NIJI
Jurnal Kajian Sastra, Budaya, Pendidikan dan Bahasa Jepang
Vol. 1, No. 1, Januari 2019, p-ISSN 2355-889X
https://doi.org/10.18510/jt.2021.xxx
DIKSI DAN GAYA BAHASA DALAM PIDATO SUSILO BAMBANG
YUDHOYONO (Kajian Stilistika)
Nurlela
Institut Pendidikan dan Bahasa (IPB) Invada Cirebon
Abstrak
Penelitian ini mendeskripsikan tentang diksi dan gaya bahasa yang digunakan Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pidato mengenai demo 4 november. Rumusan
masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana penggunaan diksi dan
gaya bahasa dalam teks pidato SBY. Penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif yang
menggunakan tiga strategi, yaitu pengumpulan data, analisis data, dan penyajian hasil
analisis data. Pengumpulan data dilakukan dengan metode simak dan introspeksi. Sumber
data berasal dari internet. Analisis data dilakukan dengan metode padan, sedangkan
penyajian hasil analisis data ditampilkan dalam bentuk informal. Dari data yang
dikumpulkan terdapat terdapat dua puluh empat diksi dan tiga puluh enam gaya bahasa.
Pada bagian diksi, terbagi menjadi dua diksi konotatif, satu diksi denotatif, satu diksi
indria, enam diksi kedaerahan, tiga diksi ilmiah, satu diksi popular, empat diksi khusus,
satu diksi umum, empat diksi abstrak, dan satu diksi konkret. Lalu, pada bagian gaya
bahasa terbagi menjadi sembilan gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat dan dua puluh
tujuh gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna. Berdasarkan struktur
kalimatnya ditemukan dua kalimat yang menggunakan gaya bahasa paralelisme dan tujuh
kalimat menggunakan gaya bahasa repetisi. Berdasarkan langsung tidaknya makna,
ditemukan enam kalimat yang menggunakan gaya bahasa aliterasi, dua kalimat yang
menggunakan gaya bahasa erotesis, enam kalimat menggunakan hiperbola, sembilan
kalimat menggunakan metafora, dua kalimat menggunakan personifikasi, dan dua
kalimat menggunakan gaya bahasa antonomasia. Kesimpulan dari penelitian ini adalah
dalam berpidato, SBY banyak menggunakan diksi-diksi dan gaya bahasa.
Kata kunci: diksi, gaya bahasa, SBY, pidato
http://jurnal.stibainvada.ac.id/
21
Nurlela
Diksi dan Gaya Bahasa dalam Pidato Susilo Bambang Yudhoyono (Kajian Stilistika)
22
PENDAHULUAN
Kajian stilistika akan selalu terkait dengan bahasa secara menyeluruh terhadap sastra
khususnya, meskipun sebenarnya stilistika dapat ditujukan pada beberapa ragam
penggunaan bahasa yang tidak terbatas pada sastra saja. Pengkajian terhadap stilistika
akan membantu pemahaman terhadap karya sastra sekaligus menyadarkan bahwa
pengarang dalam memanfaatkan bahasa sebagai sarana mengungkapkan makna.
Salah satu kajian stilistika yang digunakan adalah pidato. Pidato adalah salah satu
cara seseorang dalam mengungkapkan ide, mengajak dan mempengaruhi seseorang.
Seorang pidato yang baik akan mampu menyakini pendengarnya untuk menerima dan
mematuhi pikiran, informasi dan gagasan atau pesan yang disampaikannya. Salah satu
aspek yang menentukan keberhasilan dalam pidato adalah adanya diksi dan retorika.
Retorika adalah teknik pemakaian bahasa sebagai seni yang didasarkan pada pengetahuan
yang tersusun dengan baik (Keraf, 2009). Bagian yang terpenting dalam retorika adalah
gaya bahasa. Gaya bahasa yang menarik menyebabkan proses komunikasi berjalan
lancar, begitu juga dengan pidato yang dibawakan oleh Susilo Bambang Yudhoyono
(SBY) mengenai demo 4 November pun tidak terlepas dengan adanya diksi dan gaya
bahasa yang digunakannya sehingga kata-kata yang diucapkan dan disampaikan adalah
kata-kata yang tersusun rapih dan indah.
Rumusan Masalah
a. Bagaimana penggunaan diksi dalam teks pidato Susilo Bambang Yudhoyono?
b. Bagaimana p e n g g u n a a n g a y a b a h a s a d a l a m t e k s p i d a t o
S u s i l o B a m b a n g Yudhoyono?
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan diksi dalam pidato
Susilo Bambang Yudhoyono dan mendeskripsikan penggunaan gaya bahasa dalam pidato
Susilo Bambang Yudhoyono. Penelitian ini hanya membahas satu pidato saja. Selain itu,
pembahasan hanya akan berfokus pada diksi dan gaya bahasanya saja berdasarkan buku
Keraf (2009). Jenis gaya bahasa yang akan difokuskan dalam penelitian ini adalah gaya
bahasa dari segi bahasa, bukan segi nonbahasa. Lalu, memfokuskan lagi menjadi tiga
bagian, yaitu gaya bahasa berdasarkan pilihan kata, gaya bahasa berdasarkan struktur
kalimat, dan gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna.
Teori diksi dan gaya bahasa yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari
Keraf (2009), Baldic (2001), dan Nurgiyantoro (2014). Diksi atau pilihan kata adalah
kata-kata mana yang akan dipakai untuk menyampaikan gagasan, mengelompokkan kata-
kata atau ungkapan-ungkapan yang tepat, dan gaya mana yang digunakan dalam situasi
Nurlela
Diksi Dan Gaya Bahasa Dalam Pidato Susilo Bambang Yudhoyono (Kajian Stilistika)
23
tertentu (keraf, 2009). Menurut Keraf diksi dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu: diksi
konotatif, denotatif, indria, kedaerahan, ilmiah, popular, khusus, umum, abstrak, dan
konkret. Kemudian, pada bagian gaya bahasa, terbagi menjadi dua macam, yaitu 1) gaya
bahasa berdasarkan struktur kalimat yang terdiri dari paralelisme dan repetisi, 2) gaya
bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna yang terdiri dari aliterasi, erotesis atau
pertanyaan retorika, hiperbola, metafora, personifikasi, dan antonomasia.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif,
yaitu penelitian yang dilakukan semata-mata hanya berdasarkan pada fakta kebahasaan
yang ada atau fenomena-fenomena yang memang secara empirirs hidup pada penuturnya
(Sudaryanto, 1988). Metode penelitian ini menggunakan tiga macam metode, yaitu
metode pengumpulan data, metode analisis data, dan metode penyajian hasil analisis data.
Sumber data dalam penelitian ini adalah pidato Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
mengenai demo 4 November, data diperoleh dari situs https://news.detik.com/berita/d-
3335516/ini-pidato-lengkap-sby-tentang-demo-4-november-dan-kondisi-terkini.
Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara metode simak dan metode
introspeksi. Metode simak adalah menyimak penggunaan bahasa (sudaryanto, 1988).
Sedangkan metode introspeksi, yaitu upaya melibatkan sepenuhnya peran peneliti sebagai
penutur bahasa tanpa menghilangkan peran kepenelitian itu (Mahsun, 2005). Dalam hal
ini, peneliti menyimak setiap kalimat yang digunakan dalam pidato SBY dan apabila ada
hal yang tidak dipahami peneliti menggunakan intuisinya untuk mencari kata tersebut.
Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik catat, yaitu dengan
menandai semua diksi-diksi dan gaya bahasa yang digunakan dalam pidato SBY. Metode
analisis data yang digunakan adalah metode padan atau identitas. Terakhir, metode
penyajian hasil analisis data dilakukan dengan metode informal, yaitu penyajian
berdasarkan kata-kata atau kalimat-kalimat.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Diksi Dan Gaya Bahasa Dalam Pidato Susilo Bambang Yudhoyono
Dibawah ini akan diuraikan hasil temuan-temuan dari teks pidato SBY mengenai
demo 4 November 2016. Berikut adalah uraiannya.
1. Diksi
Berdasarkan data yang diamati, terdapat dua puluh empat diksi yang terbagi menjadi
Nurlela
Diksi Dan Gaya Bahasa Dalam Pidato Susilo Bambang Yudhoyono (Kajian Stilistika)
24
dua diksi konotatif, satu diksi denotatif, satu diksi indria, enam diksi kedaerahan, tiga
diksi ilmiah, satu diksi popular, empat diksi khusus, satu diksi umum, empat diksi abstrak,
dan satu diksi konkret. Berikut ini adalah uraiannya.
a. Diksi Konotatif
Adalah suatu jenis makna kata yang mengandung arti tambahan, imajinasi atau
nilai rasa tertentu. Konotasi merupakan kesan-kesan atau asosiasi-asosiasi, dan
biasanya bersifat emosional yang ditimbulkan oleh sebuah kata di samping batasan
kamus atau definisi utamanya. Konotasi mengacu pada makna kias atau makna bukan
sebenarnya.
Contoh:
(1)
Tim pemenangan Agus Sylvi itu terdiri dari sekian belas parpol, baik yang
memiliki kursi di DPR maupun yang tidak dan juga sejumlah komponen non
parpol termasuk unsur relawan dan simpatisan
(2)
Intelijen dulu juga tidak mudah melaporkan kepada saya sesuatu yang tidak
akurat. Saya senang polisi dan jajaran aparat keamanan juga tidak main
tangkap apalagi main tembak.
Pada contoh (1) kata kursi merupakan diksi konotatif karena memiliki makna kias.
Kursi yang dimaksud diatas bukanlah kursi yang berarti tempat duduk, namun kursi
yang mempunyai arti jabatan atau posisi. Kata kursi digunakan dalam kalimat tersebut
karena sebagian besar pendengarnya adalah orang-orang yang mempunyai jabatan
sekaligus menguatkan bahwa tim pemenangan Agus-Sylvi adalah berkat kerjasama
dari parpol dan nonparpol. Sedangkan pada contoh (2) terdapat kata main. Kata
main ini melahirkan intrepretasi dari makna yang sebenarnya. Dalam ungkapan
diatas pembicara mengungkapkan rasa senangnya bahwa polisi menjalankan
tugasnya sesuai dengan porsinya, yaitu tidak menggunakan jabatan dan senjata
secara semena- mena.
b. Diksi Denotatif
Adalah konsep dasar yang di dukung oleh suatu makna (makna itu merujuk pada
konsep, referen, atau ide). Denotasi juga merupakan batasan kamus atau definisi
utama suatu kata, sebagai lawan dari konotasi. Denotasi mengacu pada makna yang
sebenarnya.
Contoh :
(3)
Saudara-saudara sekarang saya menyampaikan pandangan sikap dan
rekomendasi Partai Demokrat, bagaimana sebaiknya kita semua menyikapi
Nurlela
Diksi Dan Gaya Bahasa Dalam Pidato Susilo Bambang Yudhoyono (Kajian Stilistika)
25
rencana gerakan unjuk rasa 4 November mendatang.
Pada kalimat (3) terdapat makna denotaasi yaitu Partai Demokrat dan unjuk rasa
4 November yang menyakinkan pembicara bahwa yang sedang berbicara adalah
berasal dari Partai Demokrat dan sedang mempengaruhi pendengar agar menyikapi
unjuk rasa 4 November dengan bijaksana.
c. Diksi Indria
Adalah penggunaan istilah-istilah yang menyatakan pengalaman-pengalaman
yang diserap oleh pancaindera, seperti penglihatan, pendengaran, peraba, perasa,
dan penciuman.
Contoh:
(4)
Kita ini sering gaduh, grusa-grusu, panik dan bertindak reaktif dan tak
menentu. Sibuk tapi valuenya tidak ada, kita sering tidak tidur untuk
melakukan banyak hal, untuk mengatasi masalah.
Kata gaduh merupakan bagian dari diksi indria yang pendengaran. Pembicara
mencoba mempengaruhi pendengar agar sebelum bertindak harus dipikirkan terlebih
dahulu.
d. Diksi Kedaerahan
Contoh:
(5)
Saya kumpulkan keterangan, saya korek apa yang ada dalam pikiran
penyelenggara negara, jajaran pemerintahan, beliau-beliau yang mengemban
amanah, baru saya bicara
(6)
Kita ini sering gaduh, grusa-grusu, panik dan bertindak reaktif dan tak
menentu.
(7)
Yang terpikir barangkali yang dilaksanakan barangkali bagaimanapun unjuk
rasa harus kita cegah, harus kita gembosi, sekat tutup di luar Jakarta, jangan
sampai ada yang masuk dari daerah-daerah yang lain dari provinsi yang lain.
(8)
Wong Pak Ahok ini sedang jadi cagub, kok tiba-tiba harus dilakukan proses
hukum, berarti ada politiknya, berarti tidak fair, berarti mengganggu Beliau
untuk menjalankan tugas sebagai cagub.
(9)
Kalau mengganggap yang dilaksanakan oleh para penegak hukum di era saya
dulu belum rampung harus diteruskan, dilanjutkan, sepenuhnya hak Beliau.
(10)
Teman-teman, saya hari ini bicara blak-blakan, karena saya tidak ingin ada
dusta diantara kita.
Dalam kalimat di atas terdapat beberapa kosakata bahasa Jawa, yaitu korek,
grusa-grusu, gembosi, wong, rampung, dan blak-blakan. Pernyataan-pernyataan di
Nurlela
Diksi Dan Gaya Bahasa Dalam Pidato Susilo Bambang Yudhoyono (Kajian Stilistika)
26
atas digunakan agar memperkuat pesan yang ingin disampaikan dalam
ucapannya.
e. Diksi Ilmiah
Adalah kata yang dipakai oleh kaum terpelajar, terutama dalam tulisan-tulisan
ilmiah.
Contoh:
(11)
Apalagi yang bisa anarkis, tetapi masalah selesai sepanjang masalah itu bisa
diselesaikan. Itu yang terbaik nilainya 100, A+.
(12)
Mudah-mudahan mimpi saya tidak dilaporkan ke Presiden Jokowi.
Misalnya mimpi SBY mengganggu stabilitas nasional. Siapapun rakyat
kebanyakan, termasuk saya jika difitnah oleh televisi dan pelaku sosmed
melanggar hukum dan etika itu juga mendapatkan perlakuan yang sama,
teduh.
(13)
Intelijen harus akurat, jangan berkembang menjadi intelijen yang ngawur
dan main tuduh.
Kata anarkis, stabilitas, dan akurat merupakan kata-kata ilmiah. Kata-kata itu
digunakan dalam pidato SBY dikarenakan sebagian pendengar adalah orang-orang
yang mempunyai jabatan sehingga dapat meninggikan status sosial baik pembicara
maupun pendengarnya.
f. Diksi popular
Adalah kata-kata yang umum dipakai oleh semua lapisan masyarakat, baik oleh
kaum terpelajar oleh orang kebanyakan.
Contoh:
(14)
Unjuk rasa di negeri ini, unjuk rasa di sebuah negara demokrasi yang tertib
adalah ya unjuk rasa yang damai, yang tertib, sesuai aturan, dan tidak
merusak. kalau unjuk rasa destruktif, menangis kita semua.
Kata sesuai termasuk kata yang popular sehingga mudah dipahami masyarakat
atau pendengar. Dalam kalimat ini, pembicara mengizinkan adanya unjuk rasa dan
mempengaruhi pendengar bahwa syarat unjuk rasa yang dilakukan adalah unjuk rasa
yang positif yang sesuai aturan.
g. Diksi Khusus
Adalah kata yang mengacu pada pengarahan-pengarahan yang khusus dan
konkret.
Contoh:
(15)
Saya juga setuju saya juga menyerukan hingga hari ini dan akan terus
Nurlela
Diksi Dan Gaya Bahasa Dalam Pidato Susilo Bambang Yudhoyono (Kajian Stilistika)
27
menyerukan, setiap orang memiliki hak politik. Itu dijamin oleh konstitusi
untuk menyampaikan pandangannya, pikirannya, bahkan protes-protesnya,
dan dalam terminologi politik itu disebut unjuk rasa asalkan sekali lagi
tertib, damai, tidak melanggar aturan dan tidak merusak.
(16)
Kami generasi yang lebih tua, ingat dulu peristiwa tahun 1966 yang
melibatkan mahasiwa UI tahun 1998 yang melibatkan mahasiswa Trisaksti
gara-gara main tembak terjadilah prahara maha besar yang mengubah
sejarah di negeri kita ini.
(17)
Kalau tidak puas ada aturan mainnya, bisa naik banding, sampai ke kasasi,
PK, ada aturannya.
(18)
Dan kalau ada proses penegakan hukum menurut pandangan saya, Pak Ahok
tidak kehilangan statusnya untuk juga menjalankan kampanye menghadapi
pemilihan gubernur DKI Jakarta yang pemungutan suara akan dilakukan
pada 15 Februari 2017 mendatang.
Pada contoh (15) kata menyerukan mempunyai kata yang lebih umum yaitu
mengucapkan memberitahukan, mengumumkan (KBBI Online). Kata menyerukan
digunakan untuk meyakinkan pendengar bahwa mereka mempunyai hak politik untuk
menyampaikan aspirasinya. Kata prahara pada contoh (16) mempunyai kata yang
lebih umum, yaitu hal atau masalah. Kata ini digunakan karena pembicara ingin
pendegar mengingat kembali peristiwa Trisakti. Dalam contoh ini juga, pembicara
ingin mempengaruhi pendengar agar unjuk rasa kali ini jangan sampai terulang lagi.
Pada contoh (17) kasasi hanya digunakan dalam dunia hukum. Sedangkan kata
pemungutan pada contoh (18) mempunyai kata umum pengambilan. Kata ini
digunakan untuk menekankan apa yang ingin disampaikan oleh pembicara.
h. Diksi Umum
Adalah kata yang mempunyai cakupan ruang lingkup yang luas. Kata-kata umum
menunjuk pada banyak hal, kepada himpunan, dan kepada keseluruhan.
Contoh:
(19)
Intelijen dulu juga tidak mudah melaporkan kepada saya sesuatu yang
tidak akurat. Saya senang polisi dan jajaran aparat keamanan juga tidak
main tangkap apalagi main tembak.
Pada contoh (19) frasa aparat keamanan masih bersifat umum, karena masih ada
kata khususnya, yaitu TNI, POLRI, dan lainnya.
i. Diksi Abstrak
Adalah kata yang mempunyai referen berupa konsep. Kata abstrak sukar
Nurlela
Diksi Dan Gaya Bahasa Dalam Pidato Susilo Bambang Yudhoyono (Kajian Stilistika)
28
digambarkan karena refernsina tidak dapat diserap dengan panca indera manusia.
Kata-kata abstrak merujuk pada kualitas (panas, dingin, baik, buruk), pertalian
(kuantitas, jumlah tingkatan), dan pemikiran (kecurigaan, penetatapan, kepercayaan).
Contoh:
(20)
Jadi kalau ingin negara kita ini tidak terbakar oleh amarah para penuntut
keadilan, jangan salah kutip, negara ini tidak terbakar oleh amarah para
penuntut keadilan.
(21)
Jika proses penegakan hukum berjalan benar, fair, transparan, dan adil tidak
direkayasa, rakyat harus menerima apapun hasilnya.
(22)
Tiga pasangan calon itu harus tetap diberikan kesempatan yang sama untuk
mengikuti kampanye ini. Biar ketiganya berkompetisi secara fair dan
demokratis. Nanti rakyat Jakarta yang akan menentukan siapa yang menurut
mereka paling tepat memimpin Jakarta 5 tahun mendatang, hak rakyat
kedaulatan rakyat.
(23)
Justice for all, tidak tebang pilih, karena keadilan bukan hanya monopoli
yang memegang kekuasaan, termasuk saudara kita yang tidak bisa membayar
pengacara, yang tidak berani melapor ke polisi.
(24)
Dari kata-kata pada contoh (20) sampai (23) merupakan kata-kata yang abstrak
karena tidak dapat lihat tetapi dapat dirasakan.
j. Diksi Konkret
Adalah kata yang menunjuk pada sesuatu yang dapat dilihat atau dirasakan oleh
satu atau lebih dari pancaindera. Kata-kata konkret menunjuk pada barang yang aktual
dan spesifik dalam pengalaman. Kata konkret digunakan unttuk menyajikan
gambaran yang hidup dalam pikiran pembaca melebihi kata-kata yang lain.
Contoh:
(25)
Topik utamanya jelas adalah situasi politik terkini, utamanya berkaitan
dengan yang saudara liput dan beritakan hampir setiap hari, hampir setiap
jam.
Kata saudara termasuk ke dalam kata konkret karena saudara yang dimaksud
adalah pendengar yang merupakan makhluk hidup yang dapat disentuh dan dilihat.
2. Gaya Bahasa
Gaya bahasa dalam pembahasan ini terbagi menjadi dua, yaitu gaya bahasa
berdasarkan struktur kalimat dan gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna.
Berdasarkan data yang diamati, ditemukan tiga puluh enam gaya bahasa. Gaya bahasa
tersebut terbagi menjadi sembilan gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat dan dua
Nurlela
Diksi Dan Gaya Bahasa Dalam Pidato Susilo Bambang Yudhoyono (Kajian Stilistika)
29
puluh tujuh gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna.
a. Gaya Bahasa Berdasarkan Struktur Kalimat
Berdasarkan struktur kalimatnya, ditemukan dua gaya bahasa, yaitu gaya bahasa
paralelisme dan repetisi. Pada pidato SBY tersebut ditemukan dua kalimat yang
menggunakan gaya bahasa paralelisme dan tujuh kalimat menggunakan gaya bahasa
repetisi. Dibawah ini adalah uraiannya.
1)
Paralelisme
Adalah sebuah teknik berbicara, bertutur, atau berekspresi yang banyak
dipakai dalam ragam bahasa. Baldic (2001) mengatakan bahwa paralelisme
adalah struktur yang memiliki kemiripan yang data berupa klausa, kalimat, dan
larik-larik yang saling berhubungan atau berkaitan.
Contoh:
(1)
…Tetapi harus ingat bagi siapapun, unjuk rasa itu bukan kejahatan
politik. Unjuk rasa bukan kejahatan politik. Unjuk rasa bagian dari
demokrasi, asalkan tidak anarkis.
(2)
Mari kita bikin mudah urusan ini, jangan dipersulit. Sekali lagi
mari kita bikin mudah. Mari kita kembali ke kuliah manajemen dan
metode pemecahan persoalan.
Pada contoh di atas terdapat pengulangan berupa kata-kata unjuk rasa yang
berfungsi untuk menekankan pada pendengar bahwa unjuk rasa bukanlah
kejahatan. Sedangkan pada contoh (2) terdapat pengulangan mari kita yang
bertujuan untuk mengajak pendengar agar kembali pada sistem atau aturan yang
benar.
2)
Repetisi
Adalah perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang
dianggap penting untuk member tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai
(keraf, 2009). Contoh:
(3)
Yang terpikir barangkali yang dilaksanakan barangkali bagaimanapun
unjuk rasa harus kita cegah, harus kita gembosi, sekat tutup di luar
Jakarta, jangan sampai ada yang masuk dari daerah-daerah yang lain dari
provinsi yang lain.
(4)
Tolong dicatat apa temanya, apa tuntutannya, barangkali ada yang perlu
kita jadikan masukan, umpan balik dan pertimbangan untuk
mengambil keputusan, menetapkan kebijakan dan mengatasi masalah
Nurlela
Diksi Dan Gaya Bahasa Dalam Pidato Susilo Bambang Yudhoyono (Kajian Stilistika)
30
pada tingkat nasional.
(5)
Menuduh seseorang, menuduh sebuah kalangan, menuduh sebuah
parpol, melakukan seperti itu, itu fitnah, fitnah lebih kejam daripada
pembunuhan.
(6)
Kalau inteligent error analisisnya bengkok, datanya tidak ada, faktanya
tidak ada dikait-kaitkan, ambil sumber sosmed, termasuk buzzer,
dianalisis, ah pasti ini yang menggerakkan, pasti ini yang mendanai.
(7)
Yang kuliah di ilmu manajemen, ilmu kepimimpinan.
(8)
Penistaan agama itu secara hukum tidak boleh dan dilarang. Kembali ke
sistem hukum kita, kembali ke KUHP kita.
(9)
Ternyata masalah tidak bisa diatasi. Oleh karena itu kami berpendapat
dengan apa yang terjadi, yang bergulir dari hari ke hari, dari jam ke jam,
saya pantau saya dengarkan, saya analisis, saya punya insting dan
naluri.
Pada contoh (3) terjadi pengulanga frasa harus kita, pada contoh (4) terjadi
pengulangan kata apa, pada contoh (5) terjadi pengulangan kata menuduh dan
fitnah, pada contoh (6) terjadi pengulangan frasa tidak ada, pada contoh (7) terjadi
pengulangan kata ilmu, pada contoh (8) terjadi pengulangan kembali, dan pada
contoh (9) terjadi pengulangan kata saya.
b. Gaya Bahasa Berdasarkan Langsung Tidaknya Makna
Berdasarkan Langsung tidaknya makna, ditemukan enam gaya bahasa, yaitu gaya
bahasa aliterasi, erotesis, hiperbola, metafora, personifikasi, antonomasia. Pada pidato
SBY tersebut ditemukan enam kalimat yang menggunakan gaya bahasa aliterasi,
dua kalimat yang menggunakan gaya bahasa erotesis, enam kalimat menggunakan
hiperbola, Sembilan kalimat menggunakan metafora, dua kalimat menggunakan
personifikasi, dan dua kalimat menggunakan gaya bahasa antonomasia. Dibawah ini
adalah uraiannya.
1)
Aliterasi
Adalah semacam gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan yang sama
yang digunakan untuk penekanan (Keraf, 2009).
Contoh:
(10)
Tidak mudah membangun negeri ini secara bertahap, bertingkat dan
berlanjut, break to break dari generasi ke generasi.
Nurlela
Diksi Dan Gaya Bahasa Dalam Pidato Susilo Bambang Yudhoyono (Kajian Stilistika)
31
(11)
Itu dijamin oleh konstitusi untuk menyampaikan pandangannya,
pikirannya, bahkan protes-protesnya,
(12)
Jadi jangan tiba-tiba menyimpulkan ini yang menggerakkan, ini yang
mendanai.
(13)
Pasti adalah yang diprotes, yang dituntut.
(14)
Kalau mengganggap yang dilaksanakan oleh para penegak hukum di era
saya dulu belum rampung harus diteruskan, dilanjutkan, sepenuhnya hak
Beliau.
(15)
Mudah-mudahan tidak dipoyong, tidak diedit, oleh karena youtubenya
segera diupload.
Pada contoh (10) terdapat pengulangan konsonan awal /b/, pada contoh (11)
terdapat pengulangan konsonan awal /p/, pada contoh (12) terdapat pengulangan
konsonan awal /m/, dan pada contoh (13), (14), dan (15) terdapat pengulangan
konsonan awal /d/.
2)
Erotesis atau Pertanyaan Retorika
Adalah pertanyaan yang digunakan dalam pidato tulisan yang bertujuan untuk
mencapai efek mendalam dan penekanan yang wajar dan tidak membutuhkan
jawaban (Keraf, 2009).
Contoh:
(16)
Mari kita bertanya sekarang, sebenarnya apa masalah yang kita hadapi
ini. Apa masalahnya saudara-saudara dan kenapa di seluruh Tanah Air,
bukan hanya di Jakarta, saya kira semua memantau di Sumatera, di
bagian Jawa yang lain, di luar Jawa yg lain, rakyat melakukan protes dan
unjuk rasa.
(17)
Dulu tidak ada aturannya, 2014 kita atur. Misalnya kalau sebelumnya
ada pejabat yang punya luas tanah 3.000 meter persegi, 4.000 meter
persegi. Bangunannya dua kavling, kita atur. Luasnya maksimal 1.500
meter tanahnya. Dan yang diberikan negara kepada saya jumlahnya
kurang (dari) 1.500 persegi. Bagaimana 5.000 meter?
Pada contoh di atas terdapat pertanyaan yang sebenarnya tidak memerlukan
jawaban dari pendengarnya, namun pembicara hanya ingin membuka wawasan
pendengar dan mengajak pendengar agar mereka satu pemikiran dengan
pembicaranya.
Nurlela
Diksi Dan Gaya Bahasa Dalam Pidato Susilo Bambang Yudhoyono (Kajian Stilistika)
32
3)
Hiperbola
Adalah gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan
dengan membesar-besarkan sesuatu hal (Keraf, 2009). Ungkapan yang tampak
berlebihan hanyalah teknik penuturan saja sehingga pemaknaannya tidak harus
bersifat literal (Baldic, 2001).
Contoh:
(18)
Topik utamanya jelas adalah situasi politik terkini, utamanya berkaitan
dengan yang saudara liput dan beritakan hampir setiap hari, hampir
setiap jam. Bahkan hampir setiap menit yaitu seputar rencana gerakan
unjuk rasa yang akan dilaksanakan di Jakarta pada tanggal 4 November
2016 mendatang.
(19)
Bukan hanya di Jakarta tapi juga di seluruh Tanah Air.
(20)
Saya setuju bukan hanya 100 persen, 300 persen, itu juga seruan PD.
(21)
Kami generasi yang lebih tua, ingat dulu peristiwa tahun 1966 yang
melibatkan mahasiwa UI tahun 1998 yang melibatkan mahasiswa
Trisaksti gara-gara main tembak terjadilah prahara maha besar yang
mengubah sejarah di negeri kita ini.
(22)
Ternyata masalah tidak bisa diatasi. Oleh karena itu kami berpendapat
dengan apa yang terjadi, yang bergulir dari hari ke hari, dari jam ke jam,
saya pantau saya dengarkan, saya analisis, saya punya insting dan naluri.
(23)
Nah kalau sama sekali tidak didengar, diabaikan, sampai lebaran kuda
masih akan ada unjuk rasa.
Pada contoh (18) sampai (23) kata yang bercetak miring mempunyai makna
yang berlebihan. Sebenarnya situasi politik tersebut tidak setiap menit
diberitakan, namun karena pembicara merasa gerah dengan pemberitaan tersebut,
maka dilebih-lebihkan dengan perkataan hampir setiap menit. Contoh (19) juga
sebenanrnya belum tentu tersebar ke seluruh tanah air karena masih ada beberapa
daerah pelosok yang tidak mempunyai media televisi, tetapi karena sudah
menyebar luas saja, maka pembicara menggunakan kata seluruh tanah air. Pada
contoh (20) juga terlalu berlebihan karena batas 100 dalam hitungan ilmu sains
hanya sampai 100%. Pada contoh (21) terdapat kata maha besar, kata ini merujuk
pada kejadian Trisakti yang banyak menyebabkan korban meninggal sehingga
kejadian itu dianggap sebagai kejadian maha besar. Pada contoh (22) juga
menggunakan hiperbola karena memantau, mendengar, dan menganalisis berita
yang ada setiap jam, padahal setiap jam kegiatannya pasti berganti-ganti. Dan
Nurlela
Diksi Dan Gaya Bahasa Dalam Pidato Susilo Bambang Yudhoyono (Kajian Stilistika)
33
pada contoh (23) terdapat kata lebaran kuda, sebanarnya kata tersebut tidak ada
artinya. Namun, karena gerah dengan isu-isu tersebut, maka kata lebaran kuda
dipilih.
4)
Metafora
Adalah bentuk perbandingan antara dua hal yang dapat berwujud benda, fisik,
ide, sifat, atau perbuatan dengan benda, fisik, ide, sifat, atau perbuatan yang
bersifat implisit (Baldic, 2001).
Contoh:
(24)
Saya akan mulai dari bagaimana kita melihat situasi terkini. Yah minggu
ini politik di negeri kita menghangat.
(25)
Saya tidak alergi dengan unjuk rasa.
(26)
Kita harus memetik pelajaran sejarah di masa silam.
(27)
Urusan hati nurani tidak ada yg bisa mempengaruhi, uang tidak ada
gunanaya. Apalagi ukuran akidah.
(28)
Saya kumpulkan keterangan, saya korek apa yang ada dalam pikiran
penyelenggara negara, jajaran pemerintahan, beliau-beliau yang
mengemban amanah, baru saya bicara. Sekali lagi karena saya
mengetahui.
(29)
Begini, Pak Ahok gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama diangap
menistakan agama.
(30)
Jadi kalau ingin negara kita ini tidak terbakar oleh amarah para penuntut
keadilan
(31)
Berarti bola sekarang ada di penegak hukum, bukan di jalan-jalan rakyat,
bukan di tangan Pak Jokowi, bukan di tangan ormas Islam, bukan di
Partai Demokrat.
(32)
Saya juga mohon doa restu agar saya kuat menghadapi badai politik ini.
Pada contoh (24) menggunakan kata menghangat karena politik yang terjadi
pada saat itu memang menjadi bahan beritaan saat itu, padahal kata menghangat
biasanya digunakan untuk menghangatkan makanan. Pada contoh (25)
menggunakan kata alergi sebagai pengganti dari kata tidak suka, padahal kata
alergi biasanya digunakan yang berhubungan dengan kesehatan atau penyakit.
Pada contoh (26) menggunakan kata memetik karena menyamakan pelajaran
dengan buah yang bisa dipetik. Pada contoh (27) menyamakan akidah dengan
sesuatu yang dapat diukur. Pada contoh (28) menyamakan amanah dengan anak
sehingga digunakan kata emban. Pada contoh (29) menggunakan kata menistakan.
Nurlela
Diksi Dan Gaya Bahasa Dalam Pidato Susilo Bambang Yudhoyono (Kajian Stilistika)
34
Kata menistakan bukanlah sesuatu yang digunakan untuk agama, tetapi untuk
sesuatu yang dianggap kotor. Pada contoh (30) menyamakan amarah dengan
benda yang dapat terbakar. Terbakar digunakan untuk benda yang berhubungan
dengan api. Pada contoh (31) menyamakan penyelesain kasus dengan bola yang
dapat di giring oleh seseorang, ditangan juga merupakan metafora sebagai
pengganti kata pegang yang merujuk pada penyelesaian masalah. Sedangkan pada
contoh (32) menyamakan masalah dengan badai karena badai merupakan hal
yang menakutkan.
5)
Personifikasi
Adalah majas yang member sifat-sifat benda mati dengan sifat-sifat
kemanusiaan (Nurgiyantoro, 2014).
(33)
Saya kira bukan intelijen seperti itu yang harus hadir di negeri tercinta
ini karena amanah reformasi kita jelas, kita ingin mereformnasi tatanan
budaya yang cara-cara yang dulu terjadi di era otoritarian yang tidak
tepat kita ubah menjadi tatanan yang tepat dengin iklim dan suasana
negara demokrasi.
(34)
Kehidupan bernegara dipenuhi info laporan-laporan, bisikan-bisikan
atau pun yang mengatakan dirinya inteligent report.
Pada contoh (33) mengandaikan negeri dengan manusia. Hal ini dikarenakan
pembicara dan pendengar mencintai negaranya seperti mencintai dirinya atau
keluarganya. Pada contoh (34) Negara mempunyai sistem dan aturan yang harus
dijalankan sepertinya halnya dengan manusia.
6)
Antonomasia
Adalah bentuk khusus dari sinekdoke yang berwujud penggunaan sebuah
epita untuk menggantikan nama diri, gelar resmi, atau jabatan untuk
menggantikan nama diri (Keraf, 2009).
(35)
Saya sengaja memisahkan forum ini dengan forum pemenangan itu agar
kami tetap fokus dan tidak perlu dipandang sebagai pencampuradukan
antara sikap, pandangan dan rekomendasi PD dengan apa yang sedang
dilakukan tim sukses oleh Agus-Sylvi sebagaimana yang dilakukan tim
sukses-tim sukses yang lain. Oleh karena itu rekan-rekan wartawan,
kapasitas saya dalam menyampaikan penjelasan ini sebagai lebih
pimpinan PD. Oleh karena itu yang mendampingi unsur pimpinan dari
PD.
(36)
Kalau mengganggap yang dilaksanakan oleh para penegak hukum di era
Nurlela
Diksi Dan Gaya Bahasa Dalam Pidato Susilo Bambang Yudhoyono (Kajian Stilistika)
35
saya dulu belum rampung harus diteruskan, dilanjutkan, sepenuhnya hak
Beliau.
Pada contoh (35) dan (36) kata pimpinan dan penegak hukum adalah
pengganti dari seseorang yang mempunyai jabatan.
KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa ketika berpidato, SBY banyak
menggunakan diksi-diksi dan gaya bahasa. Diksi yang digunakan adalah diksi konotatif,
denotatif, indria, kedaerahan, ilmiah, popular, khusus, umum, abstrak, dan diksi
konkret. Gaya bahasa yang banyak digunakan adalah paralelisme, repetisi, aliterasi,
erotesis, hiperbola, metafora, personifikasi, dan antonomasia.
Nurlela
Diksi Dan Gaya Bahasa Dalam Pidato Susilo Bambang Yudhoyono (Kajian Stilistika)
36
REFERENSI
Baldick, Chris. 2001. The Concise Oxford Dictionery of Literary Term. Oxford: Oxford
Paperback Referance.
Keraf, Gorys. 2009. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Mahsun. 2005. Metode Penelitian Bahasa. Depok: Raja Grafindo Persada.
Nurgiyantoro, Burhan. 2014. Stilistika. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Sudaryanto. 1988. Metode Linguistik: Metode dan Aneka Teknik Pengumpulan Data.
Yogyakarta: Gadjah Mada University press.
www.kbbi.web.id
Ulda, Fida. 2016. Ini Pidato Lengkap SBY tentang Demo $ November dan Kondisi
Terkini. https://news.detik.com/berita/d-3335516/ini-pidato-lengkap-sby-tentang-demo-
4-november-dan-kondisi-terkini. Diakses pada tanggal 23 Mei 2017.