NIJI
Jurnal Kajian Sastra, Budaya, Pendidikan dan Bahasa Jepang
Vol. 1, No. 2, Juli 2019, p-ISSN 2355-889X
https://doi.org/10.18510/jt.2021.xxx
http://jurnal.stibainvada.ac.id/
131
TANDA KEJEPANGAN PADA KEMASAN ROTI SHARON BAKERY
SERIAL DORAEMON
Andi Abd. Khaliq Syukur
Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Asing Invada
M. Fahmi Reza
Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Asing Invada
Lina Siti Munawaroh
Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Asing Invada
Riwayat Artikel:
Diterima Mei 2019;
Direvisi Juni 2019;
Disetujui Juli 2019.
Abstrak:
Penelitian ini menganalisis relasi tanda pada kemasan roti Sharon Bakery serial Doraemon,
serta menganalisis makna ilustrasi serial Doraemon pada kemasan roti Sharon Bakery serial
Doraemon. Penelitian ini menggunakan teori semiologi Roland Barthes (1972) untuk
menganalisis relasi tanda kemasan, teori konsumsi Simmel (1992) dan Paul Willis (1990),
kemudian struktur kemasan dikaitkan dengan struktur kemasan pada kemasan roti Sharon
Bakery. Metode analisis yang digunakan dari hasil analisis semiologi adalah deskriptif.
Penelitian ini menggunakan dua sumber data, yaitu primer dan sekunder. Sumber data
primer adalah kemasan roti Sharon Bakery produksi PT. Multi Star Rukun Abadi yang
terdapat tanda kejepangannya. Sumber data sekunder adalah data yang diperoleh dari buku,
jurnal sebagai penelitian terdahulu dan sumber untuk menjelaskan teori yang membantu
menganalisis data primer. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara struktur
kemasan berupa warna, ilustrasi, tipografi dan tata letak. Warna disesuaikan dengan warna
citra kejepangan, seperti warna tokoh anime Doraemon. Ilustrasi merujuk pada keaslian
Jepang dengan penempatan citra populer dan tradisional Jepang. Sedangkan, tipografi
Jepang pada kemasan berfungsi untuk konsumen membayangkan keaslian produk Jepang.
Oleh karena itu, penggunaan penanda kejepangan pada kemasan roti Sharon Bakery serial
anime Doraemon menunjukkan sebagai produk roti yang mengedepankan keaslian melalui
budaya populer dan tradisional Jepang. Penanda dan petanda yang ada dalam kemasan yang
menghadirkan mitos Jepang berupa kualitas premium, berkaitan dengan sesuatu yang
menyehatkan, akuntabel, tren kekinian dan mengglobal yang memengaruhi imajinasi
konsumen untuk memilih roti Sharon Bakery serial anime Doraemon.
Kata kunci: Tanda Kejepangan, Semiologi, Penanda Dan Petanda, Kemasan, Roti Sharon
Bakery
Andi Abd. Khaliq Syukur, M. Fahmi Reza dan Lina Siti Munawaroh
Tanda Kejepangan Pada Kemasan Roti Sharon Bakery Serial Doraemon
132
PENDAHULUAN
Dewasa ini budaya mengemas suatu produk untuk menarik konsumen merupakan
salah satu hal yang penting (Firdaus, 2021). Mulai dari pengemasan yang unik atau desain
yang menarik, ditambah dengan kata-kata (Annisa, 2017), gambar dan juga dengan warna
yang menarik pada kemasan dengan harapan itu semua akan menjadi daya jual produk dan
menarik daya beli konsumen (Pulungan et al., 2019). Persaingan suatu produk kuliner selain
dari rasa dan harga juga dari kemasannya, karena yang pertama dilihat adalah kemasan
dengan daya tarik yang mengalihkan pandangan konsumen untuk membeli produk kuliner
tersebut (Nugrahani, 2015). Kemasan produk akan berperan penting ketika produk masih
berderet di etalase dengan produk lain sebagai pembeda antara produk satu dengan lainnya
yang menjadikan daya jual produk dan daya beli konsumen bersaing (Sukanta, 2020).
Elliot dalam (Lusiana, 2018, p. 41).mengatakan bahwa pengaturan atas
penggambaran (representasi) makanan memiliki implikasi kuat atas persepsi Lebih lanjut
lagi Elliot menuliskan bahwa:
“Food packaging provides a rich text for analysis, for its surface and its
contents are consumed: food “message” are digested both figuratively and
literally. Anthropologist have long established food role in creating identity
and status, establishing taste and defining cultural otherness.”
“Kemasan makanan mengandung teks yang sangat banyak untuk dikaji.
Tidak saja disantap secara kiasan tapi juga secara harfiah. Kemasan makanan
apalagi jika menggambarkan isi produknya sebagai sesuatu yang
asing
atau
eksotis
merupakan suatu konsep nyata tentang mengkonsumsi „yang lain.”
Presentasi kuliner secara visual pada kemasan telah terbukti memberikan pengaruh
terhadap pembentukan rasa dan selera (Sudargo et al., 2018), ia dapat mengubah pilihan
makanan seseorang, hingga merubah perilaku atau tindakan konsumsinya (Underwood dkk
dalam (Lusiana, 2018, p. 42).
Penelitian kemasan produk cukup banyak hadir dalam ragam studi khususnya kajian
budaya, karena itu, peneliti akan turut andil dengan penelitian mengenai kemasan dengan
menjadikan produk kemasan roti Sharon Bakery serial doraemon sebagai objek dan data
penelitian. Dalam kemasan produk Sharon Bakery menggunakan tokoh-tokoh animasi
Doraemon untuk menarik konsumennya. Gejala ini menjadikan peneliti tertarik untuk
menganalisis fenomena penanda kejepangan dalam kemasan produk Sharon Bakery serial
Doraemon.
Andi Abd. Khaliq Syukur, M. Fahmi Reza dan Lina Siti Munawaroh
Tanda Kejepangan Pada Kemasan Roti Sharon Bakery Serial Doraemon
133
Representasi tanda kejepangan dalam suatu kemasan produk kuliner mengasumsikan
adanya pengakuan budaya Jepang dalam tatanan sosial di masyarakat. Sebagaimana
pandangan Lusiana (2018, pp. 20–24), yang menjelaskan gejala relasi kuasa dalam produk
kemasan kejepangan menghasilkan ekspresi kualitas premium, menyehatkan, akuntabel, tren
kekinian, dan mengglobal.
Lusiana juga mengaitkan tanda kejepangan dengan ideologi kapitalisme yang
menghadirkan stereotip gaya hidup masyarakat dunia, serta sebagai perwujudan hegemoni
atas penentuan keputusan hidup yang akan dipilih oleh konsumen (Sutiarso, 2011). Oleh
karena itu, peneliti berasumsi bahwa kemasan produk roti Sharon Bakery serial Doraemon
merupakan bagian dari praktik penandaan yang mempunyai lapisan makna di dalamnya yang
memengaruhi perilaku konsumen. Berdasarkan keseluruhan fenomena yang telah dijelaskan,
maka peneliti menggunakan pendekatan semiologi untuk menjelaskan cara kerja sistem
penandaan dalam kemasan roti Sharon Bakery.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Menurut Moleong (2010, p. 6),
penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang
apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll.
Secara holistik, dan dengan cara deskriptif analitis.
Pengertian dari metode deskriptif analitis menurut Sugiyono (2009, p. 29) adalah
suatu metode yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek
yang diteliti melalui data atau sampel yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa
melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum. Oleh karena itu,
penelitian ini akan mendeskripsikan data dan analisis secara deskriptif berdasarkan teori
semiologi Roland (Barthes, Roland. 2015. Nurhadi., Millah, A. Sihabul, 2015).
Pada tahap pengumpulan data, penulis menggunakan teknik simak, teknik catat, dan studi
pustaka (Mahsun, 2013, p. 123). Adapun rincian penyajian data sebagai berikut;
1.
Pada tahap ini penulis mengelompokkan data berdasarkan struktur kemasan yang dibagi
oleh Sucipta, dkk (2017, pp. 26, 32, 35). Menurut Sucipta, dkk struktur kemasan terdiri
dari warna, bentuk, merek atau logo, ilustrasi, tipografi dan tata letak. Struktur kemasan
pada penelitian ini digunakan sebagai kerangka dalam menganalisis setiap hubungan
penanda satu dengan lainnya yang terdapat pada kemasan roti Sharon Bakery.
2.
Dari hasil pengelompokkan tersebut data dianalisis menggunakan teori semiologi Roland
Andi Abd. Khaliq Syukur, M. Fahmi Reza dan Lina Siti Munawaroh
Tanda Kejepangan Pada Kemasan Roti Sharon Bakery Serial Doraemon
134
Barthes untuk mendudukkan hubungan relasi antar penanda dalam kemasan, baik itu dari
segi warna, bentuk, logo, ilustrasi, tipografi, dan tata letak.
3.
Berdasarkan keenam struktur kemasan menurut Sucipta, dkk dalam penelitian ini struktur
kemasan yang terdapat pada kemasan roti Sharon Bakery terdiri dari warna, ilustrasi,
tipografi dan tata letak yang dianalisis menggunakan teori Barthes dalam (Barker, 2006, p.
74) untuk menganalisis hubungan penanda kejepangan dengan penanda lainnya pada
kemasan roti Sharon Bakery sehingga memunculkan makna denotatif dan konotatif.
4.
Selain itu juga dari hubungan makna penanda kejepangan dengan penanda lain dianalisis
menggunakan teori Linguistic Message yang memunculkan dua fungsi kebahasaan berupa
fungsi penambat (anchorage) dan fungsi pemancar (relay) untuk menemukan fungsi pesan
kebahasaan dari penanda citra dan penanda teks pada kemasan roti Sharon Bakery yang
terkandung dalam setiap penanda akan memunculkan suatu makna.
5.
Dari hasil analisis semiologi tersebut akan dihubungkan dengan makna tanda kejepangan
mempengaruhi perilaku konsumen berdasarkan hasil penelitian Lusiana yang dijadikan
sebagai dasar makna penanda kejepangan. Seperti, “menghasilkan kualitas premium”,
“berkaitan dengan sesuatu yang menyehatkan”, “akuntabel”, “tren kekinian”, dan
“mengglobal”.
6.
Selain itu juga makna tanda kejepangan memengaruhi perilaku konsumen dianalisis
menggunakan teori konsumen Simmel dan Paul Willis yang digunakan untuk
menemukan penanda menghasilkan sebuah ekspresi konsumen yang terkait mimpi dan
hasrat, identitas, dan komunikasi.
Penarikan Simpulan, merupakan tahap akhir dari sebuah penelitian. Setelah mendeskripsikan
sesuai dengan rumusan masalah dapat ditarik kesimpulan sebagai akhir penelitian.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada kemasan roti Sharon Bakery serial anime Doraemon menggunakan gambar dan
teks sebagai tanda kejepangan. Anime Doraemon merupakan salah satu anime Jepang yang
amiliar di Indonesia. Anime Doraemon dibuat dan dikenalkan kepada masyarakat Jepang
pada tahun 1970. Pengarangnya dikenal dengan sebutan Fujiko F. Fujio. Sedangkan di
Indonesia anime Doraemon dikenal pertama kali lewat komik yang dicetak oleh PT. Elex
Media Komputindo. Sekitar tahun 1990 baru kemudian menyusul versi anime atau film
animasi yang ditayangkan oleh RCTI.
Tokoh-tokoh terkenal dalam serial anime Doraemon yaitu Doraemon, Nobita,
Shizuka, Suneo dan Giant. Gambar tokoh-tokoh tersebut terdapat pada kemasan roti Sharon
Andi Abd. Khaliq Syukur, M. Fahmi Reza dan Lina Siti Munawaroh
Tanda Kejepangan Pada Kemasan Roti Sharon Bakery Serial Doraemon
135
Gambar
1
Bakery serial anime Doraemon yaitu: gambar Doraemon terdapat pada kemasan roti jenis
dorayaki rasa azuki spesial anime Doraemon dan Steamed Cheese Cake khusus serial anime
Doraemon, sedangkan gambar Nobita, Shizuka, Suneo dan Giant terdapat pada kemasan
jenis roti Steamed Cheese Cake varian chocolate, strawberry, cookies & cream, dan banana
yang merupakan jenis roti khusus serial anime Doraemon.
Kemasan roti Sharon Bakery serial anime Doraemon dalam penelitian ini dibagi
menjadi dua bagian yaitu, kemasan roti Sharon Bakery serial anime Doraemon jenis
dorayaki dan kemasan roti Sharon Bakery serial anime Doraemon jenis Steamed Cheese
Cake. Dalam analisisnya akan membahas relasi antara struktur kemasan yang berupa warna,
teks, gambar dan tata letak dengan tanda kejepangan pada kemasan roti Sharon Bakery serial
anime Doraemon. Analisis kemasan roti Sharon Bakery jenis dorayaki sebagai berikut;
Gambar 1. Analisis Kemasan Kue Dorayaki Serial Anime Doraemon
(Http://Www.Sharonbakery.Com/, n.d.)
Kue dorayaki di Jepang identik dengan warna cokelat dan merupakan makanan tradisional
Jepang (wagashi) dengan selai kacang merah. Meski demikian kemasan pada kue dorayaki
serial anime Doraemon ini tidak menggunakan warna cokelat melainkan warna kemasannya
yang disesuaikan dengan warna tokoh Doraemon yang selalu identik dengan warna biru
(Rejeki, 2011). Seperti pada skripsi saya ditemukan bahwasannya warna kemasan
dipengaruhi oleh rasa kue Jepang, contohnya dalam kemasan roti dorayaki original
menempatkan warna hijau pada kemasan sebagai representasi dari rasa green tea. Dengan
begitu kemasan roti dorayaki serial anime Doraemon ini didominasi oleh warna biru. Warna
yang dipengaruhi dari warna tokoh Doraemon (biru dan putih) memengaruhi warna di
sekitarnya dan adanya warna putih dan warna biru terlihat seperti didominasi oleh warna
biru. Oleh karena itu, ekspresi gambar yang ditampilkan, identitas kue dorayaki yang
melekat pada tokoh Doraemon, disertai dengan paduan warna khas tokoh Doraemon,
Andi Abd. Khaliq Syukur, M. Fahmi Reza dan Lina Siti Munawaroh
Tanda Kejepangan Pada Kemasan Roti Sharon Bakery Serial Doraemon
136
menjadikan kemasan dan rotinya sebagai suatu yang padu dan mudah diidentifikasi sehingga
menarik konsumen untuk membeli.
Kemasan memperlihatkan tokoh anime Doraemon yang sedang duduk santai
memegang kue dorayaki dengan ekspresi wajah bahagia Doraemon akan memakan kue
dorayaki kesukaannya dan terlihat menikmatinya. Jadi, memakan kue dorayaki akan
terkesan bahagia seperti Doraemon. Ada keterkaitan antara gambar tokoh Doraemon dengan
gambar kacang merah yaitu selain menggambarkan isi selai dari kue dorayaki juga
memberikan ciri khas kue dorayaki Jepang sebagai makan tradisional Jepang yang berisi
selai kacang merah.
Kemasan ini lebih menonjolkan budaya populer Jepang dengan menempatkan tokoh
Doraemon dalam anime Doraemon yang menjadikan representasi budaya pop Jepang.
Kemasan terkesan hidup karena menggunakan kemasan dengan perpaduan warna dan
gambar sehingga menjadi pusat perhatian. Penggunaan citra tokoh Doraemon mendominasi
pusat kemasan. Penggunaan warna biru pada kemasan, tokoh Doraemon dengan ekspresi
tertawa terkesan bahagia ketika memakan kue dorayaki yang disesuaikan dengan aslinya
pada anime Doraemon dan kemasan terlihat penuh dan kompleks saling berhubungan satu
dengan yang lainnya.
Penekanan tidak hanya pada gambar, juga ditekankan pada penulisan teks bahasa
Jepang yang juga mendominasi kemasan dan berhighligt untuk memperjelas fungsi teks pada
kemasan. Penggunaan teks bahasa Jepang yang terdiri dari huruf hiragana-kanji dan romaji
dengan ukuran yang beragam. Seperti teks bahasa Jepang, yaitu teks dorayaki ditulis
dengan ukuran yang lebih besar dari teks「どらき」, kemudian teks oishii ditulis
dengan ukuran lebih besar dari teks . Perbedaan ukuran ini menunjukkan
adanya penekan bahasa Jepang yang lebih pada ukuran yang lebih besar menjadikan
konsumen untuk berasumsi bahwa produk kuliner ini produk Jepang yang dipasarkan di
Indonesia atau memang dibuat oleh produsen Jepang. Padahal diketahui Roti Sharon Bakery
merupakan produk lokal Indonesia yang memanfaatkan penanda kejepangan untuk menarik
konsumen.
Penggunaan teks bahasa Jepang juga dijadikan sebagai penjelas rasa dari roti, seperti
teks azukiyang berarti kacang merah dan diperjelas oleh gambar kacang merah walaupun
tanpa adanya alih bahasa untuk memperjelas rasa, tetapi teks azuki dipertegas dengan
tulisan berwarna merah yang menunjukkan rasa kacang merah dan berfungsi memperjelas
rasa. Juga rasa azuki diperjelas oleh layout berwarna merah bertuliskan dorayaki yang
Andi Abd. Khaliq Syukur, M. Fahmi Reza dan Lina Siti Munawaroh
Tanda Kejepangan Pada Kemasan Roti Sharon Bakery Serial Doraemon
137
menggunakan warna dasar lingkaran berwarna merah sehingga terlihat penting dan seolah-
olah tertuju langsung bahwa kue dorayaki ini rasa kacang merah. Oleh karena itu, pada
kemasan ini produsen Sharon Bakery mengajak konsumen untuk menikmati budaya
makanan tradisional Jepang melalui kue dorayaki yang berisi selai azuki atau kacang merah.
Dengan begitu, konsumen akan semakin tertarik untuk mencobanya.
Penggunaan teks azuki sebagai penanda rasa menggunakan bahasa Jepang yang
sebenarnya tidak akan diketahui artinya dan maksudnya oleh konsumen sehingga konsumen
akan beranggapan tidak ada hubungannya dengan gambar kacang merah yang berada
disampingnya, padahal sebenarnya azuki berarti kacang merah. Oleh karena itu,
ketidaktahuan konsumen terhadap bahasa Jepang akan membuat konsumen penasaran dan
membeli rotinya. Dalam hal ini produsen Sharon Bakery berusaha menjual rasa penasaran
konsumen dan membeli ketidaktahuan konsumen terhadap bahasa Jepang melalui
penggunaan penanda rasa pada kemasan, sehingga konsumen membeli dan mencoba seperti
apa rasa azuki tersebut.
Selain itu juga, penggunaan rounded rectangle yang memberikan kesan sama seperti
balon percakapan yang berisi teks bahasa Jepang dalam huruf romaji bertuliskan “oishiidan
dalam huruf hiragana しい dengan ukuran yang berbeda, oishii lebih besar
dari pada berfungsi untuk memperjelas cara baca huruf hiragana
「おいしい」. Karena di Indonesia sendiri penggunakan kata oishii sudah dikenal oleh
masyarakat luas karena kata oishii banyak digunakan pada kemasan makanan yang lain
baik produk makanan Jepang ataupun produk makanan Indonesia. Fungsi rounded rectangle
ini sama seperti fungsi balon percakapan seolah-olah berbicara kepada konsumen yang
melihatnya “Inilah kue dorayaki yang enak dan wajib mencobanya!”.
Sementara itu untuk penggunaan bahasa Inggris pada kemasan kue dorayaki serial
anime Doraemon ini tidak banyak digunakan, karena didominasi oleh teks berbahasa Jepang.
Teks bahasa Inggris digunakan pada bagian depan kemasan bertuliskan newberarti baru
yang memberikan kesan bahwa kemasan serial anime Doraemon merupakan kemasan edisi
baru atau baru dikeluarkan oleh produsen dan citra produk baru dipertegas dengan gradasi
warna merah yang menjadikan tulisan new berhighlight terkesan penting. Juga pada
kemasan bagian belakang, komposisi dan peringatan ditulis menggunakan bahasa Inggris
dengan ukuran yang lebih kecil dibandingkan dengan tulisan berbahasa Jepang sehingga
terkesan lebih menonjolkan citra Jepang pada kemasannya. Pada kemasan ini produsen
menempatkan Jepang sebagai poin utama untuk menarik konsumen, baik dalam segi bahasa
Andi Abd. Khaliq Syukur, M. Fahmi Reza dan Lina Siti Munawaroh
Tanda Kejepangan Pada Kemasan Roti Sharon Bakery Serial Doraemon
138
maupun penempatan budaya, yaitu penggunaan bahasa Jepang dan ikon Jepang yang dikenal
di Indonesia, seperti tokoh anime Doraemon.
Adapun penggunaan bahasa Indonesia pada kemasan ini hanya berfungsi sebagai
penjelasan dari bagian komposisi, peringatan, himbauan, larangan dan saran penyimpanan
dengan ukuran kecil sama seperti teks bahasa Inggris yang menjelaskan komposisi dan
peringatan.
Fungsi kebahasaan (linguistic message) pada kemasan kue dorayaki serial anime
Doraemon mempunyai dua fungsi kebahasaan, yaitu fungsi penambat (anchorage) dan
fungsi pemancar (relay). Pada kemasan ini fungsi penambat (anchorage) mempunyai dua
fungsi, yaitu pertama terletak pada teks berbahasa Jepang「どら焼き」dan dorayaki
yang berfungsi sebagai penegas dari keberadaan gambar tokoh Doraemon yang sedang
memakan dorayaki dan merupakan bagian dari tanda kejepangan yang populer di
masyarakat Indonesia melalui penayangan anime Doraemon di salah satu stasiun televisi
Indonesia. Kedua terletak pada teks bahasa Jepang dalam huruf romaji azuki yang
berfungsi sebagai penjelas dari gambar kacang merah yang ditampilkan sebagai rasa dari
roti. Sedangkan kata “azukisendiri berarti kacang merah.Fungsi penambat (anchorage)
pada kemasan menyajikan citra tokoh Doraemon untuk memperjelas suatu kultur atau
budaya dari negara Jepang yang popularitas kulturnya sangat populer di Indonesia. Oleh
karena itu, pada kemasan kue dorayaki serial anime Doraemon ini, teks bukan lagi sebagai
penjelas dari gambar tetapi untuk menaturalkan pesan tersirat yang terkandung pada masing-
masing penanda citra.
Selanjutnya fungsi pemancar (relay) pada kemasan ini kue dorayaki serial anime
Doraemon, yaitu terletak pada teks「おいしい」oishii dalam rounded rectangle yang
berfungsi sama seperti balon percakapan memperjelas secara keseluruhan pada kemasan
yang memberikan citra enak ketika melihat kemasannya. Karena kata 「おいしい」oishii
sendiri berarti enakdan terlihat seperti sedang berbicara kepada konsumen Kue dorayaki
ini enak, wajib mencicipinya. Teks 「おいしい」oishii dengan keseluruhan kemasan
saling melengkapi dan menyempurnakan untuk menarik perhatian konsumen dan mengajak
konsumen mengkonsumsi kue dorayaki karena enak. Terlebih lagi semakin menarik
kemasannya akan semakin menarik konsumen untuk membelinya, dan akan meningkatkan
nilai jual kemasan dibandingkan dengan nilai jual isinya (makanannya). Karena konsumen
ketika membeli suatu produk kuliner yang pertama kali dilihat adalah kemasan yang menarik
dan membuat penasaran yang melihatnya.
Andi Abd. Khaliq Syukur, M. Fahmi Reza dan Lina Siti Munawaroh
Tanda Kejepangan Pada Kemasan Roti Sharon Bakery Serial Doraemon
139
Produsen Sharon Bakery dengan menghadirkan tanda kejepangan pada kemasan ini
berharap bahwa konsumen tidak hanya mengkonsumsi rotinya tetapi juga merasakan kultur
Jepang saat memakan rotinya, seperti melalui anime Doraemon konsumen mengetahui
bagaimana bahagianya tokoh Doraemon ketika memakan dorayaki, begitu pula produsen
mengharapkan rasa bahagia yang sama seperti tokoh Doraemon ketika konsumen
memakannya.
Produsen dalam memengaruhi konsumen melalui pandangan pertama. Dimulai dari
melihat perpaduan warna kemasan yang menarik, menempatkan sesuatu yang sedang
booming atau populer di masyarakat pada kemasannya, sehingga konsumen terfokus,
penasaran dan pada akhirnya membeli. Jika sesuai dengan harapan konsumen, konsumen
akan terus-menerus mengkonsumsinya atau menjadi kebutuhan utama. Dengan produsen
berhasil menempatkan desain kemasan yang menarik pada pandangan pertama. Nilai jual
produk dimulai dari kemenarikan kemasan untuk meningkatkan nilai beli konsumen.
Selanjutnya analisis kemasan roti Sharon Bakery serial anime Doraemon roti jenis
Steamed Cheese Cake serial anime Doraemon adalah sebagai berikut;
Gambar 2. Analisis Roti Steamed Cheese Cake Seria Anime Doraemon
(Http://Www.Sharonbakery.Com/, n.d.)
Kemasan gambar 2 merupakan roti jenis Steamed Cheese Cake yang juga edisi
khusus serial anime Doraemon. Warna pink pada gambar 2.1 disesuaikan dengan warna pink
pakaian yang dipakai oleh karakter tokoh Shizuka. Kemasan gambar 2.1 memperlihatkan
tokoh anime Shizuka yang sedang duduk santai manis yang terlihat feminim sebagai tokoh
anime perempuan yang cantik ditambah dengan ekspresi wajah tertawa dengan tangan kanan
terbuka dan terangkat seperti sedang menawarkan roti Sharon Bakery jenis Steamed Cheese
Cake Strawberry kepada orang yang melihatnya. Kemudian ditambah lagi dengan warna
Andi Abd. Khaliq Syukur, M. Fahmi Reza dan Lina Siti Munawaroh
Tanda Kejepangan Pada Kemasan Roti Sharon Bakery Serial Doraemon
140
pakaian yang dipakai Shizuka dengan warna pink lebih memperlihatkan lagi sisi
kefeminimannya, warna pink yang lebih soft dan warna ungu muda dipadupadankan dengan
warna latar kemasan dengan warna pink yang lebih terang dan menempatkan warna ungu
sebagai latar tulisan dan terlihat sangat serasi, menggugah rasa enak yang terpancar dari
rotinya.
Citra yang tergambar pada kemasan gambar 2.1 memberikan kesan lembut dan
feminim yang membuat kesan terhadap rotinya pun seperti gambaran tokoh anime Shizuka
tersebut. Berbeda dengan tokoh Doraemon pada gambar 1 yang identik dengan isi rotinya,
yaitu kue Dorayaki. Tokoh Shizuka tidak terkait sama sekali dengan isi produk makanan.
Oleh karena itu, paduan warna, karakternya dan posisi tubuhnya yang feminin, berperan
sebagai penanda produk Jepang. Sebagaimana yang telah diketahui oleh pembeli dengan
karakter Shizuka yang feminin. Dalam bahasa Jepang shizuka dapat diartikan sebagai
diam. Dalam kemasan itu, kesan diam dan femininitas itu masih dicitrakan atau ditampilkan.
Selanjutnya penggunaan warna biru pada gambar 2.2, yaitu penyesuaian dengan
warna pakaian yang dipakai karakter tokoh Suneo. Kemasan gambar 2.2 memperlihatkan
tokoh Suneo yang berdiri tegak dengan sebelah kaki terlipat yang menjadikan kesan terlihat
lebih santai, malas dan kemudian tangan sebelah kanan terangkat seperti sedang
menawarkan sesuatu, sedangkan tangan sebelah kirinya terlipat ke belakang badan dan
mulutnya yang terbuka dengan wajah ceria. Dari keseluruhan gesture tubuh tokoh anime
Suneo tersebut terlihat dengan santai tokoh Suneo seperti mengatakan kalimat Inilah keju
kue kukus rasa cookies cream”. Kemudian warna mendukung kehadiran tokoh Suneo pada
kemasan dengan memadukan warna pakaian biru muda dengan warna kemasan biru tua akan
terlihat serasi dan memberikan kesan tenang dan santai.
Tokoh Suneo pada gambar tidak ada kaitannya dengan produk makanan. Tetapi, citra
yang tergambar dari perpaduan gesture tubuh tokoh anime Suneo adalah sikap yang relax
atau santai. Karakter tokoh Suneo yang relax masih ditampilkan pada gambar sesuai dengan
karakter tokoh Suneo pada anime Doraemon.
Sementara itu, penggunaan warna kuning pada gambar 2.3, yaitu penyesuaian warna dengan
pakaian yang dipakai karakter tokoh Giant. Tokoh anime Giant pada gambar 2.3 berdiri
dengan gagah, bertubuh besar dan semangat berkobar ditambah ekspresi wajah ceria, mulut
terbuka seperti berteriak Ayooo beli kue kukus keju rasa pisang ini”, kedua tangan
mengepal dengan salah satunya terangkat ke atas, dan sebelah kaki terangkat dengan
ekspresi keseluruhan menampilkan kesan semangat dan kesan semangat itu dipadukan
Andi Abd. Khaliq Syukur, M. Fahmi Reza dan Lina Siti Munawaroh
Tanda Kejepangan Pada Kemasan Roti Sharon Bakery Serial Doraemon
141
dengan warna pakaiannya kuning dan cokelat menggambarkan semangatnya yang terpancar.
Kemudian kesan dari tokoh Giant juga tergambar pada kemasan dengan dukungan warna
yang sama dengan warna pakaian Giant dan memberikan kesan semangat pada rotinya.
Tokoh Giant pada gambar tidak ada keterkaitannya dengan isi produk makanan.
Tetapi tokoh Giant yang bersemangat, karakternya yang pantang menyerah sebagaimana
karakternya dalam anime dan perpaduan warna, dijadikan sebagai penanda produk Jepang.
Jadi, sebagaimana yang telah diketahui oleh konsumen bahwa karakter Giant selalu
bersemangat. Dalam bahasa Inggris kata giant berarti raksasa. Pada kemasan itu, kesan
raksasa atau bertubuh besar dan bersemangat masih ditampilkan secara utuh sesuai dengan
karakter aslinya pada anime Doraemon.
Berikutnya penggunaan warna cokelat pada gambar 2.4 tidak merujuk pada karakter
Nobita, melainkan pada rasa cokelat rotinya. Warna cokelat tersebut kemudian dipaksakan
masuk pada karakter Nobita seperti terlihat pada bagian kakinya yang diberi warna cokelat.
Tidak seperti pada kemasan serial khusus Doraemon lainnya, warna merujuk pada pakaian
atau celana masing-masing karakter. Sedangkan warna kaki Nobita dengan warna tangan dan
wajahnya berbeda, seharusnya warna kaki Nobita disesuaikan dengan warna tangan dan
wajah Nobita. Gejala ini menunjukkan pemaksaan penanda kejepangan dalam produk roti
Sharon Bakery.
Kemasan gambar 2.4 memperlihatkan tokoh anime Nobita berdiri tegak, salah satu
tangan mengepal dan satunya lagi terbuka seperti isyarat memberitahukan dan ditambah
wajah ceria dengan mulut terbuka seperti sedang meneriakkan Inilah kue keju kukus rasa
cokelat. sesuai dengan warna dasar kemasan cokelat yang menggambar rasanya, seperti
yang sudah dijelaskan sebelumnya pada bagian warna. Sebagaimana warna cokelat tersebut
kemudian dipaksakan masuk pada karakter tokoh Nobita seperti terlihat pada bagian kakinya
yang diberi warna cokelat. Seharusnya warna kaki tokoh Nobita dengan warna tangan dan
wajahnya berbeda, warna kaki disesuaikan dengan warna tangan dan wajah tokoh Nobita.
Gejala yang berbeda juga ditampilkan pada penggunaan warna pada kemasan gambar 2.5
adanya ketidaksesuaian dengan warna dari karakter tokoh Doraemon yang warna biru,
sedangkan warna dominan pada kemasan adalah warna cream. Selain itu, warna cream ini
juga tidak merujuk pada roti rasa keju. Meski demikian kemasan ini, masih terlihat padu
dengan produknya, tidak seperti pada gambar 2.4.
Kemasan gambar 2.5 memperlihatkan tokoh Doraemon dengan mulut terbuka lebar,
wajah sangat cerita, kaki melompat dan kedua tangan diangkat ke atas terlihat kesan yang
Andi Abd. Khaliq Syukur, M. Fahmi Reza dan Lina Siti Munawaroh
Tanda Kejepangan Pada Kemasan Roti Sharon Bakery Serial Doraemon
142
tergambar sangat bahagia. Kemudian warna biru yang mencolok dari warna dasar kemasan
warna cream akan menonjolkan gambar tokoh Doraemon yang menjadi penekanan rasa
bahagia yang dirasakan oleh tokoh Doraemon. Secara tidak langsung kesan pada kemasan
dan roti di dalamnya ikut terpengaruhi rasa bahagia, sehingga orang yang memakannya pun
akan bahagia seperti tokoh Doraemon.
Penempatan tokoh Doraemon pada kemasan tidak ada keterkaitan dengan produk
makanan, tetapi warna dan karakternya menjadi penanda produk Jepang. Tokoh Doraemon
dicitrakan kembali sesuai dengan tokoh Doraemon pada anime Doraemon.
Steamed cheese cake serial anime Doraemon terpusat pada gambarnya yaitu, tokoh-tokoh
serial anime Doraemon. Sedangkan teks pada kemasan gambar 2 ditulis kecil karena pada
kemasan terdapat representasi tanda kejepangan. Kemudian teks bahasa Inggris pada
kemasan gambar 2 ditulis lebih besar, terlihat kaku dan bold yang berfungsi
menyeimbangkan antara teks bahasa Inggris dengan gambar tanda kejepangan. Dan yang
terakhir penulisan teks bahasa Indonesia sebagai arti dari teks bahasa Inggris pada kemasan
gambar 2 dipertegas dengan teks yang berhighlight dan ukuran yang lebih besar dari pada
teks bahasa Indonesia. Sedangkan pada kemasan gambar 2 tidak terdapat gambar rasa
sehingga diperjelas dengan tulisan bahasa Indonesia dan berhighligt. Steamed Cheese Cake
serial anime Doraemon terpusat tepat pada tengah-tengah kemasan dengan teks huruf kapital
besar yaitu teks berbahasa Inggris. Selain itu, gambar karakter anime serial Doraemon pun
dijadikan sebagai titik fokus menjadi citra utama yang diikuti oleh tipografi sebagai bagian
dari citra.
Penempatan citra serial anime Doraemon pada bagian samping teks dengan ukuran
citra yang besar bahkan lebih besar dari teks memberikan kesan bahwa produk roti ini
merupakan produk roti Jepang atau produsen Indonesia yang bekerja sama dengan produsen
Jepang. Dilihat dari keseluruhan kemasan pada gambar 2, ekspresi dari setiap karakter anime
Doraemon itu dengan ekspresi bahagia, senang, seperti sedang menyapa ramah konsumen
yang dilihatnya, Hallo inilah produk roti enak, wajib mencobanya! dan ekspresi itu
memberikan kesan tersirat enak dari setiap produk rotinya. Konsumen jika disapa dengan
ramah, baik, dan wajah ceria akan tertarik untuk melihat sampai akhirnya membeli.
Apalagi serial anime Doraemon sangat populer di Indonesia baik di kalangan remaja
maupun orang tua dan terutama dikalangan anak-anak. Dengan terus menerusnya pemutaran
serial anime Doraemon di televisi membuat popularitasnya pun ikut naik lebih cepat dan
mudah diingat dikalangan masyarakat. Oleh sebab itu, produsen Sharon Bakery
Andi Abd. Khaliq Syukur, M. Fahmi Reza dan Lina Siti Munawaroh
Tanda Kejepangan Pada Kemasan Roti Sharon Bakery Serial Doraemon
143
memanfaatkan keuntungan dari kepopularitasan serial anime Doraemon dengan mengemas
produk rotinya dengan kemasan spesial serial anime Doraemon, kemasan dibuat semenarik
mungkin tanpa merubah kesan budaya dari negara Jepang pada serial anime Doraemon dan
penempatannya pun apik untuk menarik minat beli konsumen dan meningkatkan daya jual
produsen.
Penempatan citra serial anime Doraemon pada kemasan gambar 2 memberikan
dukungan lebih terhadap penulisan teks berbahasa Jepang seperti
「蒸しチズケキバナナ」yang ditulis kecil. Dengan adanya citra tersebut poin utama
dari teks berbahasa Inggris bertuliskan Steamed Cheese Cake akan berpindah pada citra
serial anime Doraemon sebagai pendukung dari teks bahasa Jepang yang ditulis kecil seperti
「蒸しチーズケーキバナナ」dibaca mushi chiizu keeki bananaberarti kue keju kukus
rasa pisang yang akan merubah sasaran fokus konsumen menjadi citra serial anime
Doraemon dan menjadikan tipografi hanya sebagai pendukung pada kemasan.
Sedangkan penggunaan bahasa Indonesia sebagai teks penerjemah dari teks bahasa
Inggris seperti Steamed Cheese Cake Banana dan teks bahasa Jepang seperti
「蒸しチーズケーキバナナ」dengan penulisan teks bahasa Indonesia seperti kue keju
kukus rasa pisang” berhighlight membuat teks bahasa Indonesia tidak kalah penting dari teks
bahasa Inggris. Teks bahasa Inggris juga digunakan untuk menjelaskan rasa yang ditulis
dengan highlight dan ditulis berurutan dengan teks bahasa Indonesia. Seperti, banana kue
keju kukus rasa pisang”, berfungsi untuk mempertegas bahwa produk roti ini rasa pisang.
Karena pada kemasan serial anime Doraemon ini rasa roti tidak digambarkan dengan gambar
rasa yang utuh sehingga tidak menempatkan gambar rasa pada kemasannya. Tetapi hanya
dituliskan dalam bentuk teks dan pengaruh warna kemasan yang disesuaikan dengan masing-
masing rasa roti seperti menggunakan warna cokelat untuk steamed cheese cake rasa cokelat.
Banana ditulis dalam bahasa Inggris berhighlight adalah untuk menjadi persamaan
dengan kata pisang ditulis 「バナナ」dalam teks berbahasa Jepang. Begitu juga dalam
teks bahasa Indonesia ditulis rasa pisang”. Ketiganya berhubungan dengan makna yang
sama dan berfungsi untuk saling menjelaskan antara satu dengan yang lainnya.
Terdapat perbedaan dengan kue dorayaki pada kemasan gambar 1, yaitu rasa enak pada
kemasan gambar 1 digambarkan dengan tulisan bahasa Jepang oishiiyang berarti enak”.
Sedangkan pada kemasan gambar 2 rasa enak yang ditampilkan pada kemasan bukan dengan
tulisan oishiiyang berarti enaktetapi dengan ekspresi ramah dan bahagia yang tersirat
Andi Abd. Khaliq Syukur, M. Fahmi Reza dan Lina Siti Munawaroh
Tanda Kejepangan Pada Kemasan Roti Sharon Bakery Serial Doraemon
144
dari setiap gambar tokoh serial anime Doraemon yang terdapat pada setiap kemasan
sehingga memberikan kesan enak bagi yang melihatnya.
Dari keseluruhan gejala yang ada pada gambar 2 menjadikan citra sebagai fokus
utama dan tipografi sebagai pendamping citra. Sehingga menjadikan konsumen tidak hanya
akan mengkonsumsi produk rotinya saja, tetapi akan merasakan citra yang menjadi fokus
utama dan tersurat pada kemasan dengan diwakili kesan tersirat pada setiap karakter anime
Doraemon, seperti keterkaitan citra yang satu dengan yang lainnya. Bahwasannya
penempatan setiap tokoh-tokoh Doraemon pada kemasan tidak ada keterkaitan dengan
produk makanan, tetapi warna dan karakternya menjadi penanda produk Jepang. Karakter
masing-masing tokoh Doraemon dicitrakan kembali sesuai dengan karakter masing-masing
tokoh Doraemon pada anime Doraemon.
Selain itu, setiap penulisan komposisi, peringatan ditulis dalam bahasa Indonesia
dengan ukuran kecil sehingga memerlukan ketelitian dalam membacanya. Oleh sebab itu
teks bahasa Indonesia tidak dijadikan sebagai fokus utama konsumen pada kemasan, tetapi
dijadikan penjelasan mengenai produk. Kemasan gambar 2 ini memiliki tata letak yang
sama, dimulai dari merek, tulisan Doraemon yang seperti sebuah logo sebagai penanda
bahwa produk merupakan produk serial anime Doraemon, citra setiap tokoh anime
Doraemon yang dikemas sesuai dengan yang ada pada anime Doraemon, nama jenis produk
dalam tiga bahasa yaitu bahasa Jepang, bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, komposisi,
logo halal, barcode produk, peringatan, alamat perusahaan dan BPOM produk.
Fungsi kebahasaan (Linguistic Message) pada gambar 2, yaitu dengan adanya citra
dan teks dengan lebih menonjolkan citra yang akan lebih memperlihatkan fungsi penambat
(anchorage) yang berfungsi untuk mengikat, mengkonotasikan citra dengan penanda-
penanda lainnya. Menyajikan citra serial anime Doraemon pada gambar 2 berfungsi untuk
menampilkan suatu kultur atau budaya dari negara Jepang yang popularitas kultur tersebut
sangat populer di Indonesia. Oleh karena itu, pada kemasan gambar 2 teks bukan untuk
menduplikasi citra atau sebaliknya tetapi untuk menegaskan makna konotasi dari citra. Teks
bukan lagi sebagai penjelas gambar tetapi sebagai penegas bahwa dengan adanya gambar
serial anime Doraemon akan meyakinkan konsumen bahwa produk roti ini merupakan
produk Jepang dan dilengkapi dengan keberadaan teks berbahasa Jepang.
Produsen menempatkan citra serial anime Doraemon pada kemasan dengan
perpaduan warna utama kemasan dengan karakter masing-masing tokoh anime Doraemon
menjadi pusat perhatian juga selain membuat menarik kemasan, akan menarik konsumen
Andi Abd. Khaliq Syukur, M. Fahmi Reza dan Lina Siti Munawaroh
Tanda Kejepangan Pada Kemasan Roti Sharon Bakery Serial Doraemon
145
untuk membelinya. Pada kemasan gambar 2 selain rasa yang dijual juga menawarkan budaya
Jepang karena keterkenalan serial anime Doraemon di Indonesia sehingga dijadikan sebagai
media jual di masyarakat. Produsen berusaha memengaruhi konsumen yang tidak memahami
bahasa asing dengan kehadiran gambar dan meyakinkannya dengan keberadaan bahasa
Jepang pada kemasan walaupun ditulis kecil tetapi dengan adanya gambar serial anime
Doraemon di sampingnya yang merupakan anime Jepang akan memberikan imaji terhadap
teks yang kecil menjadi besar, sehingga konsumen akan beranggapan bahwa produk roti ini
merupakan produk roti dari Jepang.
Produsen Sharon Bakery dengan menghadirkan tanda kejepangan pada kemasan
dengan harapan konsumen membeli rotinya. Produsen tidak hanya menjual rotinya tetapi
juga menjual budaya Jepang melalui Jepang yang dihadirkan pada kemasan seperti disajikan
berupa gambar serial anime Doraemon. Penempatan setiap tokoh Doraemon pada kemasan
tidak ada keterkaitan dengan produk makanan, tetapi warna dan karakternya menjadi
penanda produk Jepang yang akan membuat konsumen tertarik untuk membelinya.
Keseluruhan sistem penandaan yang terdapat pada gambar 2 direpetisi pada 5 jenis roti
Steamed Cheese Cake serial anime Doraemon lainnya, yaitu pada gambar sebagai tanda
kejepangan, fungsi kebahasaan dan tata letak yang disajikan dengan apik dan menarik.
Sebagaimana hasil analisis struktur kemasan roti Sharon Bakery serial anime
Doraemon yang menghasilkan relasi tanda kejepangan dengan keseluruhan penanda pada
kemasan. Selanjutnya bagaimana makna tanda kejepangan pada kemasan roti Sharon Bakery
memengaruhi perilaku konsumen, dikaitkan dengan hasil penelitian Lusiana dalam jurnalnya
Makna di balik produk kuliner berbahasa Jepang: Suatu relasi kuasayang menghasilkan
kesimpulan bahwa makna konotatif yang hadir dalam tulisan Jepang dikelompokkan dalam
lima kelompok, yaitu kualitas premium, berkaitan dengan sesuatu yang menyehatkan,
akuntabel, tren kekinian dan mengglobal.
Pertama, penanda kejepangan yang terkait dengan kualitas premium. Premium yang
ditunjukkan Lusiana pada jurnalnya adalah premium yang bersifat original atau keaslian.
Keaslian dalam roti Sharon Bakery direpresentasikan dengan ciri khas kejepangan, seperti
menghadirkan rasa khas makanan tradisional Jepang seperti Dorayaki; gambar yang terkait
dengan kebudayaan populer Jepang seperti serial anime Doraemon; dan penggunaan tulisan
Jepang untuk menunjukkan keaslian.
Kemasan roti Sharon Bakery dikaitkan dengan rasa khas makanan Jepang, menjadi
salah satu elemen untuk merepresentasikan keaslian Jepang. Seperti menghadirkan roti
Andi Abd. Khaliq Syukur, M. Fahmi Reza dan Lina Siti Munawaroh
Tanda Kejepangan Pada Kemasan Roti Sharon Bakery Serial Doraemon
146
dorayaki dengan rasa khas Jepang rasa azuki. Selain itu, ditambahkan balon percakapan yang
bertuliskan “「おいしい」oishii” untuk menimbulkan kesan khas asli rasa makanan Jepang.
Premium atau keaslian Jepang, juga dihadirkan dengan kebudayaan Jepang dalam bentuk
gambar budaya populer Jepang yaitu gambar tokoh-tokoh anime Doraemon seperti tokoh
Doraemon, Shizuka, Suneo, Giant, dan Nobita. Serial anime Doraemon sudah menjadi
kejepangan yang populer di Indonesia. Popularitas serial anime Doraemon dimanfaatkan
untuk menunjukkan bahwa terdapat relasi antara roti yang dijual dengan identitas
kejepangan yang asli atau premium.
Tulisan pada kemasan juga berperan untuk merepresentasikan keaslian Jepang.
Tulisan Jepang berfungsi sebagai alih bahasa dari bahasa Inggris dan bahasa Indonesia atau
sebaliknya. Bahasa Jepang hadir sebagai nama dari produk
seperti,「蒸しバナナチーズケーキ」, tulisan ini kemudian diikuti alihbahasa Inggris dan
bahasa Indonesia. Keberadaan tulisan bahasa Jepang ini, kemungkinan besar tidak mampu
dibaca oleh konsumennya yang tidak mampu membaca tulisan Jepang. Akan tetapi, di satu
sisi menegaskan keaslian Jepang, atau bagian dari produk Jepang.
Keaslian pada roti Sharon Bakery serial anime Doraemon direpresentasikan dengan
ciri khas kejepangan, seperti menghadirkan tradisional Jepang melalui rasa khas makanan
tradisional Jepang, gambar yang terkait dengan kebudayaan Jepang, dan tulisan yang
merepresentasikan Jepang sehingga menghadirkan ciri khas Jepang. Oleh karena itu,
menghadirkan ciri khas Jepang pada kemasan roti Sharon Bakery serial anime Doraemon
memengaruhi konsumsi konsumen terhadap roti Sharon Bakery. Kemasan roti Sharon
Bakery serial anime Doraemon menghadirkan kejepangan sehingga memberikan imajinasi
kepada konsumen bahwasannya produk tersebut merupakan produk asli Jepang. Ciri khas
Jepang memberikan dampak terhadap perilaku konsumen mengkonsumsi produk Jepang
yang asli dan premium.
Kedua, penanda kejepangan yang terkait dengan sesuatu yang menyehatkan. Sesuatu
yang menyehatkan ditunjukkan Lusiana pada jurnalnya adalah imaji tentang jepang itu
menyehatkan. Sehat dalam roti Sharon Bakery serial anime Doraemon direpresentasikan
melalui gambar dan tulisan, sebagaimana pula pada analisis sebelumnya. keaslian atau
premium secara tidak langsung menunjukkan bahwa produk Jepang merujuk kualitas yang
menyehatkan.
Pada dasarnya tidak ada penanda langsung yang menunjukkan sesuatu yang menyehatkan.
Meski demikian imaji tersebut dapat hadir melalui, imaji tentang jepang sebagai negara
Andi Abd. Khaliq Syukur, M. Fahmi Reza dan Lina Siti Munawaroh
Tanda Kejepangan Pada Kemasan Roti Sharon Bakery Serial Doraemon
147
modern, negara yang bersih dan sehat. Karena itu, dengan sadar Sharon Bakery
memanfaatkan penanda kejepangan dalam kemasannya, sebab Jepang memiliki lapisan
pemaknaan yang berlapis.
Ketiga, penanda kejepangan yang terkait dengan suatu produk yang akuntabel.
Produk yang akuntabel ditunjukkan Lusiana pada jurnalnya adalah citra terpercaya.
Akuntabel dalam roti Sharon Bakery serial anime Doraemon direpresentasikan dengan
gambar dan tulisan. Sebagaimana pula pada analisis sebelumnya keaslian atau premium
secara tidak langsung menunjukkan bahwa produk Jepang merujuk pada kualitas yang
menyehatkan dan terpercaya. Begitu pula dengan tulisan yang merepresentasikan akuntabel
seperti menghadirkan gambar dan teks yang berkaitan dengan Jepang, seperti pada jenis kue
dorayaki mengkomunikasikan kemasan dengan konsumennya sehingga memberikan imaji
bahwa orang Jepang pun mengkonsumsi roti Sharon Bakery serial anime Doraemon,
sehingga menumbuhkan kepercayaan di masyarakat untuk membeli dan mengkonsumsinya.
Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa produk roti Sharon Bakery merupakan produk yang
akuntabel atau dapat dipercaya.
Keempat, penanda kejepangan yang terkait dengan tren kekinian. Tren kekinian
yang ditunjukkan Lusiana pada jurnalnya adalah produk yang menimbulkan citra unik,
berbeda dan trendi. Kekinian dalam roti Sharon Bakery direpresentasikan dengan ciri khas
kejepangan, seperti menghadirkan kepopuleran Jepang serta tulisan Jepang yang keaslian
atau premium secara tidak langsung menunjukkan bahwa produk Jepang merujuk pada
kualitas yang menyehatkan dan terpercaya .
Kepopuleran Jepang direpresentasikan pada kemasan melalui serial anime Doraemon dan
tulisan berbahasa Jepang. Kepopuleran Jepang melalui serial anime dengan terus
ditayangkannya serial anime Doraemon sampai sekarang dan banyak digemari oleh
masyarakat sehingga serial anime Doraemon menjadi salah satu tren kekinian yang terus ada
di masyarakat Indonesia.
Penggunaan tulisan Jepang pada roti Sharon Bakery yang mana tulisan Jepang jauh
berbeda dalam hal bentuknya atau pun penulisannya dengan tulisan bahasa Indonesia
ataupun bahasa Inggris, tulisan atau huruf Jepang, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya
pada bagian analisis tipografi bahwasannya jenis huruf Jepang terdiri dari huruf hiragana
(huruf asli Jepang untuk menuliskan kosakata asli bahasa Jepang), huruf katakana (huruf
Jepang untuk menuliskan kosakata serapan dari bahasa asing) serta huruf kanji (huruf yang
berasal dari Cina). Pada kemasan roti Sharon Bakery ini penggunaan huruf bahasa Jepang
Andi Abd. Khaliq Syukur, M. Fahmi Reza dan Lina Siti Munawaroh
Tanda Kejepangan Pada Kemasan Roti Sharon Bakery Serial Doraemon
148
sangat ditampilkan baik berupa huruf hiragana, katakana, maupun kanji dan bahkan romaji.
Seperti pada alih bahasa nama jenis roti (seperti: 蒸しバナナチズケキ、どら焼き
dan lainnya), pada balon percakapan (seperti: おいし oishii) dan nama rasa roti (seperti:
azuki).
Penggunaan huruf Jepang dan bahasa Jepang pada kemasan roti Sharon Bakery
menjadikan roti terlihat lebih unik, menarik dan berbeda dari produk yang lainnya sehingga
memperlihatkan keaslian dari Jepang yang menghadirkan citra kekinian.
Tren kekinian dihadirkan melalui anime Doraemon, tulisan berbahasa Jepang yang secara
tidak langsung diasumsikan merujuk pada kualitas trendi sehingga memengaruhi imajinasi
dan perilaku konsumen untuk mengkonsumsinya.
Kelima, penanda kejepangan yang mengglobal. Global yang ditunjukkan Lusiana
pada jurnalnya adalah menghadirkan citra produk yang mengglobal. Mengglobal dalam roti
Sharon Bakery serial anime Doraemon direpresentasikan dengan bahasa. Sebagaimana yang
sudah dibahas sebelumnya, trendi identik dengan mengglobal.
Bahasa yang digunakan pada kemasan menggunakan tiga bahasa yaitu, bahasa
Jepang, bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, baik berupa kata maupun kalimat melalui
penulisan nama produk, deskripsi produk, dan slogan. Bahasa Jepang hadir sebagai nama
produk seperti「蒸しチョコチーズケーキ」yang kemudian dialihbahasakan dalam bahasa
Inggris Steamed Chocolate Cheese Cake dan bahasa Indonesia Kue Keju Kukus Rasa
Cokelat”. Sedangkan deskripsi produk pada kemasan, seperti pada komposisi dan peringatan
yang menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Penggunaan bahasa asing bahasa Jepang dan bahasa Inggris tersebut mencitrakan
produk roti Sharon Bakery seria anime Doraemon mengglobal atau mendunia. Oleh karena
itu, konsumen yang mengkonsumsinya menjadi bagian dari globalisasi masyarakat yang
mengikuti tren. Kemasan roti Sharon Bakery serial anime Doraemon memanfaatkan
kepopuleran Jepang di Indonesia menjadikan produsen Sharon Bakery menggunakan bahasa
atau tulisan Jepang dan gambar-gambar yang berkaitan dengan Jepang atau gambar
kejepangan pada kemasannya untuk mengglobalisasikan produknya. Dengan mengglobalnya
roti tersebut, konsumen di Indonesia bisa merasakan produk kuliner tanpa harus pergi
berkunjung ke Jepang untuk merasakan dan menikmatinya. Karena Jepang sudah dituangkan
pada isi maupun desain kemasannya. Oleh karena itu, dengan mengkonsumsi roti Sharon
Bakery menimbulkan imaji bahwa masyarakat yang mengkonsumsinya tidak ketinggalan
zaman atau bisa mengikuti tren kekinian.
Andi Abd. Khaliq Syukur, M. Fahmi Reza dan Lina Siti Munawaroh
Tanda Kejepangan Pada Kemasan Roti Sharon Bakery Serial Doraemon
149
Produk roti Sharon Bakery serial anime Doraemon merupakan produk yang
mengedepankan keaslian dengan memunculkan budaya populer melalui serial anime
Doraemon. Dengan begitu memunculkan kepercayaan konsumen untuk membeli dan
mengkonsumsi produk roti Sharon Bakery serial anime Doraemon.
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan data yang telah didapatkan dan diolah dengan menggunakan
teori Roland Barthes yang dikaitkan dengan hasil penelitian Lusiana. Dari hasil pembahasan
tersebut, diperoleh simpulan bahwa analisis relasi penanda kejepangan dalam kemasan
terdiri atas warna, ilustrasi, dan tipografi. Analisis warna disesuaikan dengan penanda
kejepangan seperti pada tokoh-tokoh serial anime Doraemon. Analisis ilustrasi atau gambar-
gambar yang merujuk pada kemasan sebagai penanda keaslian Jepang sebagai budaya
populer Jepang seperti penanda kejepangan serial anime Doraemon. Sedangkan analisis
tipografi atau tulisan Jepang pada kemasan berkontribusi untuk konsumen membayangkan
keaslian produk Jepang dengan penggunaan bahasa Jepang yang dominan pada kemasan.
Keseluruhan analisis relasi penanda pada struktur kemasan pada kemasan roti Sharon Bakery
serial anime Doraemon itu menekankan Jepang sebagai, produk yang mengedepankan
keaslian dengan kepopuleran budaya populer Jepang melalui penempatan penanda
kejepangan pada kemasan roti Sharon Bakery serial anime Doraemon. Kemudian makna
tanda kejepangan pada kemasan roti Sharon Bakery serial anime Doraemon memengaruhi
perilaku konsumen dengan cara menghadirkan mitos Jepang sebagai, produk yang
mengedepankan keaslian melalui budaya populer dan tradisional Jepang. Oleh karena itu,
penanda dan petanda yang ada dalam kemasan berperan memengaruhi imajinasi konsumen
untuk memilih roti Sharon Bakery serial anime Doraemon.
Andi Abd. Khaliq Syukur, M. Fahmi Reza dan Lina Siti Munawaroh
Tanda Kejepangan Pada Kemasan Roti Sharon Bakery Serial Doraemon
150
REFERENSI
Annisa, R. Z. S. (2017). Usulan Desain Kemasan Produk Asam Jawa dengan Menggunakan
Metode Kansei Engineering. Jurnal Teknik Industri UNISI, 1(1), 20–21.
Barker, Chris. . (2006). Cultural Studies: Teori & Praktik. Nurhadi, penerjemah. Terjemahan
dari: Cultural Studies, Theory and Practice. Yogyakarta (ID): Kreasi Wacana.
Barthes, Roland. 2015. Nurhadi., Millah, A. Sihabul. (2015). Mitologi.Terjemahan dari:
Mythologies. Yogyakarta (ID): Kreasi Wacana.
Firdaus, A. M. (2021). Efektivitas Instagram sebagai Media Promosi Produk Olahan Pertanian
Kopi di Rumah Kopi Sunda Hejo. Jurnal Sains Komunikasi Dan Pengembangan
Masyarakat [JSKPM], 5(6), 895–907. http://www.Sharonbakery.com/. (n.d.).
Lusiana, Yusida. (2018). Japanese Hegemoni in the World of Culinary Business. International
Conference of Japanese Language Education (ICoJLE), 19-20 October, 40–50.
Mahsun, M. S. (2013). Metode Penelitian Bahasa: Tahapan strategi, metode dan tekniknya.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Moleong, L. J. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja.
Nugrahani, R. (2015). Peran desain grafis pada label dan kemasan produk makanan umkm.
Imajinasi: Jurnal Seni, 9(2), 127–136.
Pulungan, M. H., Hastari, L. D., & Dewi, I. A. (2019). Perbaikan desain kemasan produk
biskuit brownies menggunakan metode quality function deployment (QFD). Teknotan:
Jurnal Industri Teknologi Pertanian, 13(2), 39–46.
Rejeki, S. (2011). Pengenalan Tokoh Punakawan Sejak Dini pada Anak-Anak TK melalui
Media Cerita Bergambar.
Sucipta, Dkk. (2017). Pengemasan Pangan-Kajian Pengemasan yang Aman, Nyaman, Efektif
dan Efisien. Denpasar: Udayana University Press.
Sudargo, T., Kusmayanti, N. A., & Hidayati, N. L. (2018). Defisiensi Yodium, Zat Besi, dan
Kecerdasan. UGM PRESS.
Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sukanta, T. (2020). Analisis Strategi Bersaing dan Strategi Bertahan pada Industri Mikro dan
Kecil Panganan Keripik Kemasan di Kecamatan Coblong Kota Bandung Jawa Barat
Tahun 2020 Ditengah Situasi Sulit Penyebaran Pandemi COVID-19. JSMA (Jurnal Sains
Manajemen Dan Akuntansi), 12(1), 37–53.
Sutiarso, C. (2011). Pelaksanaan Putusan Arbitrase dalam Sengketa Binis. Yayasan Pustaka
Obor Indonesia.