NIJI
Jurnal Kajian Sastra, Budaya, Pendidikan dan Bahasa Jepang
Vol. 1, No. 1, Januari 2019, p-ISSN 2355-889X
https://doi.org/10.18510/jt.2021.xxx
http://jurnal.stibainvada.ac.id/
58
DAMPAK SOSIAL DAN PERUBAHAN PERILAKU BELAJAR
PADA PENGAPLIKASIAN MEDIA SOSIAL BAGI SISWA SEKOLAH
DASAR
Muhamad Farid
Institut Pendidikan dan Bahasa (IPB) Invada Cirebon
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana dampak social dan
perubahan perilaku belajar yang ditimbulkan oleh penggunaan social media pada
siswa usia SD. Dampak sosial yang dimaksud dalam penelitian ini dibagi menjadi
dua yaitu interaksis sosial dan perilaku sosial. Dampak sosial yang ditimbulkan
selama menggunakan media sosial diantaranya adalah (1) lebih percaya diri dalam
mengungkapkan gagasan (2) lebih sering berinteraksi dengan teman baru di sosial
media (3) penggunaan kata kata yang berbeda dengan kehidupan sehari-hari (4)
penyalahgunaan media sosial seperti cyberbullying, kecanduan dan terlalu
mengumbar privasi. Sementara temuan tentang perubahan perilaku belajar selama
menggunakan media sosial diantaranya adalah (1) adanya perubahan kebiasaan
diskusi siswa beralih di chat grup media sosial (2) terlalu termakan dengan isu
yang tidak jelas kebenarannya (hoax). Berdasarkan hasil tersebut dapat
disimpulkan bahwa sosial media memiliki dampak yang besar yang mampu
merubah kehidupan sosial atau perilaku belajar siswa usia SD.
Kata kunci : media sosial, siswa SD, dampak sosial, perilaku belajar
Muhamad Farid
Dampak Sosial dan Perubahan Perilaku Belajar pada Pengaplikasian Media Sosial Bagi
Siswa Sekolah Dasar
59
PENDAHULUAN
Menurut data dari kemenkominfo melalui Asosisasi Penyelenggara Jaringan
Internet Indonesia (APJII : 2016) mengungkapkan bahwa lebih dari setengah
penduduk indonesia kini telah terhubung dengan internet. Survey yang dilakukan
sepanjang 2016 tersebut menemukan bahwa 132,7 juta orang Indonesia telah
terhubung ke internet. Hal ini mengindikasikan kenaikan 51,8% atau 88 juta
penggunna dibandingkan jumlah pengguna internet pada 2014 lalu. Salah satu
penyebab kenaikan pengguna internet di Indonesia adalah perkembangan
infrastruktur dan mudahnya akses memiliki smartphone dari berbagai merk dengan
harga yang terjangkauBerdasarkan pengamatan awal pada siswa SDN Guntur
kecamatan Harjamukti Kota Cirebon didapati 28 dari 30 orang siswa kelas VI
memiliki smartphone pribadi dan mempunyai akun berbagai media sosial sejak
duduk di kelas VI sd V. Seberapa Jauh, seberapa sering dan seberapa penting peran
media sosial bagi mereka tentunya beragam antara individu satu dengan yang
lainnya berbeda. Hal ini dikarenakan pengawasan dan bimbingan orang tua setiap
siswa berbeda, orang tua memiliki peran yang sangat vital terhadap bagaimana
habbit para siswa menggunakan media sosial, orangtua seharusnya memberikan
arahan bagaimana fungsi media sosial dan dampak positifnya sehingga tidak ada
lagi penyalahgunaan media sosial di kemudian hari. kontrol penggunaan media
sosial juga merupakan hal yang harus menjadi perhatian bagi guru, karena guru
sendiri yang bisa melihat perbedaan atau dampak signifikan dari penggunaan
media sosial terhadap aktivitas sosial dan pegaruhnya bagi sikap belajar siswa di
sekolah. Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini dirancang untuk
mengungkapkan tentang seberapa jauh media sosial dimanfaatkan oleh siswa
kelas SDN Guntur Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon, Untuk mengungkap
peran orangtua dalam memantau pemanfaatan media sosial pada siswa kelas SDN
Guntur Kota Cirebon, Untuk mengidentifikasi dampak dan perubahan pemanfaatan
media sosial siswa kelas SDN Guntur Kota Cirebon, Untuk mengidentifikasi
perubahan dari perilaku belajar yang ditimbulkan dari pemanfaatan media sosial
pada siswa SDN Guntur Kota Cirebon.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini yaitu penelitian kualitatif dengan metode deskriptif
kualitatif Sesuai dengan judul penelitian yaitu “Dampak sosial yang ditimbulkan
oleh penggunaan media sosial pada siswa kelas VI SDN Guntur kota cirebon dan
Seberapa Jauh peran orangtua serta guru dalam menyikapi fenomena ini.
Penelitian ini berupaya untuk memahami dan memperoleh gambaran yang terjadi
di lapangan sebagaimana adanya tentang dampak penggunaan media sosial pada
anak usia SD dan bagaimana guru dan orangtua menyikapinya. Sementara sumber
data dibagi menjadi tiga yaitu informan, dokumen dan fenomena.
Muhamad Farid
Dampak Sosial dan Perubahan Perilaku Belajar pada Pengaplikasian Media Sosial Bagi
Siswa Sekolah Dasar
60
Dalam penelitian ini terdapat 3 informan yaitu siswa, orangtua dan guru.
Siswa merupakan suatu informan dikarenakan mereka sendiri yang mengalami
bagaimana fenomena penggunaan media sosial terhadap mereka beserta dampak
baik dan buruknya. Orangtua menjadi informan dalam memberikan data
bagaimana mereka mengawasi dan mengarahkan para siswa dalam menggunakan
media sosial dalam kesehariannya dirumah dan apakah ada dampak sosial yang
timbul dari kegiatan tersebut. Guru menjadi informan dalam memberikan data
apakah penggunaan media sosial berpengaruh langsung terhadap perubahan
perilaku belajar siswa disekolah.
Di dalam melaksanakan metode dokumentansi, peneliti menyelidiki benda-
benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen
rapat, catatan harian dan sebagainya. dokumen pada penelitian ini meliputi daftar
absen, biodata, kartu keluarga siswa yang bersangkutan yang bertujuan untuk
mencocokan data apakah benar siswa dan orangtua yang menjadi subjek dalam
penelitian ini valid dan sesuai. Dengan mengamati sebuah peristiwa atau aktivitas
peneliti dapat melakukan crosscheck terhadap informasi verbal yang diberikan
oleh subyek yang diteliti.
Teknik pemilihan informan sebagai sumber data ini biasanya didasarkan oleh
pertimbangan tertentu misalnya keterbatasan waktu, tenaga dann dana sehingga
tidak dapat mengambil sampel yang besar dan jaraknya jauh. Adapun cara dalam
penentuan sampel yang peneliti gunakan yaitu teknik purposive samplingDalam
penelitian ini pertimbangan yang digunakan adalah siswa mana yang memiliki
smartphone dan media sosial pribadi, siswa dengan intensitas penggunaan media
sosial yang tinggi dan jarak kediaman pribadi masing masing siswa.
Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data yang dilakukan dengan
wawancara, dokumentasi, dan observasi. Dengan pedoman demikian interviwer
harus memikirkan bagaimana pertanyaan tersebut akan dijabarkan secara kongkrit
dalam kalimat tanya, sekaligus menyesuaikan pertanyaan dengan konteks aktual
saat wawancara berlangsung. Tahap wawancara ini akan ditujukan guna mencari
informasi lebih dalam dan akurat terhadap permasalahan yang sudah dirumuskan.
Cara yang digunakan untuk memeriksa keabsahan data atau menguji
kebenaran data pada penelitian ini adalah peneliti terlibat langsung dalam kurun
waktu yang telah ditetapkan, peneliti melakukan triangulasi data terhadap
penelitian ini, melibatkan diskusi teman sejawat serta audit dengan dosen
pembimbing yang bertujuan untuk memeriksa kelengkapan dan ketelitian yang
dilakukan sehingga timbul keyakinan bahwa segala sesuatu yang di laporkan
tentang Dampak sosial yang ditimbulkan oleh penggunaan media sosial pada
siswa kelas VI SDN Guntur dan Seberapa Jauh peran orang tua serta guru dalam
menyikapi fenomena ini sesuai dengan kenyataan. Hal ini dilakukan dengan cara
Dampak Sosial dan Perubahan Perilaku Belajar pada Pengaplikasian Media Sosial Bagi
Siswa Sekolah Dasar
61
mengkonsultasikan hasil yang telah didapat dari penelitian dengan dosen
pembimbing sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Penggunaan Sosial Media Pada Siswa
Penggunaan social media pada siswa diukur berdasarkan dua indikator yaitu
sejauh mana siswa memahami social media dan sejauh mana pengalaman siswa
dalam menggunakan soosial media. Pemahaman siswa SDN Guntur kota Cirebon
tentang sosial media dilihat dan diukur atas beberapa hal yang didasarkan oleh
beberapa faktor pendukung, seperti seberapa jauh pengetahuan mereka tentang
definisi sosial media, seberapa jauh mereka mempertimbangkan sebelum
mendownload sebuah aplikasi sosial media dan seberapa jauh mereka
memanfaatkan fungsi fungsi dari sosial media.
Pemahamanan para siswa tentang media sosial juga diukur dari bagaimana
cara mereka mempertimbangkan baik baik sosial media apa saja yang diperlukan
dan mana yang tidak perlu.,itu semua dapat dilihat dari sosial media yang mereka
miliki di smartphone mereka biasanya tidaklah banyak.
“Mengingat pesatnya pertumbuhan inovasi dan pengguna sosial media di
masyarakat, tentunya kesadaran masyarakat untuk memiliki sosial media yang
terkini akan semakin tinggi. Akan tetapi kembali lagi pada fungsi, sosial media
yang terlengkaplah dan selalu up to date terhadap kebutuhan masyarakat lah yang
akan tetap berjaya pada era sekarang seperti kelengkapan fitur, kemudahan
pemakaian, populasi pengguna dan penggunaan space dan data yang ringan.”
(Pearson : 2015)
Pertama yang dilihat para siswa sebelum mendownload sebuah aplikasi media
sosial adalah kemudahan mengoperasikan dan mengakses sosial media itu sendiri.
Dimulai dari mudah untuk registrasi akun sampai mudah untuk menggunakan dan
tidak berbayar. Berbeda dengan orang dewasa, kebutuhan media sosial pada anak
SD hanya sebatas memudahkan interaksi dengan teman temannya saja, sehingga
kemudahan dalam mengoperasikan sosial media menjadi pertimbangan utama
mereka dalam mendownload sebuah aplikasi media sosial.
Oleh karena itu sebelum mendownload para siswa ternyata lebih dahulu
mempertimbangkan sosial media yang sesuai dengan kebutuhan mereka seperti
fiturnya yang unggul dan kemudahan dalam menggunakannya. Sebagai contoh
mayoritas siswa beralih dari menggunakan bbm ke whatsapp, kedua aplikasi
sosial media berbasis chat ini menawarkan fitur yang mirip seperti chat, telepon,
foto dan video call..
Selain fitur yang unggul ternyata pertimbangan mereka adalah teman banyak
yang menggunakan, jadi sosial media ini merupakan kebutuhan bagi mereka
dalam berkomunikasi dan mereka mau tidak mau harus mendownload aplikasi
Muhamad Farid
Dampak Sosial dan Perubahan Perilaku Belajar pada Pengaplikasian Media Sosial Bagi
Siswa Sekolah Dasar
62
yang banyak digunakan oleh teman mereka guna mempermudah komunikasi antar
teman sekolah.
2. Pengalaman siswa dalam menggunakan sosial media
Intensitas penggunaan media sosial pada siswa adalah sekitar diatas 3 jam
sehari, itu semua terlihat dari seberapa sering mereka membuka smartphone
mereka, seberapa sering mereka mengunggah konten di sosial media dan seberapa
sering mereka berkomentar atau chat dengan teman di sosial medianya.
“Sedangkan tingkat kesadaran penggunaan social media setiap pada jenjang umur
akan terlihat berbeda. Pengguna pada umur diatas 20 tahun akan ceenderung lebih
pasif dibandingkan dengan umur dibawah 20 tahun yang terlihat lebih aktif dalam
membagikan konten pada social media..” (Moran : 2012)
Apabila para siswa mempunyai waktu luang seusai belajar ternyata yang
pertama kali mereka lakukan adalah membuka smartphone mereka masing masing
untuk mengecek sosial media mereka. Biasanya hanya untuk melihat apakah ada
chat masuk atau sekedar iseng membuka instagram. Sedikit apapun waktu luang
yang tersisa akan dimanfaatkan untuk membuka sosial media nya masing masing.
Setidaknya apabila sedang senggang atau dalam perjalanan, mereka bisa
membuka sosial medianya sekurang kurangnya satu kali dalam satu jam. Begitu
pula bila dilihat pada histori akun sosial media pribadi mereka, ternyata mereka
cukup aktif dalam mengupload foto, video atau status para siswa dapat melakukan
kegiatan terseebut 1 kali dalam satu hari. Siswa perempuan lebih banyak
menghabiskan waktu bersosial lebih banyak dibandingkan siswa laki laki.
Dikarenakan siswa laki laki cenderung lebih sering memanfaatkan smartphone
mereka untuk bermain game.
Berdasarkan data survey yang dilakukan oleh Moran ( 2012) didapatkan
bahwa facebook merupakan sosial media terbanyak yang diakses oleh remaja
rentang umur 5-12 tahun pengguna internet di dunia selanjutnya ada twitter,
youtube, blogs, myspace”. Perkembangan media sosial sangatleh pesat, terlihat
adanya pergeseran yang sangat signifikan pada aplikasi media sosial favorit
remaja umur 5-12 tahun pada tahun 2012 dan 2017. Pada remaja tahun 2017
khususnya siswa SDN Guntur ternyata instagram merupakan media sosial
tervaforrit karena aplikasi berbasis foto dan video ini lebih menawarkan banyak
fitur tambahan yang sangat diminati oleh siswa khusus nya para perempuan yang
hobi mengupload foto dan video tentang kehidupan sehari hari mereka. Alasan
mengapa instagram banyak digunakan oleh siswi SDN guntur adalah karena sifat
narsistis pada perempuan lebih tinggi daripada laki laki, mereka ingin
memamerkan foto selfie mereka di instagram agar dapat dinilai dan dilike oleh
lawan jenisnya. Perkembangan anak perempuan juga lebih cepat dari anak laki
laki sehingga wajar saja apabila pengguna media sosial terbanyak pada usia SD
adalah perempuan.
Muhamad Farid
Dampak Sosial dan Perubahan Perilaku Belajar pada Pengaplikasian Media Sosial Bagi
Siswa Sekolah Dasar
63
Berbeda dengan para perempuan yang gemar menggunakan instagram laki
laki lebih banyak menggunakan youtube dikarenakan untuk menunjang hobi
mereka.Mereka menggunakan sosial media karena kebutuhan untuk menunjang
hobi mereka.
3. Interaksi sosial siswa
Para siswa menemukan beberapa teman baru di berbagai sosial media yang
mereka miliki, hubungan dengan teman baru pun dilihat cukup dekat mereka dapat
saling bertukar informasi dan sekedar mengobrol ringan. Hal ini merupakan salah
satu dampak positif interaksi yang dilakukan pada media sosial. “Komunikasi
dalam media sosial merupakan langkah penting bagi semua remaja karena ini
adalah kesempatan mereka untuk belajar pentingnya menghormati, toleransi,
identitas diri dan mendapatkan informasi dari isu-isu global” (Moran:2012).
Bertemu dengan beberapa orang dari berbagai latar belakang dan tempat asal dapat
meningkatkan pengetahuan mereka dan melatih cara interaksi mereka dengan
orang baru.
“Sangat terlihat perbedaan penggunaan bahasa sehari hari dan bahasa mereka di
sosial media, di sosial media mereka cenderung lebih bebas dalam
mengekpresikan perasaan mereka melalui kata kata yang meereka unggah. Hal ini
dikarenakan di sosial media semua orang bebas untuk berargumen tanpa harus
melakukan kontak mata (bertatap muka) (Moran:2012)”
Berdasarkan hasil penelitian Semua siswa menjawab ada perbedaan terutama
tentang kepercayaan diri mereka lebih besar pada saat mengungkapkan ide
gagasan dan pikiran mereka di sosial media. ada beberapa anak yang apaabila di
kelas atau di kehidupan sehari harinya cenderung pemalu, akan tetapi saat dia
berinteraksi di sosial media bisa lebih lepas
4. Perilaku sosial siswa
Selain perubahan cara mereka dalam berinteraksi, sosial media juga merubah
kebiasan atua prilaku sosial mereka dalam kehidupan sehari harinya. Perubahan
prilaku sosial bagi pengguna sosial media merupakan hal yang wajar dan lumrah.
Perubahan ini terjadi bisa kearah yang positf yaitu mengembangkan dirinya sesuai
minat dan bakat atau juga ke arah yang negatif seperti penyalahgunaan media
sosial seperti cyberbullying.
Cyberbullying merupakan fenomena penyalahgunaan media sosial yang paling
umum terjadi pada kalangan remaja. bullying secara online pada seseorang
umumnya sama dengan bullying pada umumnya, akan tetapi pada media sosial
informasi yang disebar akan sangat cepat diterima oleh pengguna lainnya tanpa
dapat dilerai atau dibela dengan efektif (Dabbagh : 2012)
Pengalaman buruk yang diterima para siswa ternyata masih berkutat pada prilaku
cyberbullying. selain menjadi korban ternyata ada juga siswa seperti RA yang
Muhamad Farid
Dampak Sosial dan Perubahan Perilaku Belajar pada Pengaplikasian Media Sosial Bagi
Siswa Sekolah Dasar
64
menjadi pelaku cyberbullying dia kerap mengirimkan pesaan kasar kepada teman
nya dan cenderung mengejek apapun yang temannya unggah ke sosial media.
Masalah lainnya yang timbul dari penggunaan media sosial adalah
kecanduan yang mengakibatkan lupa waktu. Hal ini sesuai dengan yang
diutarakan oleh O’Keffee bagaimana media sosial merubah prilaku sosial kita
terhadap sekitar.
Mereka terlalu asyik bercengkrama dengan teman teman di dunia maya nya,
akan tetapi lupa dengan kehidupan nyata yang ada disekitar mereka, mereka jadi
kurang peka dengan sekitar, susah diajak komunikasi apabila sedang memegang
smartphone, dan mengulur waktu tidur dikarenakan mengakses media sosial.
(O’Keeffee:2015)
Para siswa terlalu asyik bercengkrama dengan teman teman di dunia maya
nya, akan tetapi lupa dengan kehidupan nyata yang ada disekitar mereka terlihat
para siswa walaupun sedang mengobrol dan berkumpul dengan teman sekelasnya
diluar sekolah, hal normal yang harusnya terjadi adalah mereka akan saling
bercengkrama, bercanda dan bermain satu saama lain. Akan tetapi kenyataanya
mereka malah terlalu sibuk dengan smartphone nya masing masing sehingga
suasana kumpul bersama teman menjadi kurang bermakna.
5. Perubahan Perilaku Belajar Siswa
Kemajuan pesat dalam media digital khususnya pada media sosial mendorong
transformasi pedagogis dimana masyarakatnya menjadi kurikulumnya.”Teknologi
Web
2.0 (media sosial pada khususnya) memberdayakan siswa untuk bertanggung
jawab atas pembelajaran mereka sendiri sehingga menghasilkan beberapa
interpretasi bahwa tidak ada penengah dari mereka. (Tess : 2013)”
Dengan tersedianya fitur grup chat dalam aplikasi media sosial seperti
whatsapp dan blacberry messenger tentunya akan memudahkan kita untuk
melakukan komunikasi lebih dari dua arah. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh
siswa untuk sekedar mengobrol atau berdiskusi tentang materi belajar yang
menurut mereka tidak mengerti. Dengan ada nya fasilitas ini para siswa tidak lagi
bingung untuk belajar bersama yang biasanya terkendala waktu dan tempat,
sekarang mereka dapat berdiskusi kapanpun dan dimanapun dengan jelas. Selain
untuk diskusi sesama siswa, guru juga dapat menengahi proses diskusi yang
dilakukan di grup tersebut, selama proses pengamatan dilihat guru cukup aktif
memberikan masukan masukan selama proses diskusi sampai memberi foto
tentang cara memecahkan masalah matematika. Siswa yang biasanya kurang aktif
dikelas pun tidak canggung untuk bertanya kepada guru di sosial media.
Kekurangan dari grup ini adalah siswa yang malas seringkali hanya mencontek
jawaban tanpa terlibat langsung dalam proses diskusi. Setiap perilaku belajar
Muhamad Farid
Dampak Sosial dan Perubahan Perilaku Belajar pada Pengaplikasian Media Sosial Bagi
Siswa Sekolah Dasar
65
selalu ditandai oleh ciri-ciri perubahan spesifik.
Menurut (Tess : 2013)” menungkapkan bahwa terdapat “kelemahan dari
diskusi pada sosial media adalah peurunan daya ingat, ketergantungan dan
menurunnya kebutuhan interaksi tatap muka langsung dengan teman diskusinya.
Sementara menurut hasil penelitian bahwasanya kelemahan pada diskusi dengan
menggunakan sosial media adalah pada kejelasan materi, ada beberapa mata
pelajaran yang dikeluhkan siswa sulit dimengerti apabila diskusi menggunakan
sosial media. seperti apabila siswa sedang diskusi tentang materi pelajaran
matematika, seperti kita tahu bahwa pelajaran matematika menuntut cara
penyelesaian masalah yang jelas. Kelemahan lainnya adalah ketergantungan bagi
siswa yang malas mereka hanya akan menunggu jawaban soal dari teman-teman
yang sedang berdiskusi. Proses diskusi pada sosial media ternyata hanya
dimanfaatkan oleh beberapa orang yang rajin dan aktif saja, sementara yang malas
hanya sekedar menunggu jawaban tanpa terlibat langsung dalam proses
diskusisnya.
KESIMPULAN
Pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan teknis pennggunaan sosial
media bagi siswa kelas VI SDN Guntur sudah cukup baik. Beberapa contoh
diantaranya adalah mereka sudah dapat mengklasifikasikan sosial media
berdasarkan kebutuhan mereka, , mengklasifikasikan sosial media berdasarkan
fungsinya, serta memahami dan menerapkan tiap fungsi dari sosial media yang
ditawarkan sesuai dengan kebutuhan mereka. Siswa telah menggunakan sosial
media dari kelas III-IV atau sekitar dua tahun dengan intensitas penggunaan per
hari mencapai tiga sampai 5 jam. Akan tetapi pengetahuan mereka tentang teknis
penggunaan sosial media tidak diiringi dengan pengetahuan tentang etika yang
baik dalam bersosial media. masih ada beberapa siswa yang menyalahgunakan
sosial media seperti melakukan cyberbullying, terlalu mengumbar privasi dan
bertengkar dengan teman bermainnya di sosial media.
Ada juga dampak baik yang ditimbulkan oleh media sosial pada interaksi
siswa diantaranya adalah membangkitkan rasa percaya diri siswa dalam
berinteraksi dengan orang baru, sebagai media dalam menyalurkan minat dan
bakat siswa, penumbuhan relasi bagi siswa dan membangkitkan minat siswa untuk
berpartisipasi langsung dalam aktivitas sosial. Akan tetapi mereka lebih sering
berinteraksi dengan sosial media nya sehingga kehidupan di sekitar mereka
terabaikan dan cenderung lupa waktu apabila menggunakan sosial media mereka.
Terlihat pula adanya perubahan prilaku belajar pada siswa khususnya pada
aspek kebiasaan dan pengamatan. Kebiasaan siswa berubah menjadi lebih sering
memanfaatkan media sosial sebagai media berdiskusi dengan teman kelas atau
guru dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Informasi yang beredar di sosial
Muhamad Farid
Dampak Sosial dan Perubahan Perilaku Belajar pada Pengaplikasian Media Sosial Bagi
Siswa Sekolah Dasar
66
media begitu cepat dan besar jumlahnya, sehingga para siswa cenderung terlihat
masih sering membagikan informasi bermuatan hoax dikarenakan ketidaktahuan
mereka dalam memfilter informasi yang beredar di sosial media, dan juga motivasi
yang tinggi agar dibilang “kekinian dan update” oleh rekan rekannya.
Muhamad Farid
Dampak Sosial dan Perubahan Perilaku Belajar pada Pengaplikasian Media Sosial Bagi
Siswa Sekolah Dasar
67
REFERENSI
Davis III, C.H.F., Deil-Amen, R., Rios-Aguilar, C., & González Canché, M.S.
Social media and higher education: A literature review and research
directions. Report printed by the University of Arizona and Claremont
Graduate University. 1(1): 1- 8.
O'Keeffe-Gwenn, Kathleen Clarke-Pearson . 2015. The impact of social media on
children, adolescents, and families. DOI: 10.1542/peds.2011-0054
Mike moran, Jeff Seaman, Hester Tinti-kane. 2012 Teaching, Learning, And
Sharing: How Today’s Higher Education Faculti Use Social Media.
Pearson 16(2): 51- 63.
Nada Dabbagh, Anastasia Kitsantas. 2015. Personal Learning Environments,
social media, and self-regulated learning: A natural formula for
connecting formal and informal learning. Elsevier vol 34
Pediatrics. 2013. Children, Adolescents, and the Media. AMERICAN
ACADEMY OF PEDIATRICS. doi:10.1542/peds.2013-2656
Paul A. Tess. 2013. The role of social media in higher education classes
(real and virtual)
A literature review. Department of Educational Psychology,
University of Minnesota, Elsevier 36 (2)