NIJI
Jurnal Kajian Sastra, Budaya, Pendidikan dan Bahasa Jepang
Vol. 3, No. 2, Juli 2021, p-ISSN 2355-889X
https://doi.org/10.18510/jt.2021.xxx
http://jurnal.stibainvada.ac.id/
80
PERGESERAN KATEGORI PENERJEMAHAN NOVEL YUKIGUNI KARYA
KAWABATA YASUNARI
Laily Fitriani
Institut Pendidikan dan Bahasa (IPB) Invada Cirebon
Dedi Sutedi
Universitas Pendidikan Indonesia
Nuria Haristiani
Universitas Pendidikan Indonesia
Riwayat Artikel:
Diterima April 2021;
Direvisi Juni 2021;
Diterima Juli 2021.
Abstrak :
Bentuk gramatikal merupakan salah satu hal penting yang harus dipelajari dalam
pembelajaran bahasa asing. Perbedaan struktur bahasa Indonesia yang berpola SPO dan
bahasa Jepang yang berpola SOP ini seringkali menimbulkan kesulitan dalam menerjemahkan
bahasa Jepang ke dalam bahasa Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji
penerjemahan bahasa Jepang ke dalam bahasa Indonesia dalam novel Yukiguni berbahasa
Jepang dan novel terjemahannya berbahasa Indonesia dari aspek pergeseran kategori menurut
Catford (1965). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan metode simak
dan metode analisis data (Mahsun, 2019). Sumber data penelitian ini diambil dari novel
Yukiguni karya Kawabata Yasunari sebagai teks bahasa sumber dan novel terjemahannya yaitu
Daerah Salju sebagai teks bahasa sasaran. Data pergeseran penerjemahan dikumpulkan
sebanyak 150 data dalam bentuk kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Data-data ini
dianalisis berdasarkan pergeseran kategori menurut Catford (1965) yang terdiri dari
pergeseran struktur, pergeseran kelas kata, pergeseran unit dan pergeseran intrasistem.
Pergeseran struktur merupakan pergeseran yang paling banyak ditemukan dalam bentuk
kalimat, klausa dan frasa karena perbedaan struktur dalam pola kalimat maupun susunan kata
bahasa sumber dan bahasa sasaran. Pergeseran merupakan hal yang tidak dapat dihindari
dalam proses penerjemahan bahasa Jepang ke dalam bahasa Indonesia, namun keutuhan
makna dalam penyampaian pesan bahasa sumber merupakan hal yang sangat penting untuk
diperhatikan agar menghasilkan terjemahan yang baik dan mudah dipahami.Penelitian ini
tidak hanya menganalisis penerjemahan dalam bentuk kata dan frasa, namun juga dalam
bentuk kalimat, klausa maupun frasa.
Kata kunci : Pergeseran penerjemahan, pergeseran kategori, penerjemahan novel
Laily Fitriani, Dedi Sutedi dan Nuria Haristiani
Pergeseran Kategori Penerjemahan Novel Yukiguni Karya Kawabata Yasunari
81
PENDAHULUAN
Sebagai konsekuensi dari pertumbuhan komunikasi internasional, kebutuhan akan
penerjemahan yang efisien dan efektif menjadi sesuatu yang sangat penting. Sehingga
terjemahan menjadi salah satu jembatan untuk mencapai pemahaman komunikasi lintas
bahasa tersebut (AlZuhdy, 2014). Catford (1965) menjelaskan bahwa definisi penerjemahan
adalah penggantian materi tekstual dalam satu bahasa (bahasa sumber) dengan materi tekstual
yang setara dalam bahasa lain (bahasa sasaran). Dalam proses pengalihan makna terbaik,
penerjemah terkadang perlu mengubah struktur dalam proses penerjemahan sehingga terjadi
pergeseran terjemahan agar makna lebih dipahami oleh pembaca sasaran (Ekasani, Yadnya,
Artawa, & Indrawati, 2018). Keahlian khusus dalam menerjemahkan merupakan hal yang
penting agar hasil terjemahan menjadi alami dan mudah dipahami (Mobarakeh & Sardareh,
2016). Menurut Kawahara (2012), penerjemahan dapat disederhanakan sebagai tindakan
mewujudkan kesetaraan linguistik dan sosial. Djohan & Lestari (2021) menjelaskan bahwa
mengubah satu bahasa ke bahasa lain berarti kita mengubah struktur bahasa tersebut.
Walaupun strukturnya berbeda, yang terpenting adalah makna yang terkandung dalam teks
bahasa sumber sama dengan teks bahasa sasaran. Chesterman (2016) menjelaskan bahwa
beberapa strategi sintaksis adalah pergeseran unit, perubahan struktur frase, perubahan
struktur klausa, perubahan struktur kalimat dan pergeseran level.
Perbedaan-perbedaan dalam bahasa Jepang sebagai bahasa sumber dan bahasa Indonesia
sebagai bahasa sasaran kerap menimbulkan masalah dalam kegiatan penerjemahan. Oleh
karenanya, pengetahuan yang baik tentang kedua bahasa tersebut merupakan hal yang sangat
penting dalam proses penerjemahan. Struktur kalimat bahasa Indonesia yang berpola SPO
(subjek-predikat-objek) berbeda dengan struktur kalimat bahasa Jepang yang berpola SOP
(subjek-objek-predikat). Perbedaan lainnya (Sutedi, 2014, hlm. 229), yaitu mengenai urutan
kata dalam frasa atau kata gabungan, dalam bahasa Indonesia berlaku hukum diterangkan-
menerangkan (DM), sedangkan dalam bahasa Jepang sebaliknya, yaitu hukum menerangkan-
diterangkan (MD). Perbedaan struktur ini sangat berpengaruh dalam proses pemerolehan
bahasa Jepang sebagai bahasa kedua, terutama dalam kegiatan penerjemahan.
Menurut Hartono (2017), novel adalah sebuah bentuk karya fiksi yang memiliki unsur
tema, tokoh dan penokohan, alur cerita, sudut pandang dan latar untuk menggambarkan
sebuah kehidupan yang sarat dengan makna dan pesan moral bagi pembaca. Lebih lanjut lagi
Hartono (2014) menjelaskan bahwa menerjemahkan novel tampaknya tidak semudah
menerjemahkan teks biasa. Banyak penerjemah novel yang menghadapi kesulitan pada saat
menerjemahkannya. Kesulitan-kesulitan tersebut meliputi berbagai macam aspek, di
Laily Fitriani, Dedi Sutedi dan Nuria Haristiani
Pergeseran Kategori Penerjemahan Novel Yukiguni Karya Kawabata Yasunari
82
antaranya aspek linguistik, aspek budaya dan aspek sastra. Kesulitan-kesulitan dalam aspek
linguistik, misalnya penerjemah novel sulit memahami struktur kalimat dan alinea yang
sangat panjang serta tata bahasa yang rumit. Semua kesulitan dalam teks bahasa sumber itu
harus dicarikan padanannya yang tepat dalam teks bahasa sasaran. Menurut Toer (dalam
Widyadari, Yulianeta, Ansas, Azizah, & Widyana, 2021), menerjemahkan karya tulis baik
sastra maupun nonsastra dari satu bahasa ke bahasa lain merupakan pekerjaan yang tidak
semata-mata menerjemahkan sebuah karya. Oleh karena itu, diperlukan penerjemahan yang
tepat agar karya terjemahan itu natural dan mudah dipahami.
Catford (dalam Dewi & Wijaya, 2021) menjelaskan bahwa pergeseran (transposisi)
penerjemahan terbagi menjadi dua bagian, yaitu sebagai berikut :
1) Pergeseran tingkat (level shift) adalah pergeseran sebuah item bahasa sumber pada satu
tingkat linguistik memiliki padanan terjemahan bahasa target pada tingkat yang berbeda,
yaitu perubahan tingkat dari kata atau frasa leksikal menjadi kata atau frasa gramatikal
dan perubahan tingkat dari kata atau frasa gramatikal menjadi kata atau frasa leksikal.
2) Pergeseran kategori (category shift) adalah pergeseran secara struktural atau bentuk.
Pergeseran kategori terdiri dari pergeseran struktur (terjadi apabila struktur teks bahasa
sumber berbeda dengan struktur teks bahasa sasaran), pergeseran kelas kata (ketika kelas
kata suatu ungkapan dalam satu bahasa diterjemahkan ke dalam kelas kata yang berbeda
pada bahasa sasaran), pergeseran unit (ketika suatu padanan unit diterjemahkan ke dalam
unit yang berbeda dalam bahasa sasaran), dan pergeseran intrasistem (terjadi di dalam
sistem suatu bahasa ketika diterjemahkan ke dalam bahasa lain).
Beberapa penelitian terdahulu tentang analisis penerjemahan adalah penelitian pergeseran
kategori untuk penerjemahan frase kata kerja bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia
(Ekasani, Yadnya, Artawa, & Indrawati, 2018). Pergeseran unit yang paling banyak
ditunjukkan dalam analisis ini adalah dari tingkat yang lebih rendah ke tingkat yang lebih
tinggi atau sebaliknya. Djohan & Lestari (2021) meneliti tentang penambahan dan
penghapusan informasi penerjemahan novel Negeri 5 Menara dari bahasa Indonesia ke dalam
bahasa Inggris. Penambahan dalam terjemahan ini bertujuan untuk memberikan penjelasan
lebih kepada para pembaca dengan informasi tambahan sebagian besar dalam hal budaya atau
agama. Widyadari, Yulianeta, Ansas, Azizah, & Widyana (2021) melakukan penelitian tentang
pergeseran (transposisi) penerjemahan dalam novel berbahasa Korea ke dalam bahasa
Indonesia. Efek transposisi dalam terjemahan novel ini adalah untuk menyederhanakan proses
penerjemahan, untuk menyelesaikan perbedaan struktur bahasa sumber dan bahasa sasaran,
dan untuk memperjelas istilah kebahasaan yang tidak diketahui dalam bahasa sasaran. Akbari
Laily Fitriani, Dedi Sutedi dan Nuria Haristiani
Pergeseran Kategori Penerjemahan Novel Yukiguni Karya Kawabata Yasunari
83
(2012) meneliti tentang pergeseran struktural dalam penerjemahan sastra anak-anak dari
bahasa Inggris ke dalam bahasa Persia. Alzuhdy (2014) melakukan analisis pergeseran
penerjemahan dalam penerjemahan bilingual bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia.
Mobarakeh & Sardareh (2016) mengkaji tentang pengaruh pergeseran terjemahan terhadap
tingkat keterbacaan dua terjemahan bahasa Persia dari novel "1984" karya George Orwell.
Pergeseran kategori khususnya pergeseran struktural merupakan salah satu faktor yang efektif
terhadap tingkat keterbacaan. Setiap bahasa memiliki karakteristik dan ciri-ciri linguistiknya
sendiri untuk menyampaikan pesan. Watson (2017) mengkaji tentang pergeseran domestikasi
dan foreinisasi dalam penerjemahan manga dan anime (komik berbahasa Jepang). Miyajima
(2018) meneliti penghilangan subjek dalam kalimat bahasa Jepang. Penghilangan subjek ini
perlu dipahami dalam penerjemahan bahasa Jepang ke dalam bahasa Indonesia. Ogura (2013)
meneliti masalah yang terjadi ketika menerjemahkan bahasa Jepang ke dalam bahasa Inggris,
terutama tentang terjemahan bahasa Inggris dari novel berbahasa Jepang yang terkadang
terjadi perubahan kalimat ucapan langsung menjadi kalimat tidak langsung.
Dari semua penelitian terdahulu tersebut, penelitian penerjemahan dengan fokus
pergeseran penerjemahan novel berbahasa Jepang ke dalam bahasa Indonesia belum
ditemukan. Sebagai pembelajar bahasa Jepang, kajian penerjemahan tentang pergeseran yang
terjadi dalam penerjemahan bahasa Jepang ke dalam bahasa Indonesia merupakan hal yang
penting untuk dipelajari karena proses penerjemahan merupakan kegiatan yang tidak dapat
dipisahkan dalam pembelajaran bahasa asing khususnya bahasa Jepang. Penelitian ini
berfokus pada pergeseran kategori menurut Catford (1965) yang meliputi pergeseran struktur,
pergeseran kelas kata, pergeseran unit, dan pergeseran intersistem dalam penerjemahan novel
berbahasa Jepang berjudul Yukiguni karya Kawabata Yasunari ke dalam bahasa Indonesia.
Tujuan penelitian ini agar pembelajar bahasa Jepang dapat melakukan proses penerjemahan
ke dalam bahasa Indonesia dengan memperhatikan perbedaan dan karakteristik kedua bahasa
tersebut sehingga dapat menghasilkan terjemahan yang baik, dapat diterima dan mudah
dipahami.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini berupa penelitian kualitatif yang bertujuan untuk memahami fenomena
sosial termasuk fenomena kebahasaan yang dalam hal ini penulis akan mengeksplorasi dan
memahami penerjemahan novel berbahasa Jepang Yukiguni karya Yasunari Kawabata ke
dalam bahasa Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak
Laily Fitriani, Dedi Sutedi dan Nuria Haristiani
Pergeseran Kategori Penerjemahan Novel Yukiguni Karya Kawabata Yasunari
84
dan metode analisis data (Mahsun, 2019). Data penelitian kualitatif ini bersifat deskriptif
berupa susunan kata, frasa, klausa dan kalimat.
Sumber data pertama pada penelitian ini adalah novel Yukiguni karya Yasunari Kawabata.
Kawabata lahir di Osaka tahun 1899. Novel ini terdiri dari dua bab dan 164 halaman. Sumber
data kedua pada penelitian ini adalah novel Daerah Salju yang merupakan terjemahan
berbahasa Indonesia dari novel Yukiguni. Novel ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia
oleh Matsuoka Kunio dan Ajip Rosidi yang diterbitkan oleh Dunia Pustaka Jaya. Novel
terjemahan ini terdiri dari dua bab dan 174 halaman.
Dalam pengumpulan data untuk penelitian ini, penulis menggunakan metode simak
dengan menggunakan teknik catat sebagai teknik lanjutannya. Metode simak dilakukan untuk
menyimak penggunaan bahasa. Istilah menyimak disini tidak hanya berkaitan dengan
penggunaan bahasa secara lisan, tetapi juga penggunaan bahasa secara tertulis (Mahsun,
2019). Metode simak dalam penelitian ini menggunakan teknik lanjutan berupa teknik catat.
Teknik catat digunakan sebagai teknik dalam pengumpulan data.
Langkah-langkah konkrit yang penulis lakukan dalam mengumpulkan data adalah sebagai
berikut.
1. Membaca novel Yukiguni berbahasa Jepang dan novel terjemahannya dalam bahasa
Indonesia yaitu novel Daerah Salju.
2. Memindai isi novel berbahasa Jepang dan novel terjemahannya, kemudian memasukkan
hasil pemindaian tersebut dalam dokumen Word sebagai data artikel.
3. Mengumpulkan sampel data sebanyak 150 data berbentuk kalimat dengan analisis data
berupa kata, frasa, klausa dan kalimat yang mengalami pergeseran kategori menurut
Catford (1965).
Untuk analisis data penelitian ini, prosedur yang dilakukan adalah sebagai berikut.
a. Memadankan dan menyusun data-data berbahasa Jepang dengan terjemahan dalam bahasa
Indonesia.
b. Menghubung-bandingkan sampel data yang terdapat pada novel berbahasa Jepang sebagai
TBSu dan hasil terjemahannya pada novel terjemahan sebagai TBSa.
c. Mereduksi data, yaitu merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-
hal yang penting, kemudian mengklasifikasikan sampel data berbahasa Jepang dan
terjemahannya berdasarkan fokus penelitian yaitu pergeseran kategori menurut Catford
(1965) yang terdiri dari pergeseran struktur, pergeseran kelas kata, pergeseran unit, dan
pergeseran intersistem.
Laily Fitriani, Dedi Sutedi dan Nuria Haristiani
Pergeseran Kategori Penerjemahan Novel Yukiguni Karya Kawabata Yasunari
85
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari hasil pengumpulan data novel Yukiguni berbahasa Jepang dan novel terjemahannya,
penulis memilih sampel data sebanyak 150 sampel data dalam bentuk kata, frasa, klausa dan
kalimat. Sampel data ini diklasifikasikan berdasarkan pergeseran kategori menurut Catford
(1965) yang terdiri dari pergeseran struktur, pergeseran kelas kata, pergeseran unit, dan
pergeseran intersistem. Berikut ini adalah hasil penelitian untuk pergeseran kategori yang
menjadi temuan penulis.
1. Pergeseran Struktur
a. Pergeseran struktur kalimat
(1) PSt-YG/TBSu6/TBSa4
それで 窓ガラスが になる
Sore de mado garasu ga kagami ni naru. (Yu kig un i, h l m. 6 )
Konjungsi subjek objek predikat verba
Maka kaca jendela menjadi cermin. (Daerah Salju, hlm. 4)
Konjungsi subjek predikat verba objek
Kalimat dalam TBSu di atas merupakan kalimat tunggal yang terdiri dari satu subjek
nomina dengan penanda partikel ga yaitu mado garasu menjadi ‘kaca jendela’, satu predikat
verba yaitu naru menjadi ‘menjadi’, satu objek nomina dengan penanda partikel ni yaitu
kagami menjadi ‘cermin’, dan satu konjungsi sore de menjadi ‘maka’. Perbedaan struktur
kalimat BSu dan Bsa dapat dilihat dalam pemecahan setiap unsur kalimat tersebut, yaitu
predikat Bsu yang terletak pada akhir kalimat dengan struktur SOP, mengalami pergeseran
posisi dalam TBSa menjadi di tengah kalimat atau setelah subjek dengan struktur SPO
(Sutedi, 2014). Hal ini merupakan pergeseran struktur menurut Catford (1965). Pergeseran
struktur juga ditemukan pada susunan kata pada frasa madogarasu dengan hukum MD
menjadi ‘kaca jendela’ dengan hukum DM. Taqdir (2015) menyimpulkan dalam penelitiannya
bahwa pergeseran struktur terjadi karena perbedaan struktur dari bahasa sumber dengan
bahasa sasaran.
b. Pergeseran struktur susunan kata atau frasa
(2) PSt-YG/TBSu11/TBSa9
十二月の 初め であった
Jūnigatsu no hajime de atta. (Yukiguni, hlm. 11)
menerangkan diterangkan
Itu pada awal bulan Desember. (Daerah Salju, hlm. 9)
diterangkan menerangkan
Laily Fitriani, Dedi Sutedi dan Nuria Haristiani
Pergeseran Kategori Penerjemahan Novel Yukiguni Karya Kawabata Yasunari
86
Susunan kata di atas merupakan frasa yang berfungsi sebagai predikat berupa frasa
nomina dengan pola MD yaitu Jūnigatsu no hajime yang bergeser menjadi berpola DM
yaitu ‘awal bulan Desember’. Hal ini merupakan pergeseran struktur menurut Catford
(1965). Pergeseran struktur melibatkan perubahan struktur gramatikal antara bahasa sumber
dan bahasa sasaran (Ekasani, Yadnya, Artawa, & Indrawati, 2018). Pronomina kata petunjuk
‘itu’ ditambahkan dalam TBSa sebagai subjek penunjuk waktu, yang tidak ada dalam TBSu.
Miyajima (2018) menjelaskan bahwa subjek dalam bahasa Jepang dapat dihilangkan
bilamana konteks kalimat dapat dipahami walaupun tanpa subjek. Sedangkan dalam bahasa
Indonesia, subjek merupakan fungsi sintaktis terpenting kedua setelah predikat (Alwi,
Lapoliwa, Moeliono, Sasangka, & Sugiyono, 2017).
Pergeseran struktur merupakan pergeseran yang terbanyak ditemukan dikarenakan
perbedaan struktur bahasa Jepang dan bahasa Indonesia, terutama untuk kalimat yang berpola
SOP dalam bahasa sumber akan bergeser menjadi berpola SPO dalam bahasa sasaran. Namun,
tidak terdapat pergeseran struktur untuk kalimat yang berpola S-P, tetapi bila salah satu unsur
predikat atau subjeknya merupakan unit frasa, maka akan ditemukan pergeseran dalam
susunan gabungan kata (frasa) yaitu hukum MD dalam bahasa sumber menjadi hukum DM
dalam bahasa sasaran. Hasil penelitian ini pun hampir sejalan dengan penelitian Widyadari,
Yulianeta, Ansas, Azizah, & Widyana (2021) tentang transposisi yang terjadi dalam
terjemahan novel berbahasa Korea ke dalam bahasa Indonesia bahwa pergeseran yang banyak
ditemukan adalah pergeseran struktur. Dorri (2016) juga menyimpulkan bahwa SPO bergeser
menjadi SOP, tidak ada makna yang hilang karena penerjemah menerapkan pergeseran
struktural dan kemudian kualitas pesan dipertahankan secara bermakna.
2. Pergeseran Kelas Kata
a. Pergeseran kelas nomina menjadi verba
(3) PKK-YG/TBSu119/TBSa105
なにげない口ぶりなのだが、島村は女の響きを聞いた。
Nanigenai kuchiburi na no da ga, Shimamura wa onna no hibiki o kiita. (Yukiguni, hlm.
119)
Ia berkata dengan acuh tak acuh namun demikian Shimamura dapat merasakan kekhasan
wanita. (Daerah Salju, hlm. 105)
Kalimat dalam TBSu di atas merupakan kalimat majemuk setara yang terdiri dari satu
subjek dengan penanda partikel wa yaitu Shimamura wa (nama orang), satu frasa adjektiva
dan nomina yaitu Nanigenai kuchiburi yang dalam TBSa menjadi ‘Ia berkata dengan acuh
tak acuh’, satu predikat verba yaitu kiita yang dalam TBSa menjadi ‘dapat merasakan’, dan
Laily Fitriani, Dedi Sutedi dan Nuria Haristiani
Pergeseran Kategori Penerjemahan Novel Yukiguni Karya Kawabata Yasunari
87
satu objek nomina dengan penanda partikel wo yaitu onna no hibiki o yang dalam TBSa
menjadi ‘kekhasan wanita’. Pergeseran kelas kata terdapat pada kelas nomina yaitu
kuchiburi yang menjadi kelas verba yaitu ‘berkata’. Ini merupakan pergeseran kelas kata
menurut Catford (1965), yaitu pergeseran kelas nomina menjadi kelas verba. Pergeseran ini
bisa terjadi karena tuntutan tata bahasa sehingga bersifat wajib, namun dapat pula bersifat
manasuka, yakni karena selera penerjemah atau karena mengikuti gaya penulisan (style)
tertentu (AlZuhdy, 2014).
b. Pergeseran kelas verba menjadi konjungsi
(4) PKK-YG/TBSu5/TBSa3
二人のしぐさは夫婦じみていたけれども、男は明らかに病人だった。
Futari no shigusa wa fūfu jimite itakeredomo, otoko wa akiraka ni byōnin datta. (Yukiguni,
hlm. 5)
Tingkah laku keduanya seperti suami-istri, tetapi sudah jelas laki-laki itu orang sakit.
(Daerah Salju, hlm. 3)
Kalimat dalam TBSu di atas merupakan kalimat majemuk setara dengan unsur-unsur
gramatikal yang terdiri dari satu frasa futari no shigusa sebagai subjek pertama dengan
penanda partikel wa yang menjadi ‘tingkah laku keduanya’ dan satu kata nomina otoko
sebagai subjek kedua dengan penanda partikel wa yang menjadi satu frasa yaitu ‘laki-laki
itu’, dua predikat yaitu predikat pertama berupa verba jimite ita yang bergeser menjadi
‘seperti` dan predikat kedua berupa nomina byōnin datta yang menjadi ‘orang sakit’, satu
objek nomina yaitu fūfu yang menjadi ‘suami istri’, satu kata penghubung yaitu keredomo
yang menjadi ‘tetapi’, dan adjektiva bentuk dua (na keiyōshi) akiraka ni yang menjadi
‘jelas’. Pada predikat verba jimite ita yang menjadi ‘seperti’, terjadi pergeseran kelas kata,
jimite ita sebagai verba yang secara harfiah memiliki arti to become; to appear like; to
have a touch of; to look like ‘menjadi; terlihat seperti’ (Japanese English Online
Dictionary) bergeser menjadi konjungsi perbandingan (Alwi, Lapoliwa, Moeliono,
Sasangka, & Sugiyono, 2017) yaitu ‘seperti’ dalam BSa. Ini merupakan pergeseran kelas
kata menurut Catford (1965), yaitu pergeseran kelas verba menjadi kelas konjungsi.
c. Pergeseran kelas adjektiva menjadi verba
(5) PKK-YG/TBSu119/TBSa105
これらがまことに自然であった。
Korera ga makoto ni shizen de atta. (Yukiguni, hlm. 7)
Semuanya itu betul-betul tidak dibuat-buat. (Daerah Salju, hlm. 5)
Kalimat dalam TBSu di atas merupakan kalimat tunggal yang terdiri dari satu subjek
pronomina korera dengan partikel penanda ga yang menjadi ‘semuanya itu’ dan satu
predikat adjektiva shizen yang bergeser menjadi verba ‘tidak dibuat-dibuat’. Pergeseran ini
tidak mempengaruhi makna secara leksikal sehingga tidak terjadi penyimpangan makna.
Laily Fitriani, Dedi Sutedi dan Nuria Haristiani
Pergeseran Kategori Penerjemahan Novel Yukiguni Karya Kawabata Yasunari
88
Ini merupakan pergeseran kelas kata menurut Catford (1965), yaitu pergeseran kelas
adjektiva menjadi kelas verba. Pergeseran terjemahan sebagai salah satu strategi yang
diambil oleh penerjemah dan dapat menjadi faktor yang efektif pada tingkat keterbacaan
(Mobarakeh & Sardareh, 2016).
3. Pergeseran Unit
a. Pergeseran unit kalimat
(6) PU-YG/TBSu98/TBSa86
白壁の軒下で真新しい朱色のネルの山袴を履いて女の子がゴム鞠を突いている
は、実に秋であった
Shirakabe no nokishita de maatarashii shuiro no neru no sanpaku o haite, onna no ko ga
gomumari o tsuite iru no wa, jitsu ni aki de atta. (Yukiguni, hlm. 98)
Ada seorang gadis kecil yang memakai sanpaku yang terbuat dari kain flanel merah yang
masih baru, sedang main bola tepuk di bawah emper berdinding putih. Pemandangan betul-
betul menimbulkan suasana seperti musim rontok. (Daerah Salju, hlm. 86)
Kalimat dalam TBSu di atas merupakan kalimat majemuk kompleks dengan satu
subjek dengan penanda partikel ga yaitu Onna no ko menjadi ‘gadis kecil’. Kalimat
majemuk kompleks dalam TBSu ini diterjemahkan menjadi dua kalimat dalam TBSa yaitu
satu kalimat majemuk bertingkat dan satu kalimat tunggal. Ini merupakan pergeseran unit
kalimat (Catford, 1965) yaitu satu kalimat majemuk menjadi dua kalimat. Harsono (2015)
meneliti penerjemahan kalimat majemuk bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia dengan
hasil analisis bahwa satu kalimat majemuk dapat diterjemahkan dengan membaginya
menjadi beberapa kalimat. Begitu pula dengan penerjemahan kalimat majemuk ini, satu
kalimat majemuk dapat diterjemahkan menjadi beberapa kalimat tunggal atau kalimat
majemuk sederhana. Kalimat majemuk pecahan pertama dalam TBSa adalah ‘Ada seorang
gadis kecil yang memakai sanpaku yang terbuat dari kain flanel merah yang masih baru,
sedang main bola tepuk di bawah emper berdinding putih’ yang dalam TBSu adalah
Shirakabe no nokishita de maatarashii shuiro no neru no sanpaku o haite, onna no ko ga
gomumari o tsuite iru no. Pergeseran kata menjadi frasa terdapat pada nomina shirakabe
menjadi ‘dinding putih, nokishita menjadi ‘bawah emper dan gomumari menjadi ‘bola
tepuk’. Pergeseran unit kata ini menjadi pergeseran bentuk yang paling banyak terjadi
karena sistem penulisan dengan menggunakan huruf kanji di dalam bahasa Jepang,
sehingga sebuah kata yang terbentuk dari gabungan huruf kanji ini bisa menjadi sebuah
frasa apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia (Cahyani, 2017).
Laily Fitriani, Dedi Sutedi dan Nuria Haristiani
Pergeseran Kategori Penerjemahan Novel Yukiguni Karya Kawabata Yasunari
89
b. Pergeseran unit klausa
(7) PU-YG/TBSu3/TBSa1
明りをさげてゆっくり雪を踏んで来た男は、襟巻で鼻の上まで包み、耳に帽子の
毛皮を垂れていた。
Akari o sagete yukkuri yuki o funde kita otoko wa, erimaki de hana no ue made tsutsumi,
mimi ni bōshi no kegawa o tarete ita. (Yukiguni, hlm. 3)
Seorang laki-laki berjalan perlahan-lahan di atas salju sambil menenteng lentera,
membungkuskan syal sampai menutupi hidungnya, dan membiarkan kulit-bulu topinya
bergantung di atas telinganya. (Daerah Salju, hlm. 1)
Kalimat dalam TBSu di atas merupakan kalimat majemuk kompleks dengan satu
subjek penanda partikel wa dengan perluasannya sebagai klausa bertingkat, yaitu Akari o
sagete yukkuri yuki o funde kita otoko wa yang bergeser menjadi satu subjek tanpa
perluasan yaitu ‘seorang laki-laki’ dan predikat verba dengan klausa setara yaitu ‘berjalan
perlahan-lahan di atas salju sambil menenteng lentera’. Pergeseran ini termasuk pergeseran
unit (Catford, 1965) yaitu dari unit klausa subordinat menjadi satu unit kata sebagai subjek
dan satu unit klausa setara.
c. Pergeseran unit frasa
(8) PU-YG/TBSu44/TBSa39
七、八軒先のスキイ製作所から鉋の音が聞える。
Nana, hachi nokisaki no sukii seisakusho kara kanna no oto ga kikoeru. (Yukiguni, hlm.
44)
Terdengar bunyi ketam dari tempat pembuatan alat ski yang berjarak kira-kira tujuh-
delapan buah rumah. (Daerah Salju, hlm. 39)
Kalimat dalam TBSu di atas merupakan kalimat tunggal dengan satu subjek frasa
nomina dengan penanda partikel ga yaitu Nana, hachi nokisaki no sukii seisakusho kara
kanna no oto ga menjadi, yaitu ‘dari tempat pembuatan alat ski yang berjarak kira-kira
tujuh-delapan buah rumah’. Pada subjek frasa nomina TBSu, ditemukan pergeseran unit
frasa menjadi klausa bertingkat yaitu Nana, hachi nokisaki no sukii seisakusho bergeser
menjadi ‘tempat pembuatan alat ski yang berjarak kira-kira tujuh-delapan buah rumah’,
terdapat penambahan partikel ‘yang’ untuk menjelaskan frasa sebelumnya. Pergeseran ini
termasuk pergeseran unit (Catford, 1965) yaitu dari unit frasa menjadi satu unit klausa
subordinat (anak kalimat) karena terdapat penambahan predikat verba yaitu ‘berjarak’.
4. Pergeseran Intrasistem
a. Pergeseran kata bersifat gender
(9) PIS-YG/TBSu6/TBSa4
は驚いて声をあげそうになった。
Laily Fitriani, Dedi Sutedi dan Nuria Haristiani
Pergeseran Kategori Penerjemahan Novel Yukiguni Karya Kawabata Yasunari
90
Kare wa odoroite koe o age sō ni natta. (Yukiguni, hlm. 6)
Dia terkejut sehingga hampir terpekik. (Daerah Salju, hlm. 4)
Kalimat dalam TBSu di atas adalah kalimat majemuk setara yang terdiri dari satu
subjek dengan penanda partikel wa yaitu kare wa yang bergeser menjadi ‘dia’, dan dua
predikat verba yaitu odoroite koe o age natta yang menjadi ‘terkejut sehingga hampir
terpekik’. Kalimat dalam TBSu di atas mengandung kata yang bermakna gender yaitu kare
yang secara harfiah bermakna ‘dia laki-laki’, namun dalam TBSa diterjemahkan menjadi
‘dia’ yang bersifat netral tanpa menyebutkan gender. Pergeseran ini termasuk dalam
pergeseran intrasistem (Catford, 1965).
b. Pergeseran kata bersifat tunggal menjadi majemuk
(11) PIS-YG/TBSu121/TBSa106
島村は死骸を捨てようとして指で拾いながら、家に残して来た子供達をふと思い
出すこともあった。
Shimamura wa shigai o suteyou to shite yubi de hiroinagara, ie ni nokoshite kita
kodomotachi o fu to omoidasu koto mo atta.
Sambil memunguti bangkai-bangkai itu dengan jarinya untuk dibuang, ada kalanya ia
teringat akan anaknya yang ditinggalkannya di rumah.
Kalimat dalam TBSu di atas merupakan kalimat majemuk kompleks yang terdiri dari
satu subjek dengan partikel penanda wa yaitu Shimamura wa, dan beberapa klausa
bertingkat. Pronomina ‘ia’ merupakan pergeseran dari subjek Shimamura dengan posisi
bergeser di tengah kalimat, pergeseran intrasistem (Catford, 1965) ditemukan pada frasa
nomina ‘bangkai-bangkai itu’ yang menjelaskan bentuk majemuk dari nomina shigai
dalam TBSu yang tidak menjelaskan bentuk tunggal atau majemuk.
KESIMPULAN
Pergeseran struktur merupakan pergeseran yang mutlak terjadi pada penerjemahan kalimat
bahasa Jepang ke dalam bahasa Indonesia untuk kalimat yang berpola SOP dalam bahasa
sumber dan akan menjadi kalimat berpola SPO dalam bahasa sasaran. Penambahan unsur
subjek ditemukan dalam TBSa karena subjek merupakan fungsi sintaktis terpenting kedua
setelah predikat dalam bahasa sasaran. Penelitian ini juga menemukan pemecahan satu
kalimat majemuk bahasa sumber menjadi beberapa kalimat majemuk atau kalimat tunggal
dalam bahasa sasaran. Jenis kalimat majemuk pun ada yang mengalami pergeseran,
diantaranya adalah kalimat majemuk kompleks dalam bahasa sumber menjadi kalimat
majemuk bertingkat dalam bahasa sasaran, klausa bertingkat dalam bahasa sumber bergeser
menjadi klausa setara dalam bahasa sasaran. Pergeseran unit kata menjadi unit frasa pun
menjadi pergeseran bentuk yang banyak ditemukan karena sebuah kata yang terbentuk dari
Laily Fitriani, Dedi Sutedi dan Nuria Haristiani
Pergeseran Kategori Penerjemahan Novel Yukiguni Karya Kawabata Yasunari
91
gabungan huruf kanji ini bisa menjadi sebuah frasa apabila diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia.
Untuk menghasilkan penerjemahan yang baik, pergeseran yang akan dihasilkan pun harus
diperhatikan agar tidak ada makna dan pesan penting yang hilang atau penambahan yang
tidak perlu atau berlebihan. Pergeseran penerjemahan yang menjadi fokus penelitian ini, bila
dilakukan pada penerjemahan jenis dokumen non fiksi misalkan, buku teks pengetahuan
berbahasa Jepang ke dalam bahasa Indonesia, maka dapat menjadi kontribusi yang dirasakan
secara langsung dalam pendidikan bahasa Jepang. Hal ini dikarenakan masih banyaknya
buku teks pengetahuan berbahasa Jepang yang belum diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia.Dengan mempelajari proses penerjemahan dari berbagai aspek seperti metode
penerjemahan, teknik penerjemahan, strategi penerjemahan dan lainnya, maka hal ini akan
membantu pembelajar bahasa asing dalam melakukan kegiatan penerjemahan dalam proses
pembelajarannya. Karena proses penerjemahan merupakan hal yang akan selalu mengiringi
proses pembelajaran bahasa asing, khususnya bagi pembelajar bahasa Jepang.
Laily Fitriani, Dedi Sutedi dan Nuria Haristiani
Pergeseran Kategori Penerjemahan Novel Yukiguni Karya Kawabata Yasunari
92
REFERENSI
Alwi, H., Lapoliwa, H., Moeliono, A.M., Sasangka, S.S.T.W., & Sugiyono. (2017). Tata
Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi ke-4. Jakarta: Badan Pengembangan dan
Pembinaan Bahasa.
Alzuhdy, Y.A. (2014) Analisis Translation Shift dalam Penerjemahan Bilingual Bahasa
Inggris Bahasa Indonesia. DIKSI Vol 2, No 22, pp. 185-193.
DOI: https://doi.org/10.21831/diksi.v2i22.3188
Cahyani, D.I. (2017). Pergeseran Penerjemahan Istilah Budaya dalam Novel Telegram Karya
Putu Wijaya. Japanology, Vol. 6 No. 1, pp. 1-15. http://journal.unair.ac.id/JPLG
Catford, J.C. (1965). A Linguistic Theory of Translation. Oxford University Press. London.
Chesterman, A. (2016). Memes of Translation the Spread of Ideas in Translation Theory
(Revised Edition). John Benjamin Publishing Company. Amsterdam.
Dewi, H.D. & Wijaya, A. (2021). Dasar Dasar Penerjemahan Umum. Manggu Makmur
Tanjung Lestari. Bandung.
Djohan, R.S., Lestari, N.D. (2021). Addition and Deletion of Information in the Translation of
Negeri 5 Menara by A. Fuadi. Proceedings of the Fifth International Conference on
Language, Literature, Culture, and Education (ICOLLITE, pp. 590-595).
https://doi.org/10.2991/assehr.k.211119.092
Dorri, E. (2016). The Application of Structure Shift in the Persian Translation, Journal of
Advances in English Language Teaching, Vol.4, No.1 pp. 19-23, ISSN 1805-8957.
https://european-science.com/jaelt/article/view/4644/2299
Ekasani, A.E., Yadnya, I.B.P., Artawa, K., & Indrawati, N.L.K.M. (2018) Category Shifts in
the Translation of Verb Phrases in English Cookbook into Indonesian. International
Journal of Linguistics, Literature and Translation (IJLLT) ISSN: 2617-0299, Vol. 1 (4).
DOI : https://10.32996/ijllt.2018.1.4.10
Harsono. (2015). Penerjemahan kalimat majemuk dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia.
(Tesis). Post-Graduated Program, Universitas Negeri Jakarta.
Hartono, R. (2014). Model Penerjemahan Novel dari Bahasa Inggris ke dalam bahasa
Indonesia. Diandra Pustaka Indonesia. Yogyakarta.
(2017). Pengantar Ilmu Menerjemah. Cipta Prima Nusantara. Semarang.
Japanese – English Online Dictionary. http://jisho.org/
Kawabata, Y. (1948). 雪国 Yukiguni . Diunduh dari https://en.id1lib.org/
__________ (2016). Daerah Salju. Kepustakaan Populer Gramedia. Jakarta
Laily Fitriani, Dedi Sutedi dan Nuria Haristiani
Pergeseran Kategori Penerjemahan Novel Yukiguni Karya Kawabata Yasunari
93
Kawahara, K. (2012). An Attempt at a New Approach to Translation Shift. Reitaku Gakusei
Journal, 20 (1), pp. 69-78. https://doi/10.18901/00000085
Mahsun. (2019). Metode Penelitian Bahasa Edisi Ketiga. Rajagrafindo Perkasa.Depok.
Miyajima, A. (2018). Bunsho Hyōgen to Kaiwa ni Okeru Nihongo no Shugo no Shōryaku.
Tokyo Gaikokugo Daigaku. Ryūgakusei Nihongo Kyōiku Sentā Ronshū (44, pp. 133-
146). http://repository.tufs.ac.jp/bitstream/10108/91151/1/jlc044009.pdf
Mobarakeh, M.D., & Sardareh, S.A. (2016). The Effect of Translation Shifts on the level of
Readability of Two Persian Translations of Novel "1984" by George Orwel.
International Journal of Humanities and Cultural Studies ISSN 2356-5926, Special
Issue, pp. 1418 – 1427. http://www.ijhcs.com/index.php/ijhcs/index
Ogura, K. (2013). Nichi-Ei Honyaku no Mondaiten o Kangaeru. Osaka University Knowledge
Archive (OUKA, pp. 1-11). https://doi.org/10.18910/50796
Sutedi, D. (2014). Dasar-Dasar Linguistik Bahasa Jepang. Humaniora. Bandung.
Taqdir. (2015). Pergeseran Struktur dan Makna dalam Penerjemahan Novel Botchan Karya
Natsume Soseki. Kotoba Journal ISSN 2303 1131, Vol. 2, pp. 1-9.
http://kotoba.fib.unand.ac.id/index.php/kotoba/article/view/19
Watson, M. (2017). Shifts in Domestication and Foreignization in Translating Japanese
Manga and Anime (part one). Kagoshima Junshin Joshi Tanki Daigaku Kenkyū Kiyō
(No. 47, hlm. 129-137) Kagoshima Immaculate Heart College, English Department.
Widyadari, N.G.A.D., Yulianeta, Ansas, V.N., Azizah, A., & Widyana, A. (2021).
Transposition in Translation of Kim Yu Jeong’s Novel Ttaengbyeot to Sengat Matahari.
Proceedings of the Fifth International Conference on Language, Literature, Culture,
and Education (ICOLLITE, pp. 497-503). https://doi.org/10.2991/assehr.k.211119.077