NIJI
Jurnal Kajian Sastra, Budaya, Pendidikan dan Bahasa Jepang
Vol. 2, No. 2, Juli 2020, p-ISSN 2355-889X
https://doi.org/10.18510/jt.2021.xxx
http://jurnal.stibainvada.ac.id/
89
TINDAK TUTUR EKSPRESIF MEMUJI DALAM FILM
KUROSAKI KUN NO IINARI NI NANTE NARANAI”
(KAJIAN PRAGMATIK)
Citra Dewi
Institut Pendidikan dan Bahasa (IPB) Invada Cirebon
Aulia Arifbillah A.
Institut Pendidikan dan Bahasa (IPB) Invada Cirebon
Tiara Maulina Prastika!
Institut Pendidikan dan Bahasa (IPB) Invada Cirebon
Riwayat Artikel:
Diterima April 2020;
Direvisi Juni 2020;
Diterima Juli 2020.
Abstrak
Pujian ialah memberikan apresiasi kepada penutur atas perbuatan yang dilakukannya. Dalam
penelitian ini penulis membatasi hanya meneliti jenis-jenis tindak tutur ekspresif memuji
pada film “Kurosaki kun no Iinari ni Nante Naranai” yang menyatakan pujian. Penelitian ini
bertujuan untuk mengidentifikasi jenis dari tindak tutur ekspresif memuji beserta menjelaskan
penggunaan konteksnya. Rumusan masalah dari penelitian ini yaitu jenis-jenis tindak tutur
ekspresif memuji dan penggunaan konteksnya yang terdapat pada film “Kurosaki kun no
Iinari ni Nante Naranai”. Teori yang digunakan yaitu tindak tutur ekspresif menurut Searle
dalam (Chaer, 2010, pp. 28-29) dan konteks menurut Dell Hymes dalam (Chaer A. , 2012, p.
63) . Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif menurut (Muri, 2014, p.
43) . Dari hasil penelitian diidentifikasi bahwa jenis-jenis tindak tutur ekspresif memuji
terdiri atas memuji penampilan, memuji kemampuan dan memuji kepribadian yang
dituturkan secara implisit. Selain itu, maksud dari tuturan dapat dikaitkan dengan konteks
tuturan yang mempengaruhinya.
Kata Kunci/Keywords: Pragmatik Tindak tutur ekspresif, Memuji, Kurosaki kun no Iinari ni
Nante Naranai.
Citra Dewi, Aulia Arifbillah A., Tiara Maulina Prastika
Tindak Tutur Ekspresif Memuji dalam Film “Kurosaki Kun No Iinari Ni Nante Naranai”
(Kajian Pragmatik)
90
PENDAHULUAN!
Bahasa adalah alat komunikasi yang dapat digunakan pada masyarakat guna saling
bertukar informasi (Anjani et al., 2018). Dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu
berkomunikasi menggunakan bahasa dalam berbagai macam tuturan (Apriastuti, 2017).
Tuturan tersebut tidak akan terealisasikan apabila tidak adanya mitra tutur atau lawan bicara
(Izar & Rengki Afria, 2020). Pada setiap tuturan yang disampaikan menghasilkan suatu tindakan,
serta makna tersurat maupun tersirat tentunya tidak terlepas dari suatu konteks (Purwaningrum
& Nurmalia, 2019). Apabila tindakan-tindakan yang dihasilkan melalui tuturan disebut dengan
tindak tutur (Fadilah, 2019). Pada dasarnya tindak tutur antara penutur dan mitra tutur bukan
sebatas ucapan melainkan terdapat suatu dorongan tindakan yang menjadikannya sebagai
tindakan. Tuturan di dalam tindak tutur bisa digunakan pula untuk menyatakan sesuatu yang
dirasakan oleh penutur hal tersebut sangat erat terkait dengan kondisi psikologis, ini yang
disebut dengan tindak tutur ekspresif (Yusuf et al., 2018). Tindak tutur ekspresif diantaranya,
berterima kasih, memberi selamat, memuji, mengkritik (Faroh & Utomo, 2020) dan menyela.
Ekspresi memuji juga tergolong ke dalam tindak tutur ekspresif.(Ningrum, 2022).
Memuji merupakan memberi apresiasi hal yang positif kepada mitra tutur (Kusmantoa
et al., 2016). Dalam hal menyatakan suatu pujian kepada mitra tutur yang harus diperhatikan
bahwa pada dasarnya setiap manusia sangat menyukai apabila dipuji atas jerih payah yang ia
lakukan (Setiani, 2011) dan memuji juga bisa meningkatkan suatu hubungan harmonis.
Tuturan memuji bisa dilakukan dengan dua cara penyampaian, langsung maupun tidak
langsung (Taufina, 2017). Dalam tuturan langsung sudah sangat sering didapati dalam
kehidupan sehari-hari, contoh 「あなたの料理がとても美味しいです」anata no ryouri
ga totemo oishii desu“masakanmu sangat enak sekali” dari kalimat ini, secara intuitif mitra
tutur bisa langsung mengetahui bahwa penutur memuji rasa dari masakan mitra tutur.
Berbeda jika dalam tuturan menyapaikan dengan cara tidak langsung sebagai contoh
「はあ?どんな顔だろうがお前はお前だろうか」 yang berarti “haa? donna kao
darouka omae wa omae darou ka?” “Hah? Bagaimana wajah mu seperti apa, bukankah
begitu kau adalah kau”. Sedangkan pada kalimat ini, pujian dilakukan secara implisit
sehingga mitra tutur perlu menelaah lebih (Sasanti, 2013), apakah tuturan yang dimaksud
pujian ataupun ejekan. Untuk memahami lebih jelas maksud dari penutur harus paham dari
segi konteks tuturannya (Ariani et al., 2016). Tindak tutur ekspresif memuji tidak hanya
terdapat di dunia nyata yang sudah di paparkan di atas, tetapi di kehidupan fiksi seperti di
Citra Dewi, Aulia Arifbillah A., Tiara Maulina Prastika
Tindak Tutur Ekspresif Memuji dalam Film “Kurosaki Kun No Iinari Ni Nante Naranai”
(Kajian Pragmatik)
91
dalam media pun dapat di jumpai pada film, drama serta komik (SGR Thoib Soaloon et al.,
2018).
METODOLOGI PENELITIAN!
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan metode deskriptif.
Metode penelitian dalam sebuah penelitian dilakukan agar peneliti lebih fokus dan terarah
dalam melakukan sebuah penelitian. Metode penelitian adalah pemikiran yang sistematis
mengenai berbagai jenis masalah yang pemecahannya memerlukan pengumpulan dan
penafsiran fakta-fakta. Pendekatan kualitatif dapat digunakan apabila ingin melihat dan
mengungkapkan suatu keadaan maupun suatu objek dalam konteks, menemukan makna
(meaning) atau pemahaman yang mendalam tentang sesuatu masalah yang di hadapi, yang
tampak dalam bentuk data kualitatif, baik berupa gambar, kata, maupun kejadian serta dalam
natural setting(Muri, 2014, p. 43).
Sumber data penelitian ini diambil dari film yang berjudul Kurosaki kun no Iinari ni
Nante Naranai Data yang peneliti dapatkan berdasarkan pada dialog film tersebut, yang
peneliti dapat dari hasil simak dan catat (Susiati, 2019). Objek penelitian yang diamati
peneliti adalah tindak tutur ekspresif memuji yang diucapkan pemain dalam film tersebut.
Adapun data yang peneliti ambil merupakan data primer. Data primer yaitu data yang secara
khusus dikumpulkan oleh peneliti untuk menjawab dan menyelesaikan permasalahan yang
sedang diteliti. Data dikumpulkan peneliti menggunakan teknik simak catat.
Tahapan yang dilakukan meliputi menonton film Kurosaki kun no Iinari ni Nante
Naranai berulang kali, mencatat dialog percakapan yang akan di jadikan data menurut
(Mahsun, 2013, p. 132) lalu uji kredibilitas data dengan menggunakan bahan referensi. Data
yang ditemukan, di uji keabsahannya melalui subtittle yang telah di simak dan catat serta
pengecekan data yang dilakukan oleh native speaker menurut Sugiyono dalam (Prastowo,
2012, p. 265)
HASIL & PEMBAHASAN
1. Pujian Terhadap Penampilan
Pada data (1) percakapan di bawah ini terjadi di kamar asrama sekolah menengah
atas di Jepang. Tuturan pada data (1) melibatkan dua pelajar remaja SMA, Akabane Yuu
(tokoh utama) seorang wanita sebagai penutur dan Kurosaki Haruto (wakil ketua asrama)
seorang pria sebagai mitra tutur mereka berusia remaja. Tujuan dialog ini terkait dengan
Citra Dewi, Aulia Arifbillah A., Tiara Maulina Prastika
Tindak Tutur Ekspresif Memuji dalam Film “Kurosaki Kun No Iinari Ni Nante Naranai”
(Kajian Pragmatik)
92
permintaan Yuu yang meminta pendapat penampilan wajahnya tanpa riasan make up
kepada Kurosaki. Isi dialog ini ialah Yuu tidak ingin dilihat wajahnya ketika tidak
menggunakan riasan make up, jika hal itu terjadi Yuu berharap bahwa dirinya tidak
ditertawakan oleh Kurosaki. Pada saat Kurosaki mengemukakan pendapatnya pada
dialog tersebut dengan menggunakan intonasi lembut. Dialog ini diucapkan dengan lisan
oleh keduanya dengan menggunakan bahasa sehari-hari, karena hubungan antara penutur
dan mitra tutur merupakan teman satu kelas dan teman satu asrama sekolah. Norma yang
terjadi pada percakapan anak remaja ialah secara informal dikarenakan mereka berbicara
di sebuah kamar asrama.
Yuu : 見ないで!すっぴん 。地味うけると思ってるん
でし ょう?
: Minaide! Suppin!. Jimi ukeru to omotterun desho!
: jangan lihat! Aku sedang tak memakai riasan.
Kau berpikir kalau aku polos kan.
Kurosaki : はあ?どんな
だろうが
、お前はお前
だろうか。
: Ha? Donna kao darō ga, omae wa omae darōka.
: Hah? Bagaimana wajah mu seperti apa, kau adalah kau bukankah
begitu?
(Hayato, 2015)
Ha?/ Donna/ kao/ darō/ ga/, omae/ wa/ omae/ darō /ka
Inter/bagaimana pun/ wajah/Eks/ Dat/ kamu/Par/kamu/Eks/par
Hah? Bagaimana pun wajah mu seperti apa, kau adalah kau bukan kah begitu?
Dilihat dari lokusi pada kalimat menit 00:22:01~00:22:24 Ha? Donna kao darō
ga, omae wa omae darōka”kata Ha? Yang merupakan menyatakan interjeksi yaitu
kaget menurut Takanao dalam (Sudjianto dan Dahidi, 2012, p. 110). Donna memiliki arti
bagaimana. Kao memiliki arti muka. Darō yaitu kopula, ungkapan untuk
membangkitkan pengetahuan pendengar menurut (Iori, 2001, pp. 206-281). Ga sebagai
partikel menandakan datif. Omae memiliki arti kamu. Wa adalah partikel penanda topik,
omae memiliki arti kamu. Darōka mengungkapkan ketidakpastian yang berarti bukan
kah begitu?. Kalimat yang di tuturkan oleh Kurosaki (1) hanya merupakan suatu
pernyataan yang disampaikan penutur bahwa Kurosaki hanya memberi respon saja dari
apa yang Ia lihat kemudian disampaikan kepada Yuu yang sedang menunggu respon
balik dari Kurosaki. Respon lokusi yang disampaikan oleh Kurosaki tidak memiliki
Citra Dewi, Aulia Arifbillah A., Tiara Maulina Prastika
Tindak Tutur Ekspresif Memuji dalam Film “Kurosaki Kun No Iinari Ni Nante Naranai”
(Kajian Pragmatik)
93
maksud yang lain, selain hanya menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Yuu. Jika
dilihat dari segi ilokusi respon Kurosaki pada kalimat (1) memiliki sebuah maksud lain
yang menandakan yaitu suatu bentuk pujian mengenai wajahnya Yuu.
Berdasarkan tuturan ilokusi yang di tuturkan oleh Kurosaki, pada kalimat (1)
bahwa mencerminkan Kurosaki telah memuji dengan menekankan kata
yang berarti
adalah muka, wajah (Matsuura, 1994, p. 438), dan
お前
berarti engkau, kau
(Matsuura, 1994, p. 761), didukung dengan intonasi keras karena terkejut dilanjutkan
dengan intonasi lembut. Ketika kalimat tersebut diucapkan Kurosaki kepada Yuu untuk
menanggapi pertanyaannya, Yuu yang tampak baru terbangun dari tempat tidurnya dan
merasa kaget karena sudah berada di tempat tidur dan menggunakan pakaian kemeja
yang dirasa bukan miliknya. Setelah tersadar ternyata didapati adanya Kurosaki telah
berdiri di sudut kamarnya. Sontak terfikir tentang dirinya yang tidak memakai riasan dan
merasa takut tampak begitu polos di hadapan Kurosaki. Namun Kurosaki menanggapi
dengan kalimat (1) Ia pun setelah sadar sudah melontarkan pujian tanpa disadari kepada
Yuu, ekspresi wajahnya dan sikapnya langsung berubah menjadi salah tingkah, sebab
hubungan mereka adalah hubungan yang bisa dikatakan sangat dekat dikarenakan
Kurosaki selalu memerintah Yuu untuk melakukan kegiatan yang diperintahnya, secara
tidak langsung hubungan keduanya semakin dekat. Oleh karena itu ketika Kurosaki
mengucapkan pujian secara tidak langsung kepada Yuu intonasi yang dikeluarkan dengan
lembut. Dalam kalimat (1) didapati bahwa tuturan yang dilontarkan Kurosaki kepada
Yuu termasuk ke dalam tuturan jenis memuji penampilan, karena Kurosaki mengagumi
penampilan Yuu yaitu terletak pada wajahnya.
Tuturan di atas yang dikemukakan oleh Kurosaki kepada Yuu pada kalimat Ha?
Donna kao darō ga, omae wa omae darōka.merupakan tuturan memuji yang bermakna
implisit bahwa ‘mau pakai riasan maupun tidak, tidaklah aneh tetap cantik seperti
biasanya’.
2. Pujian Terhadap Kemampuan
Pada data (2) tuturan di bawah ini terjadi di Asrama Sekolah Menengah Atas di
Jepang. Kurosaki Haruto berada diruangan musik, Akabane Yuu dan Yusuke Kaji berada
di ruang tamu asrama sekolah. Pada tuturan (2) melibatkan tiga pelajar SMA Kurosaki
Haruto, Akabane Yuu dan Yusuke Kaji (seorang pria) mereka adalah siswa dan siswi
SMA yang berusia remaja. Tujuan dialog ini terkait dengan Yuu ingin mengetahui
bagaimana bisa terjadi alunan permainan piano Kurosaki yang bertolak belakang dengan
Citra Dewi, Aulia Arifbillah A., Tiara Maulina Prastika
Tindak Tutur Ekspresif Memuji dalam Film “Kurosaki Kun No Iinari Ni Nante Naranai”
(Kajian Pragmatik)
94
kepribadiannya. Isi dialog ini Yuu yang tidak sengaja mendengarkan alunan
permainan piano Kurosaki dari dalam ruang tamu, dan Kaji juga berada di ruang tamu
sampai Yuu tidak menyadari keberadaanya. Intonasi yang diucapkan Yuu berintonasi
penuh perlahan. Dialog ini diucapkan dengan lisan oleh keduanya dengan menggunakan
bahasa sehari-hari, karena hubungan antara penutur dan mitra tutur merupakan teman
satu kelas dan teman satu asrama sekolah. Norma yang terjadi pada percakaan ini
merupakan anak remaja yang sedang berbicara di ruang tamu sekolah, maka dari itu
bahasa yang digunakan tidak formal.
Kurosaki 「ピアノを弾いている」
(Piano wo hiiteiru)
(sedang memainkan piano)
Yuu なんであいつがこんな
やさしい音
Nande aitsu ga konna yasashii oto?
Kenapa dia bisa membuat suara yang lembut?
Kaji : いいよなくろさきくんのピアノ。
Iiyona Kurosaki kun no piano.
Nyaman nya mendengarkan alunan piano Kurosaki.
(Hayato, 2015)
Nande/ aitsu/ ga/ konna/ yasashii/ oto?
Kenapa/dia/Par/seperti itu/Lembut/suara
Kenapa dia bisa membuat suara yang lembut seperti itu?
Dilihat dari segi lokusi tuturan yang disampaikan Yuu pada kalimat menit
00:24:20~00:24:24 Nande aitsu ga konna yasashii oto?’, kata nande berarti kenapa.
Aitsu dapat diartikan dengan dia. Ga menandakan partikel. Konna memiliki arti seperti
itu. Yasashii memiliki arti lembut. Oto mempunyai arti suara. Kalimat yang diucapkan
Yuu hanya sebatas mengungkapkan yang Ia rasakan dan melihat pada kenyataanya
tentang kepribadian Kurosaki, Jika dilihat pada tuturan ilokusi kalimat Yuu (2) terdapat
makna memuji di dalamnya mengenai permainan alunan piano Kurosaki.
Dalam tuturan ilokusi yang diujarkan oleh Yuu (2) memperlihatkan bahwa telah
memuji permainan yang dimainkan oleh Kurosaki, walaupun Yuu menuturkan kalimat
pujian secara implisit tetapi dari tuturan tersebut, terlihat jelas sekali penekanan kata
yaitu やさしい’yang artinya lembut, lemah-lembut, lembut hati, manis (Matsuura,
1994, p. 1170). Dengan adanya penegasan kata おと’yang mempunyai arti suara
Citra Dewi, Aulia Arifbillah A., Tiara Maulina Prastika
Tindak Tutur Ekspresif Memuji dalam Film “Kurosaki Kun No Iinari Ni Nante Naranai”
(Kajian Pragmatik)
95
(Matsuura, 1994, p. 778). Pada saat Yuu menyatakan (2) Ia terdengar dentingan piano
dikarenakan dari dalam ruangan musik terdapat pengeras suara yang menyebarkan suara
ke seluruh tempat di dalam asrama. Yuu sangat heran dengan permainan piano Kurosaki
yang begitu lembut dikarenakan kepribadian yang bertolak belakang, maksudnya ia
memiliki sifat yang keras dan kasar kepada dirinya. Tetapi Kaji merasakan tak serupa,
bahwa sebenarnya Kurosaki memang orang yang baik. Dari dalam dentingan alunan
piano Kurosaki ialah terdapat sebuah ungkapan yang tidak bisa disampaikan. Maka dari
mendegarkan permainan piano Kurosaki tampak berbeda dari kepribadiannya. Tuturan
pujian yang diungkapkan oleh Yuu kepada Kurosaki tersebut berupa apresiasi atas
permainan piano Kurosaki yang telah di lakukannya. Pujian ini tergolong ke dalam jenis
memuji kemampuan.
Tuturan Nande aitsu ga konna yasashii oto?” merupakan tuturan pujian yang
mengimplisitkan makna bahwa ‘Kurosaki tidak semata-mata pria yang sangat kasar
kepada Yuu tetapi dia juga bisa memainkan dentingan piano yang sangat baik dengan
mengeluarkan suara yang merdu dan menyentuh hati’.
3. Pujian Terhadap Kepribadian
Pada data (3) percakapan terjadi di ruang tamu asrama sekolah. Melibatkan dua
pelajar remaja SMA, Akabane Yuu dan Yusuke Kaji. Tujuan dari dialog ini terkait
dengan rasa ingin tahu Yuu kepada Kaji menjadi penggemar Kurosaki. Isi pada dialog ini
yaitu Yuu dan Kaji sedang membicarakan kepribadian Kurosaki. Pada saat Kaji
mengemukakan penilaiannya terhadap Kurosaki kepada Yuu, Intonasi yang digunakan
ialah dengan intonasi lambat. Dialog ini diucapkan dengan lisan oleh keduanya dengan
menggunakan bahasa sehari-hari, karena hubungan antara penutur dan mitra tutur
merupakan teman satu kelas dan teman satu asrama sekolah. Norma yang terjadi pada
tuturan (3) yang diucapkan oleh keduanya tidak terlalu formal dikarenakan mereka
adalah teman sebaya yang sedang berbicara di ruang tamu asrama sekolah.
Yuu 何でかじくんはそんなくろさきくんファンなの?
Nande kaji-kun wa sonna kurosaki-kun fan nano?
Kenapa kau menjadi penggemar Kurosaki?
Kaji おれさ、中学の時いじめられてだよね。でも、
くろさきくんが味方になってくれた。
Oresa, chuugaku no toki ijimerarete dayo ne. Demo,
Citra Dewi, Aulia Arifbillah A., Tiara Maulina Prastika
Tindak Tutur Ekspresif Memuji dalam Film “Kurosaki Kun No Iinari Ni Nante Naranai”
(Kajian Pragmatik)
96
kurosaki-kun ga mikata ni nattekureta.
Saat masih SMP aku ditindas. Tapi, Kurosaki menjadi
temanku.
Yuu そうだったんだ。
Soudattanda.
Jadi begitu.
(Hayato, 2015)
Demo/ kurosaki-kun /ga/ mikata/ ni /natte/kureta.
Tapi/Sdr Kurosaki/Par/teman/Par/menjadi/memberi
Tapi Kurosaki menjadi temanku
Dilihat dari segi lokusi pada kalimat menit 00:25:55~00:26:26 Demo, kurosaki-
kun ga mikata ni nattekureta’, kata demo mempunyai arti tetapi. Kurosaki-kun ialah Sdr
Kurosaki. Ga menandakan suatu partikel. Mikata memiliki arti teman. Ni menandakan
partikel. Natte memiliki arti menjadi. Kureta memiliki arti memberi (meminta untuk
membiarkan melakukan sesuatu). Kalimat (3) yang diucapkan Kaji hanya memberikan
informasi kepada Yuu bahwa Kurosaki telah menjadi teman nya. Jika dilihat dari segi
ilokusi tuturan yang disampaikan oleh Kaji bisa merubah makna yaitu bermakna suatu
pujian.
Dalam tuturan ilokusi yang di tuturkan oleh Kaji (3) memperlihatkan bahwa ada
kata-kata penekanan yang memperlihatkan suatu pujian. Kata mikata yang memiliki arti
kawan, sekutu menurut (Matsuura, 1994, p. 636), kata natte berawal dari bentuk naru
memiliki arti jadi, menjadi menurut (Matsuura, 1994, p. 702) dan kureta berawal dari
bentuk kureru memiliki arti memberi menurut (Matsuura, 1994, p. 567). Pada saat Kaji
menyatakan (3) kepada Yuu mengenai kepribadian Kurosaki, awalnya Yuu merasa ingin
tahu, kenapa Kaji begitu suka dengan Kurosaki, dan rasa ingin tahunya terjawab karena
Kurosaki membantu Kaji pada saat teman-teman yang lainnya tidak berteman dengan
dirinya, pada saat sekolah menengah pertama, hanya Kurosaki lah yang ingin berteman
dengan Kaji. Maka dari itu Kaji menjadi penggemar Kurosaki. Tuturan pujian yang
disampaikan oleh Kaji ialah secara implisit, dan termasuk ke dalam jenis memuji
kepribadian.
Tuturan konteks diatas Demo, kurosaki-kun ga mikata ni nattekureta’ merupakan
tuturan pujian yang mengimplisitkan makna bahwa diantara semua teman-teman
Citra Dewi, Aulia Arifbillah A., Tiara Maulina Prastika
Tindak Tutur Ekspresif Memuji dalam Film “Kurosaki Kun No Iinari Ni Nante Naranai”
(Kajian Pragmatik)
97
sekelasnya tidak ada yang ingin menemaninya, hanya Kurosaki yang mengulurkan
tangan kepada Kaji untuk menjadi temannya, maka dari itu Kaji menjadi penggemar
Kurosaki, karena Kurosaki memiliki kepribadian yang baik meskipun dari luar terlihat
acuh kepada sekitarnya.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis mengenai tindak tutur ekspresif memuji yang terdapat
dalam film Kurosaki kun no Iinari ni Nante Naranai diperoleh dua kesimpulan sebagai
berikut.
1. Dari 3 data yang dianalisis dan teridentifikasi sebagai tuturan ekspresif memuji
dalam film Kurosaki kun no Iinari ni Nante Naranai” kemudian diklasifikasi
berdasarkan jenis-jenis pujian menurut (Holmes, 2003, p. 187) dan (Mizutani, 1987,
pp. 149-152), maka teridentifikasi data yang digolongkan sebagai jenis pujian
penampilan (appearance compliment),jenis tindak tutur ekspresif memuji
kemampuan (ability), dan jenis tindak tutur ekspresif memuji kepribadian
(personality). Berdasarkan hasil analisis data, dapat diketahui bahwa jenis memuji
tindak tutur ekspresif yang sering muncul dalam film “Kurosaki kun no Iinari ni
Nante Naranai” yakni jenis memuji pada penampilan, kemampuan dan kepribadian.
Hal ini terjadi karena dalam film tersebut merupakan film yang bertemakan romance
dikalangan remaja. Konflik-konflik di dalamnya juga tidak begitu berat sebatas
konflik kejahilan remaja pada umumnya yang dapat menyelesaikan masalahnya
dengan kemampuan yang ia miliki. Sehingga jenis memuji yang ditemukan lebih
banyak pada kemampuan yang bermakna memuji.
2. Penggunaan konteks yang terdapat pada film Kurosaki kun no Iinari ni Nante
Naranai, yaitu pada data 1 pujian terhadap penampilan terjadi karena saling
mengenal antara penutur dan mitra tutur sehingga penutur sangat mengetahui fisik
dari mitra tutur yaitu terdapat pada wajahnya. Pada data 2 termasuk ke dalam pujian
kemampuan. Pujian yang diucapkan oleh penutur dan mitra tutur merupakan teman
sebaya sehingga penutur dan mitra tutur memiliki kekerabatan yang dekat dan saling
mengenal satu sama lain. Sehingga pada saat mengucapkan suatu bentuk pujian
penutur mengetahui jelas, sikap, sifat dan kemampuan yang dimiliki mitra tutur.
Pada data 3 termasuk ke dalam bentuk pujian kepribadian. Pujian yang diucapkan
oleh penutur dan mitra tutur merupakan teman sebaya dan sahabat dari kecil hingga
SMA. Sehingga pada saat mengucapkan bentuk pujian, penutur sangat mengetahui
Citra Dewi, Aulia Arifbillah A., Tiara Maulina Prastika
Tindak Tutur Ekspresif Memuji dalam Film “Kurosaki Kun No Iinari Ni Nante Naranai”
(Kajian Pragmatik)
98
kepribadian yang dimiliki mitra tutur. Kepribadian yang sangat baik karena
menolong sesama teman dan kepribadian yang tidak mudah menyerah demi
mendapatkan apa yang diinginkan.
Citra Dewi, Aulia Arifbillah A., Tiara Maulina Prastika
Tindak Tutur Ekspresif Memuji dalam Film “Kurosaki Kun No Iinari Ni Nante Naranai”
(Kajian Pragmatik)
99
REFRENSI!
Anjani, A., Ratnamulyani, I. A., & Kusumadinata, A. A. (2018). Penggunaan Media
Komunikasi Whatsapp terhadap Efektivitas Kinerja Karyawan. Jurnal Komunikatio,
4(1).
Apriastuti, N. N. A. A. (2017). Bentuk, fungsi dan jenis tindak tutur dalam komunikasi siswa
di kelas IX Unggulan SMP PGRI 3 Denpasar. Jurnal Imiah Pendidikan Dan
Pembelajaran, 1(1).
Ariani, I. A. P. N. W., Rasna, I. W., & Wisudariani, N. M. R. (2016). Implikatur pada iklan
layanan masyarakat. Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia Undiksha, 4(2).
Fadilah, N. (2019). Analisis Tindak Tutur Dalam Ceramah Kh Anwar Zahid. Sarasvati, 1(2),
43–53.
Faroh, S., & Utomo, A. P. Y. (2020). Analisis Tindak Tutur Ilokusi dalam Vlog Q&A Sesi 3
Pada Kanal Youtube Sherly Annavita Rahmi. UNDAS: Jurnal Hasil Penelitian Bahasa
Dan Sastra, 16(2), 311–326.
Izar, J., & Rengki Afria, K. (2020). Bentuk dan Fungsi Tindak Tutur Ekspresif dalam Film
Dokumenter The Mahuzes Karya Watchdoc Image. Lingue: Jurnal Bahasa, Budaya,
Dan Sastra, 2(1), 1–11.
Kusmantoa, H., Ayub, N. P., Prayitnoc, H. J., Rahmawatid, L. E., Pratiwie, D. R., & Santosof,
T. (2016). Realisasi Tindak Kesantunan Positif dalam Wacana Akademik di Media
Sosial Berperspektif Humanitas. Aksara.
Ningrum, P. A. (2022). Tindak Tutur Ekspresif Berbahasa Jawa dalam Dagelan Cak Percil
Kepergok Bojone Ngrayu Sinden Kangen Peye (Percil-Yudho).
Purwaningrum, P. W., & Nurmalia, L. (2019). Praanggapan pada dialog mengenai kejujuran:
kajian Pragmatik dalam novel Asal Kau Bahagia karya Bernard Batubara. Jurnal
Bahastra, 39(1), 1–7.
Sasanti, Y. N. (2013). Tindak Tutur Melarang dalam Bahasa Indonesia. Jurnal Penelitian,
16(2), 199–201.
Setiani, R. (2011). Nilai-nilai pendidikan islam dalam buku tasawuf modern Buya Hamka.
SGR Thoib Soaloon, B., Syahputera, I., TA, S., & Abdullah, R. Z. (2018). Dari pantun
sampai literasi: kumpulan kolom bahasa dan sastra. Badan Pengembangan Bahasa dan
Perbukuan.
Susiati, S. (2019). Eksistensi Manusia dalam Film “Aisyah Biarkan Kami Bersaudara” Karya
Herwin Novianto. Gramatika: Jurnal Ilmiah Kebahasaan Dan Kesastraan, 7(1), 50–63.
Taufina, T. (2017). Makna Komunikasi Verbal Dan Unsur Nonverbalnya Dalam Tuturan
Konstatif Di Kelas I Sekolah Dasar. Sekolah Dasar: Kajian Teori Dan Praktik
Pendidikan, 24(2), 99–110.
Citra Dewi, Aulia Arifbillah A., Tiara Maulina Prastika
Tindak Tutur Ekspresif Memuji dalam Film “Kurosaki Kun No Iinari Ni Nante
Naranai” (Kajian Pragmatik)
100
Yusuf, M., Azzuhri, M., & Maskhur, M. (2018). Laporan Hasil Penelitian Pendidikan Seks
Dalam Perspektif Hadits-Hadits Shahih Pada Kutub Al-Sittah (Analisis Tindak Tutur).