yuki ga futte iru. (Salju sedang turun)
d.
Keizokusou atau aspek terus-menerus
Ciri semantis kata kerja yang menjadi predikat (+perbuatan) (+kontinyu) dengan
morfem rangkap [te iru]. Contoh: Minna ga kono hon o yonde iru.
(Semua sedang membaca buku)
e.
Hanpukusou atau aspek berulang-ulang
Ciri semantis kata kerja yang menjadi predikat (+perbuatan) (-kontinyu) dengan
morfem rangkap [te iru]. Contoh:
Hanako wa arudake no sara o tsugi tsugi ni watte iru.
(Hanako terus –menerus memecahkan piring yang ada)
Yanti Hidayati
Kala dan Aspek dalam Bahasa Jepang dengan Bahasa Indonesia (Kajian Linguistik
Kontrastif)
5
Kala dalam bahasa Indonesia
Menurut Hopper dalam Djajasudarma (1999 : 22) tuturan tertentu dalam suatu bahasa
dapat mengandug kontur temporal tentang keadaan, tindakan, dan sikap pembicara.
Unsur-unsur gramatikal yang menghubungkan kontur temporal dengan sikap pembicara
merupakan kategori kala, aspek, dan modalitas. Bahasa Indonesia tidak mempunyai
sistem kala. Karena tidak memiliki kala, kategori temporal dalam bahasa Indonesia
dinyatakan dengan nomina temporal seperti sekarang, baru-baru ini, segera, hari ini,
kemarin, tadi, dan seterusnya.
Aspek dalam bahasa Indonesia
Menurut Chaer (1994: 259) aspektualitas atau aspek adalah cara untuk memandang
pembentukan waktu secara internal di dalam suatu situasi, keadaan, kejadian, atau proses.
Djajasudarma (1999: 26) menambahkan kalau situasi dapat berupa keadaan, peristiwa,
dan proses. Berikut ini macam-macam aspek dalam bahasa Indonesia.
a.
Aspek Kontinuatif : Menyatakan perbuatan terus berlangsung. Ditandai dengan
unsur leksikal terus, selalu, atau verba yang menggunakan sufiks i.
b.
Aspek Inseptif : Menyatakan peristiwa atau kejadian baru mulai.Penanda aspek
ini adalah unsur leksikal baru.
c.
Aspek Progresif : Menyatakan perbuatan sedang berlangsung. Ditandai dengan unsur
leksikal sedang.
d.
Aspek Repetitif : Menyatakan perbuatan itu terjadi berulang-ulang. Ditandai oleh verba
bersufiks -i.
e.
Aspek Perfektif : Menyatakan perbuatan sudah selesai. Menggunakan unsur leksikal
sudah dan telah.
f.
Aspek Imperfektif : Menyatakan perbuatan berlangsung sebentar. Ditandai
verba berafiks meN-.
g.
Aspek Sesatif : Menyatakan perbuatan berakhir. Ditandai dengan unsur leksikal sudah
selesai atau telah selesai.
Yanti Hidayati
Kala dan Aspek dalam Bahasa Jepang dengan Bahasa Indonesia (Kajian Linguistik
Kontrastif)
6
Penggunaan Kala dan Aspek dalam Media Online Jepang dan Indonesia
Berdasarkan rumusan masalah berikut ini penulis akan menganalisis bagaimana
penggunaan kala dan aspek yang terdapat dalam media online Jepang dan Indonesia, serta
bagaimana perbedaannya.
Kala
a.
Menyatakan kala sekarang
(1)
Asahi Shimbun Digital edisi 27 Desember 2014 pukul 05 : 26, paragraf 1.
....
日本の研究者が被災直後の写真との風景を重ね合わせられるスマートフォン用アプ
を開発した。
...Nihon no kenkyuusha ga hisai chokugo no shashin to ima no fuukei o kasanu
awaserareru sumaatofon you apuri o kaihatsu shita.
“...Para peneliti dari Jepang mengembangkan aplikasi penggunaan smartphone yang
dirangkai dengan pemandangan terkini dengan foto-foto setelah bencana. “
(2)
Tempo.co edisi 25 Desember 2014 pukul 04 : 36, paragraf 1.
Wakil Presiden Jusuf Kalla pada Kamis ini, 25 Desember 2014, akan tiba ke Aceh untuk
memimpin peringatan sepuluh tahun tsunami.
Pada kalimat (1) verba kasanu awaserareru dan kata akan (2) menyatakan bentuk
kala sekarang, seperti pemaparan Katou (198934) apabila peristiwa atau keadaan
tersebut terjadi bersamaan dengan waktu ujaran, maka kala ujaran tersebut adalah kala
sekarang. Pada kalimat (1) aplikasi masih dirangkai pada saat waktu ujaran ditandai
dengan verba (ru) pada kasanu awaserareru dan ima. Pada kalimat (2) waktu ujaran
diucapkan bersamaan dengan kedatangan wakil presiden Jusuf Kalla. Hal ini ditandai
dengan keterangan pada Kamis ini, 25 Desember 2014 sama dengan penyampaian ujaran
oleh Tempo.co yaitu pada tanggal 25 Desember 2014 dan akan. Dapat diketahui
walaupun secara leksikal mempunyai tanda yang sama dari keterangan waktu tetapi
dalam bahasa Indonesia verba tidak dipengaruhi oleh perubahan waktu. Selain itu
perbedaannya bahwa bahasa Indonesia tidak mengenal sistem kala. Sesuai dengan
pendapat Hopper dalam Djajasudarma (1999 : 22) bahasa Indonesia tidak mempunyai
sistem kala. Karena tidak memiliki kala, untuk menyatakan kala sekarang maka
menggunakan kategori temporal yang dinyatakan dengan Kamis ini, 25 Desember 2014
dan nomina temporal akan.
Yanti Hidayati
Kala dan Aspek dalam Bahasa Jepang dengan Bahasa Indonesia (Kajian Linguistik
Kontrastif)
7
b.
Menyatakan kala masa depan
(3)
Sankei.com edisi tanggal 23 Desember 2014 kolom ke-1 pukul 21 : 28, paragraf 1.
...
2004年のスマトラ沖大地震=マグニチュード(M)9・1=とインド洋
大津波から26日で10年を迎える
...2004 nen Sumatora oki daijishin=magunichuudo (M) 9.1=to Indo you ootsunami kara
26 nichi de 10 nen o mukaeru.
“Menyambut 10 tahun pada tanggal 26 sejak tsunami besar di samudra Hindia dan gempa
besar berkekuatan 9 skala richter di lepas pantai Sumatera pada tahun 2004 ....
(4)
kompas.com edisi tanggal 26 Desember 2014 pukul 13 : 47, paragraf 4.
Pada Maret 2015 nanti, kata Shinzo, Jepang akan menyelenggarakan
Konferensi Internasional PBB mengenai pencegahan bencana.
Pada kalimat (3) verba mukaeru, dan kalimat (4) akan menyelenggarakan
menyatakan bentuk kala masa depan, sesuai pendapat Katou (1989
3 4) apabila
peristiwa atau keadaan tersebut terjadi setelah waktu ujaran, maka kala ujaran tersebut
disebut kala masa depan. Pada kalimat (3) waktu ujaran diucapkan pada tanggal 23
Desember 2014, sedangkan peristiwa menyambut 10 tahun tsunami akan diperingati pada
tanggal 26 Desember 2014. Ditandai dengan verba (ru) pada mukaeru. Pada kalimat (4)
waktu ujaran adalah pada tanggal 26 Desember 2014, sedangkan peristiwa konferensi
Internasional PBB baru akan diselenggarakan pada bulan Maret 2015. Hal ini ditandai
dengan kata nanti dan akan. Dapat diketahui walaupun secara leksikal mempunyai tanda
yang sama dari keterangan waktu tetapi dalam bahasa Indonesia verba tidak dipengaruhi
oleh perubahan waktu. Selain itu perbedaannya bahwa bahasa Indonesia tidak mengenal
sistem kala. Sesuai dengan pendapat Hopper dalam Djajasudarma (1999 : 22) bahasa
Indonesia tidak mempunyai sistem kala. Karena tidak memiliki kala, untuk menyatakan
kala masa depan maka menggunakan kategori temporal yang dinyatakan dengan nomina
temporal nanti dan akan.
c.
Menyatakan kala melewati batas waktu
(5)
Jakarta Shimbun edisi tanggal 27 Desember 2014, paragraf 13.
来年3月、日本は仙台で第3回国連防災世界会議を開催します
Rainen 3 gatsu, Nihon wa Sendai de dai 3 kai kukouren bousai sekai kaigi o kaisai
shimasu.
“Mulai bulan Maret tahun depan, Jepang akan menyelenggarakan Konferensi
Internasional PBB mengenai pencegahan bencana yang ke-3 di Sendai. “
(6)
kompas.com edisi tanggal 26 Desember 2014 pukul 13 : 47, paragraf 4.
Pada Maret 2015 nanti, kata Shinzo, Jepang akan menyelenggarakan
Konferensi Internasional PBB mengenai pencegahan bencana.
Yanti Hidayati
Kala dan Aspek dalam Bahasa Jepang dengan Bahasa Indonesia (Kajian Linguistik
Kontrastif)
8
Pada kalimat (5) verba kaisai shimasu menyatakan bentuk kala melewati batas waktu,
sesuai pendapat Katou (1989
3 4) apabila peristiwa atau keadaan tersebut
menunjukkan kemutlakan atau universal, kebenaran, sejarah, dan membutuhkan alur
waktu maka kala ujaran tersebut disebut kala melewati batas. Pada kalimat (5) waktu
ujaran diucapkan pada tanggal 27 Desember 2014, sedangkan peristiwa konferensi
Internasional PBB baru akan diselenggarakan bulan Maret tahun depan. Ditandai dengan
verba (masu) pada kaisai shimasu. Pada kalimat (6) ditemukan artikel kompas.com yang
mempunyai makna leksikal yang sama dengan artikel Jakarta Shimbun.
d.
Menyatakan kala lampau
(7)
Jakarta Shimbun edisi tanggal 27 Desember 2014, paragraf 5.
その1人のベチャ(サイドカー付きオートバイ)運転手ラシディン・アブドゥ
ラさん(62)は津波で妻と3人の娘、1人の息子を亡くした
Sono hitori no Becha (saido kaa tsuki ootobai) untenshu Rashidin Abudura san (62) wa
tsunami de tsuma to 3 nin no museme, hitori no musuko o nakushita.
Rasidin Abdullah (62) seorang supir becak (kendaraan bermotor termasuk side car)
seorang diri kehilangan seorang anak laki-laki, 3 orang anak perempuan dan istri.
(8)
bbc.com edisi tanggal 26 Desember 2014, paragraf 2.
Lebih dari 200.000 orang tewas ketika gempa bumi dan tsunami menerjang pada 26
Desember 2004.
Pada kalimat (7) verba nakushita, dan kalimat (8) keterangan 26 Desember 2004,
menyatakan bentuk kala lampau, sesuai pendapat Katou (198934) apabila peristiwa
atau keadaan tersebut terjadi sebelum waktu ujaran, maka kala ujaran tersebut disebut
kala lampau. Pada kalimat (7) waktu ujaran diucapkan pada tanggal 27 Desember 2014,
sedangkan peristiwa kehilangan anak dan istrinya telah terjadi pada tanggal 26 Desember
2004, 10 tahun yang lalu. Ditandai dengan verba (ta) pada nakushita. Pada kalimat (8)
waktu ujaran diucapkan pada tanggal 26 Desember 2014, peristiwa gempa bumi dan
tsunami telah terjadi pada tanggal 26 Desember 2004. Hal ini ditandai dengan verba 26
Desember 2004. Dapat diketahui walaupun secara leksikal mempunyai tanda yang sama
dari keterangan waktu tetapi dalam bahasa Indonesia verba tidak dipengaruhi oleh
perubahan waktu. Selain itu perbedaannya bahwa bahasa Indonesia tidak mengenal
sistem kala. Sesuai dengan pendapat Hopper dalam Djajasudarma (1999 : 22) bahasa
Indonesia tidak mempunyai sistem kala. Karena tidak memiliki kala, untuk menyatakan
kala lampau maka menggunakan kategori temporal yang dinyatakan dengan 26 Desember
2004 .
Yanti Hidayati
Kala dan Aspek dalam Bahasa Jepang dengan Bahasa Indonesia (Kajian Linguistik
Kontrastif)
9
Aspek
a.
Menyatakan Kanryosou atau aspek selesai
(9)
Jakarta Shimbun edisi tanggal 27 Desember 2014, paragraf 10.
研修を終
たバ
ンダア
チェ市職員が中心
って生ご
みを養殖
ナマズのえさや
堆 肥
Kenshuu
o oeta Banda Ache Shi shokuin ga chuushin to natte nama gomi o youshoku
namazu no esa ya taihi ni suru risaikuru o jissen shite iru.
“Setelah menyelesaikan pelatihan akan mempraktikan daur ulang pupuk kompos,
budidaya sampah dapur, pakan ternak ikan limbat yang menjadi fokus para pekerja kota
Banda Aceh.”
(10)
kompas.com edisi tanggal 26 Desember 2014 pukul 13 : 47, paragraf 3.
"Kami sangat senang jika berbagai bantuan dan kerjasama dari Jepang telah turut
berperan dalam memulihkan kehidupan masyarakat setempat," kata Shinzo melalui siaran
pers yang diterima, Jumat.
Pada kalimat (9) verba oeta bermakna telah selesai pelatihan. Berasal dari verba
bentuk kamus oeru yang berarti selesai, menyelesaikan, mengakhiri, dan menyudahi
(Matsuura, 1994 : 751). Verba oeta merupakan verba yang menyatakan peristiwa atau
keadaan dengan morfem (ta), menurut (Inoue, 1976: 6) termasuk aspek Kanryosou atau
aspek selesai. Dalam bahasa Indonesia aspek kanryosou atau aspek selesai dinyatakan
pada kalimat (10) verba telah turut berperan. Seperti pemaparan Djajasudarma (1999: 26)
kalimat (10) dalam kategori aspek bahasa Indonesia termasuk aspek perfektif, yaitu aspek
yang menyatakan perbuatan sudah selesai. Ditandai dengan menggunakan unsur leksikal
sudah dan telah. Dapat diketahui walaupun memiliki kesamaan leksikal dalam
menyatakan aspek selesai tetapi dalam bahasa Jepang untuk menyatakan aspek selesai
dibutuhkan verba yang menyatakan peristiwa atau keadaan diikuti oleh morfem (ta).
b.
Menyatakan Joutaisou atau aspek keadaan
(10)
Jakarta Shimbun edisi tanggal 27 Desember 2014, paragraf 10.
バンダアチェ市と東松島市は研修生の派遣などで協力を深めている
Banda
Ache Shi to higashi Matsushima wa kenshuusei no haken nado kyouryoku o
fukamete iru.
“Kota Banda Aceh dan Kota Matsushima bagian timur menjalin erat kerjasama
pengiriman traine dan sebagainya. “
(11)
republika.co.id edisi tanggal 27 Desember 2014 pukul 07 : 15, paragraf 2.
Di Jayapura, Pemda dan rakyat sedang mempersiapkan perayaan Natal malam
itu bersama Presiden SBY, yang akan menampilkan penyanyi cilik Papua yang
menakjubkan.
Yanti Hidayati
Kala dan Aspek dalam Bahasa Jepang dengan Bahasa Indonesia (Kajian Linguistik
Kontrastif)
10
Pada kalimat (11) verba fukamete iru bermakna secara harfiah sedang memperdalam.
Berasal dari verba bentuk kamus fukameru yang berarti memperdalam (Matsuura, 1994 :
175). Verba fukamete iru merupakan verba yang menyatakan peristiwa atau keadaan yang
kontinyu dengan morfem rangkap (te iru), menurut (Inoue, 1976: 6) termasuk aspek
joutaisou atau aspek keadaan. Dalam bahasa Indonesia aspek joutaisou atau aspek
keadaan dinyatakan pada kalimat (12) verba sedang mempersiapkan. Seperti pemaparan
Djajasudarma (1999: 26) kalimat (12) dalam kategori aspek bahasa Indonesia termasuk
aspek progresif, yaitu menyatakan perbuatan sedang berlangsung. Ditandai dengan
menggunakan unsur leksikal sedang. Dapat diketahui walaupun memiliki kesamaan
leksikal dalam menyatakan aspek sedang tetapi dalam bahasa Jepang untuk menyatakan
aspek sedang dibutuhkan verba yang menyatakan peristiwa atau keadaan diikuti oleh
morfem rangkap (te iru).
c.
Menyatakan Shinkousou atau aspek sedang berlangsung
(12)
Jakarta Shimbun edisi tanggal 27 Desember 2014, paragraf 11.
...
2階ではアチェや東北の被災地の写真などを展示し、被害と復興を伝えて
いる
...Ni kai dewa Ache ya touhoku no hisai chi no shashin nado o tenji shi, higai to fukkou o
tsutaete iru.
“...Di lantai dua (Tsuruoka) sedang menyampaikan rekonstruksi dan kerugian, serta
memamerkan foto-foto tempat terjadinya bencana di wilayah timur laut.”
(13)
republika.co.id edisi tanggal 27 Desember 2014 pukul 07 : 15, paragraf 19. Begitu
kembali ke Jakarta, Presiden segera menggelar rapat Kabinet darurat ...: mengirim
bantuan TNI dan Polri untuk ..., dan ...; mengirim BBM, makanan dan air bersih;
menghidupkan kembali listrik dan jalur telepon; menentukan jumlah tenda yang
dibutuhkan untuk pengungsian; mengirim dokter tambahan; .. dan lain sebagainya.
Pada kalimat (13) verba tsutaete iru bermakna sedang menyampaikan. Berasal dari
verba bentuk kamus tsutaeru yang berarti menyampaikan, memperkenalkan, dan
mewariskan (Matsuura, 1994 : 1125). Verba tsutaete iru merupakan verba yang
menyatakan peristiwa atau keadaan yang kontinyu dengan morfem rangkap (te iru),
menurut (Inoue, 1976: 6) termasuk aspek shinkousou atau aspek sedang berlangsung.
Dalam bahasa Indonesia aspek shinkousou atau aspek sedang berlangsung dinyatakan
pada kalimat (14) verba menggelar, mengirim, menentukan, dan menghidupkan. Seperti
pemaparan Djajasudarma (1999: 26) kalimat (14) dalam kategori aspek bahasa Indonesia
termasuk aspek imperfektif, yaitu aspek yang menyatakan perbuatan berlangsung sebentar.
Ditandai verba berafiks meN-. Dapat diketahui walaupun memiliki kesamaan leksikal
dalam menyatakan aspek sedang tetapi dalam bahasa Jepang untuk menyatakan aspek
sedang dibutuhkan verba yang menyatakan peristiwa atau keadaan diikuti oleh morfem
rangkap (te iru). Dan dalam bahasa Indonesia verbanya ditandai dengan afiks meN-.
Yanti Hidayati
Kala dan Aspek dalam Bahasa Jepang dengan Bahasa Indonesia (Kajian Linguistik
Kontrastif)
11
d.
Menyatakan Keizokusou atau aspek terus-menerus
(14)
Jakarta Shimbun edisi tanggal 27 Desember 2014, paragraf 10.
研修を終
たバ
ンダア
チェ市職員が中心
って生ご
みを養殖
ナマズのえさや
Kenshuu o oeta Banda Ache Shi shokuin ga chuushin to natte nama gomi o youshoku
namazu no esa ya taihi ni suru risaikuru o jissen shite iru.
“Selesai berlatih akan mempraktikan daur ulang pupuk kompos, budidaya sampah
dapur, pakan ternak ikan limbat menjadi fokus para pekerja kota Banda Aceh.”
(15)
republika.co.id edisi tanggal 27 Desember 2014 pukul 07 : 15, paragraf 4.
Namun Presiden SBY tidak mau berasumsi tanpa dasar dan meminta agar berita ini di
cek dan ricek terus.
Pada kalimat (14) verba jissen shite iru bermakna peristiwa atau keadaan praktik
yang sudah dimulai dan masih berlangsung. Berasal dari verba bentuk kamus jissen
suru yang berarti praktik, mempraktikkan (Matsuura, 1994 : 369). Verba jissen suru
merupakan verba yang menyatakan peristiwa atau keadaan yang sudah mulai dan masih
berlangsung dengan morfem rangkap (te iru), menurut (Inoue, 1976: 6) termasuk aspek
keizokusou atau aspek terus-menerus. Dalam bahasa Indonesia aspek Keizokusou atau
aspek terus-menerus dinyatakan pada kalimat (15) verba ricek terus. Seperti pemaparan
Djajasudarma (1999: 26) kalimat (15) dalam kategori aspek bahasa Indonesia termasuk
aspek kontinuatif, yaitu aspek yang menyatakan perbuatan terus berlangsung. Ditandai
dengan unsur leksikal terus, selalu, atau verba yang menggunakan sufiks i. Dapat
diketahui walaupun memiliki kesamaan leksikal dalam menyatakan aspek terus menerus
bahasa Jepang menggunakan verba diikuti oleh morfem rangkap (te iru). Dan dalam
bahasa Indonesia verbanya ditandai dengan sufiks i.
KESIMPULAN
Penggunaan kala pada media online berbahasa Jepang ditemukan kala sekarang
ditandai verba kasanu awaserareru. Kala masa depan ditandai verba mukaeru. Kala
melewati batas ditandai verba kaisai shimasu. Dan kala lampau ditandai verba nakushita.
Sedangkan penggunaan kala pada media online berbahasa Indonesia dapat diketahui
perbedaannya bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang tidak mengenal sistem kala.
Untuk menyatakan menggunakan kategori temporal yang dinyatakan dengan Kamis ini,
25 Desember 2014 dan nomina temporal akan. Kala masa depan menggunakan kategori
temporal yang dinyatakan dengan nomina temporal nanti dan akan. Dan bentuk kala
lampau dinyatakan dengan keterangan 26 Desember 2004 .
Penggunaan aspek pada media online berbahasa Jepang ditemukan aspek Kanryosou
ditandai verba oeta diikuti oleh morfem (ta). Dalam bahasa Indonesia termasuk aspek
perfektif dinyatakan dengan verba turut berperan. Dan ditandai dengan kata telah. Aspek
joutaisou ditandai dengan verba fukamete iru diikuti morfem rangkap (te iru). Dalam
bahasa Indonesia termasuk aspek progresif ditandai dengan menggunakan unsur leksikal
Yanti Hidayati
Kala dan Aspek dalam Bahasa Jepang dengan Bahasa Indonesia (Kajian Linguistik
Kontrastif)
12
sedang. Aspek shinkousou ditandai verba tsutaete iru diikuti morfem rangkap (te iru).
Dalam bahasa Indonesia termasuk imperfektif dinyatakan dengan verba menggelar,
mengirim, menentukan, dan menghidupkan. Aspek keizokusou ditandai dengan verba
jissen shite diikuti morfem rangkap (te iru). Dalam bahasa Indonesia termasuk
kontinuatif dinyatakan dengan verba ricek terus. Ditandai dengan unsur leksikal terus,
selalu, atau verba yang menggunakan sufiks i.
Yanti Hidayati
Kala dan Aspek dalam Bahasa Jepang dengan Bahasa Indonesia (Kajian Linguistik
Kontrastif)
13
REFERENSI
Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta : Rineka Cipta.
Djajasudarma, Fatimah. 1999. Semantik 2 Pemahaman Ilmu Makna. Bandung: PT.
Refika Aditama.
Inoue, K. 1976. Henkei Bunpo to Nihongo Ue. Tokyo: Taishuukan
Katou, Yasuhiko dan Fukuchi Tsutomu. 1989. Tensu, Asupekuto, Muudo. Tokyo :
Aratake Shuppan.
Nazir, Moh. 2011. Metode Penelitian. Bogor : Ghalia Indonesia.
Parera, J D. 1997. Linguistik Edukasional Metodologi Pembelajaran Bahasa Analisis
Kontrastif Antar Bahasa Analisis Kesalahan Berbahasa. Jakarta : Erlangga.
Samsuri. 1985. Analisis Bahasa. Jakarta : Erlangga
Sutedi, Dedi. 2010. Dasar-dasar Linguistik Bahasa Jepang. Bandung : Humaniora.
Rujukan Media :
http://www.sankei.com/world/news/141223/wor1412230070-n1.html Diakses
pada tanggal 1
Januari 2016 kolom 1 pukul 00 : 45, kolom 2 pukul 00 : 46.
http://www.jakartashimbun.com/free/detail/22277.html Diakses pada tanggal
31 Desember 2015 Pukul 17 :
44.
http://www.jakartashimbun.com/free/detail/22308.html Diakses pada tanggal 1 Januari
Pukul 00 : 07.
http://digital.asahi.com/articles/ASGDS7V38GDSUHBI01X.html?_requesturl=articles
%2FASGDS7V38GDSUHBI01X.html&rm=424 Diakses pada tanggal 1 Januari 2016
pukul 00 : 23.
http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/12/27/nh7sp7-artikel-dino-
patti- djalal-tentang-sby-dan-tsunami-aceh Diakses pada tanggal 1 Januari 2016 Pukul
00 : 21.
Yanti Hidayati
Kala dan Aspek dalam Bahasa Jepang dengan Bahasa Indonesia (Kajian Linguistik
Kontrastif)
14
http://nasional.kompas.com/read/2014/12/26/13470591/Peringatan.10.Tahun.Tsunami.
Aceh.Perdana.Menteri.Jepang.Ucapkan.Duka.Cita Diakses pada tanggal 1 Januari Pukul
00 : 01.
http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2014/12/141225_tsunami_samudraindia. Diakses
pada tanggal 31 Desember 2015 Pukul 17 : 41.