NIJI
Jurnal Kajian Sastra, Budaya, Pendidikan dan Bahasa Jepang
Vol. 3, No. 2, Juli 2021, p-ISSN 2355-889X
https://doi.org/10.18510/jt.2021.xxx
http://jurnal.stibainvada.ac.id/
94
MAKNA VERBA NORU DALAM KALIMAT BAHASA JEPANG
(KAJIAN SEMANTIK)
Nunik Nur Rahmi Fauzah
Institut Pendidikan dan Bahasa (IPB) Invada Cirebon
Aulia Arifbillah Anwar
Institut Pendidikan dan Bahasa (IPB) Invada Cirebon
Dewi Herliana
Institut Pendidikan dan Bahasa (IPB) Invada Cirebon
Riwayat Artikel:
Diterima April 2021;
Direvisi Mei 2021;
Disetujui Juli 2021.
Abstrak:
Penelitian ini membahas makna verba noru dalam kalimat bahasa Jepang sebagai polisemi.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan makna dasar dan makna perluasan
verba noru dalam kalimat bahasa Jepang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif,
pengumpulan data menggunakan teknik simak-catat. Analisis yang digunakan dalam
penelitian ini, yaitu analisis kualitatif, data dianalisis menggunakan Gekkan Gendai Hyoujin
Kakugoshiten dan Dijitaru Daijisen. Data penelitian diperoleh dari website nlb.ninjal.ac.jp
dan ejje.weblio.jp. Adapun hasil dari analisis makna verba noru yang ditemukan adalah verba
noru yang memiliki makna dasar dan makna perluasan. Makna dasar dari verba noru adalah
‘naik’. Makna dasar yang menyatakan naik ke atas atau pergerakan dari bawah ke atas dengan
adanya tumpuan. Terdapat dua data untuk makna dasar verba noru. Sedangkan untuk makna
perluasan terdapat lima makna perluasan dari verba noru dalam kalimat Bahasa Jepang yang
telah dianalisis, yaitu masuk ke dalam kendaraan dan meletakkan badan di atasnya sebanyak
dua data; pergerakan secara seimbang sebanyak dua data; mendengarkan pembicaraan orang
lain sebanyak dua data; mengikuti pembicaraan orang lain sebanyak dua data; dan pergerakan
yang dengan baik sebanyak dua data.
Kata kunci : Makna, polisemi, verba, noru.
Nunik Nur Rahmi Fauzah, Aulia Arifbillah Anwar dan Dewi Herliana
Makna Verba Noru dalam Kalimat Bahasa Jepang (Kajian Semantik)
95
PENDAHULUAN
Verba atau doushi merupakan salah satu kelas kata yang terdapat dalam bahasa Jepang
(Fitriana, 2018). Fungsi dari verba adalah untuk menyatakan keberadaan, keadaan, dan
aktivitas (Muhlisian, 2013). Menurut Nomura (dalam (Sudjianto, 2003, p. 158)) mengatakan
bahwa doushi atau verba merupakan salah satu kelas kata dalam bahasa Jepang yang
digunakan untuk menyatakan aktivitas, keberadaan, atau keadaan (Thomas, 2015).
Banyak kajian yang bisa digunakan untk membahas verba atau doushi (Meidariani,
2019). Kajian yang membahas mengenai makna dari sebuah kata termasuk ranah kajian
semantik (Gani, 2019). Sematik (imiron) merupakan salah satu cabang linguistik (gengogaku)
yang mengkaji tentang makna (Sutedi, 2011, p. 127). Menurut Kambartel (Pateda, 2001, p. 7)
semantik adalah studi tentang makna. Menurutnya, semantik terdiri dari struktur yang
menyatakan makna jika dihubungkan dengan objek dalam pengalaman manusia. Sedangkan
menurut (Shinmura, 1973, p. 166):
単語や形態素の意味や意味の変化を歴史的⼼理学的に研究する語学の部⾨。
Tango ya keitaiso no imi no henka o rekishiteki
shinrigakutekini kenkyuu suru gogaku
no bumon.
‘Cabang ilmu bahasa yang secara historis dan psikologis meneliti suatu kata, makna,
morfem, dan perubahan makna’ (Azzuhri et al., 2012).
Dari beberapa penjelasan oleh para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa semantik atau
imiron merupakan salah satu bidang linguistik yang mengkaji tentang suatu makna dan
perubahan makna (Fanani, 2019).
Penelitian serupa mengenai analisi makna verba pernah dilakukan oleh Dedi Sutedi dari
Graduate School of Languages and Cultures Nagoya University tahun 2001 yang mengakaji
makna verba Agaru dan Noboru . Dalam penelitiannya ia mengatakan bahwa verba agaru dan
noboru saling bersinonim (Ratna, 2017) dan ketika di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia
memiliki makna yang sama, yaitu naik (Ratna, 2017). Sutedi menyebutkan bahwa makna
verba Agaru terdapat 14 makna. Makna ini dapat diklasifikasikan dalam gerak secara ruang
dan perubahan suatu makna. Sedangkan verba noboru , pada verba ini terdapat 7 makna.
Makna pada verba noboru yang terbagi bagi dua, gerak secara ruang dan perubahan keadaan
(Sutedi, 2001).
Nunik Nur Rahmi Fauzah, Aulia Arifbillah Anwar dan Dewi Herliana
Makna Verba Noru dalam Kalimat Bahasa Jepang (Kajian Semantik)
96
Penelitian lain mengenai verba telah diteliti oleh Sisca Angela Ariani dari Universitas
Pendidikan Indonesia pada tahun 2009 dalam skripsi yang berjudul “Analisis Kontrastif Verba
Naik Dalam Bahasa Indonesia dan Verba Noru Dalam Bahasa Jepang”. Hasil yang didapatkan
dalam penelitian tersebut, yaitu bahwa verba noru dan verba naik sama-sama tergolong
kedalam verba penanda yang menunjukkan pergerakan ke arah atas. Sedangakan
perbedaannya adalah verba naik dapat digunakan ke semua jenis benda yang tinggi, namun
dalam verba noru yaitu verba yang ketinggian bendanya tidak terlalu tinggi. Lalu, pada verba
naik dapat digunakan untuk proses pergerakannya, sedangkan pada verba noru tidak (Ariani,
2009).
Dalam bahasa Jepang terdapat verba yang berbunyi sama tetapi memiliki makna yang
berbeda. Salah satunya adalah verba Noru. Verba noru dalam bahasa Jepang tidak hanya
bermakna pergerakan dari bawah ke atas saja, tetapi memiliki makna lain seperti,
menunggangi kendaraan, keadaan pergerakan dan bergerak seimbang dengan baik,
mendengarkan pembicaraan orang lain, mengikuti pembicaraan orang lain dan berjalan sesuai
rencana. Menurut (Hayashi, C., Hayashi, Y., & Kaneko, 2014, p. 909) dalam kamusnya yang
berjudul gakken gendai hyoujin kakugoshiten, menyebutkan makna noru sebagi berikut :
1. 上に上がる。「台に・る」
Ue ni agaru. (dai ni – ru)
‘Naik ke atas.’
2. 乗り物の中や上に⾝を置く。「⾞に・る」
Norimono no naka ya ue ni mi wo oku. (kuruma ni – ru)
‘Menunggangi kendaraan.’
3. 調⼦がよく合う。「好調の波に・る」
Choushi ga yoku au. (kouchou no nami ni – ru)
‘Pergerakan dan bergerak secara seimbang dengan baik.’
4. 相⼿になる。「相談にる」
Aite ni naru. (soudan ni – ru)
‘Menjadi pendengar pembicaraan orang lain.’
5. 相⼿に動かさられる。「おだてに・る」
Aite ni ugokasarareu. (odateni – ru)
‘Mengikuti pembicaraan orang lain.’
6. よくつく。「おしろいが。る」
Nunik Nur Rahmi Fauzah, Aulia Arifbillah Anwar dan Dewi Herliana
Makna Verba Noru dalam Kalimat Bahasa Jepang (Kajian Semantik)
97
Yoku tsuku. (oshiroi ga – ru)
‘Alat rias, cat, kosmetik yang digunakan pada wajah dan leher untuk membuat kulit
terlihat cantik. Yang melekat dengan baik.’
Dengan adanya berbagai macam makna inilah dapat memicu kesalah pahaman dalam
penggunaan dan maknanya. Karena pada verba noru tidak selamanya bermakna naik.
Perhatikan contoh berikut.
(1) ⾶⾏機に
乗る
Hikouki ni noru.
O P
‘Naik pesawat.’
((ejje.weblio.jp, n.d.), 30 Januari 2021)
(2) 彼らはピアノ
伴奏
乗って
歌った
Karera wa minna piano no bansō ni notte utatta.
S O P
‘Mereka semua bernyanyi dengan diiringi piano.’
((ejje.weblio.jp, n.d.), 30 Januari 2021)
Pada kalimat (1) verba noru bermakna menaiki. Sedangkan pada kalimat (2) tidak
menyatakan makna naik seperti pada kalimat pertama tetapi pada kalimat kedua dapat
bermakna ‘diiringi’. Dari contoh diatas, dapat dilihat bahwa tidak selamanya verba noru
dapat diartikan dengan naik. Kesalah pahaman dapat terjadi akibat kurangnya pemahaman
mengenai verba noru sehingga dikhawatirkan akan adanya kesalahan dalam pemakaian dan
penerjemahan pada verba noru.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, penulis melakukan penelitian
mengenai makna dasar dan makna perluasan dari verba noru dalam kalimat Bahasa Jepang
sebagi polisemi.
METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitin ini adalah metode deskriptif kualitatif. Metode
kualitatif merupakan metode yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran
terhadap objek yang diteliti melalui data atau sampel yang telah terkumpul sebagaimana
adanya tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum
(Sugiyono, 2009, p. 29).
Nunik Nur Rahmi Fauzah, Aulia Arifbillah Anwar dan Dewi Herliana
Makna Verba Noru dalam Kalimat Bahasa Jepang (Kajian Semantik)
98
Data pada penelitian ini adalah sebuah kalimat bahasa Jepang yang mengandung kata
noru karena sumber data penelitian ini diambil dari website ejje.weblio.jp dan nlb.ninjal.ac.jp
Penulis menggunakan website tersebut sebagai data primer karena pada situs tersebut
merupakan situs digital yang terpercaya dan data yang penulis butuhkan ada di situs tersebut.
Untuk pengumpulan data metode yang digunakan adalah metode simak dengan teknik
catat. Menurut (Mahsun, 2005, p. 92) metode simak atau menyimak tidak hanya berkaitan
dengan bahasa secara lisan melainkan dapat juga digunakan bahasa tertulis. Dengan metode
yang digunakan tersebut, penulis mengambil data dengan cara membaca dan mempelajari
data yang berhubungan dengan permasalahan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan Gakken Gendai Hyoujin Kakugoshiten verba noru memiliki enam makna
dan dalam Dijitaru Daijisen memiliki tiga belas makna. Dari jumlah makna tersebut
dikategorikan ke dalam dua kategori makna, yaitu makna dasar dan makna perluasan. Makna
dasar verba noru adalah pergerakan dari bawah ke atas. Makna perluasan pada verba noru
adalah mengendarai kendaraan dan meletakkan badan di atasnya; pergerakan dan bergerak
secara seimbang; mendengarkan pembicaraan orang lain; mengikuti pembicaraan orang lain;
pergerakan yang segala sesuatunya berjalan dengan baik.
Tabel 1. Kategori Makna Berdasarkan Jumlah dan Arti
Kategori Makna
Jumlah
Arti
1. Makna Dasar
2
Naik
2. Makna
Perluasan
a. Mengendarai kendaraan dan meletakkan
badan di atasnya
2
Naik
b. Pergerakan dan bergerak secara
seimbang dengan baik
2
Terbawa;
Mengikuti
c. Mendengarkan pembicaraan orang
lain
2
Ikut terlibat
d. Mengikuti pembicaraan orang lain
2
Mengikuti;
Terbuai
e. Pergerakan yang segala sesuatunya
berjalan dengan baik
2
Berjalan
sesuai
rencana
Pembahasan
1. Makna dasar
(1) わたしは軽い⼈間だけど、それでもシーソーに乗るとけっこう重いですから
ね。
Nunik Nur Rahmi Fauzah, Aulia Arifbillah Anwar dan Dewi Herliana
Makna Verba Noru Dalam Kalimat Bahasa Jepang (Kajian Semantik)
99
Watashi/ wa/ karui/ ningen/ dakedo/, sorede mo/siisoo/ ni/ noru/ to/ kekkou/ omoi/
desukarene.
Saya/ par/ ringan/ manusia/ par/ par/ jungkat – jungkit/ par/ naik/ par/ cukup/ berat.
Meskipun saya orangnya enteng, namun ketika naik jungkat jungkit lumayan
berat.’
((nlb.ninjal.ac.jp, n.d.), 1 april 2021)
Pada kalimat di atas menyatakan proses perpindahan berpindah tempat ke sesuatu yang
berada di atas karena adanya tumpuan dan menunjukkan seseorang mengalami pergerakan
atau perpindahan dari bawah ke atas jungkat-jungkit. Pergerakan jungkat-jungkit sendiri
memiliki pergerakan ke atas dan kebawah, sehingga subjek dapat mengalami pergerakan ke
atas maupun ke bawah. Hal ini dapat dihubungkan dengan adanya pergerakan ke atas dan
adanya tumpuan saat menaikinya.
(2) さあぼくのせなかに乗って
Sa/ boku/ no/ senaka/ ni /notte!
Ayo/ saya/ par/ punggung/ par/ naik.
‘Ayo naik ke punggungku!.’
((nlb.ninjal.ac.jp, n.d.), 12 april 2021)
Pada kalimat di atas menyatakan makna yang mengalami pergerakan ke atas karena
adanya tumpuan dan menunjukkan seseorang mengalami pergerakan atau perpindahan ke atas
objek. Dalam kalimat di atas seseorang memberitahukan kepada orang lain untuk menaiki
punggungnya untuk sesuatu hal yang dirasa jika menaiki punggungnya dapat memudahkan
seseorang, seperti ketika dia tidak dapat melihat sesuatu yang tidak terlihat olehnya sehingga
orang tersebut diharuskan menaiki punggung seseorang agar dapat terlihat.
Makna perluasan
a. Mengendarai kendaraan dan meletakkan badan di atasnya
(3) ⼈は歩き、⾃転⾞に乗り、クルマに乗る。
Hito/ wa/ aruki/, jitensha/ ni/ nori/, kuruma/ ni/ noru.
Orang/ par/ berjalan/ sepeda/ par/ naik/ mobil/ par/ naik.
‘Orang-orang berjalan kaki, naik sepeda, dan naik mobil.’
(nlb.ninjal.ac.jp, 12 mei 2021)
Pada kalimat di atas terdapat makna perluasan verba noru yang bermakna menunggangi
kendaraan dan meletakkan badan di atasnya, yang dimaksud mengendarai kendaraan dan
meletakkan badan di atasnya adalah sesuatu yang berhubungan dengan mengendarai dan
menunggangi suatu kendaraan.
Kalimat di atas menyatakan makna adanya suatu pergerakan dan perpindahan suatu
subjek ke atas mobil dan sepeda lalu mengendarainya. Dalam kalimat di atas menjelaskan
Nunik Nur Rahmi Fauzah, Aulia Arifbillah Anwar dan Dewi Herliana
Makna Verba Noru Dalam Kalimat Bahasa Jepang (Kajian Semantik)
bahwa banyak orang yang berjalan kaki, mengendarai sepeda dan mengendarai mobil. Saat
seseorang mengendarai sepeda dan mengendarai mobil dimana adanya pergerakan dari bawah
ke atas, maksud dari pergerakan bawah ke atas ini adalah pelaku yang bermula tidak menaiki
sepeda ataupun mobil jadi menaiki sepeda atau mobilnya dengan meletakkan badannya di atas
mobil dan di atas sepeda.
(4) 時には、⼸を射ることもあるし、⾺に乗ることもある
Toki/ ni/ wa/, yumi/ wo/ iru/ koto/ mo/ arushi/, uma/ ni/ noro/ koto/ mo/ aru.
Saat/ par/ par/ busur/ par/ menembak/ hal/ par/ ada/ kuda/ par/ naik/hal/ par/ ada.
‘Terkadang dia menembakkan busur dan terkadang naik kuda.’
(nlb.ninjal.ac.jp, 12 mei 2021)
Pada kalimat di atas terdapat makna perluasan verba noru yang bermakna masuk ke
dalam kendaraan dan meletakkan badan di atasnya, yang dimaksud mengendarai kendaraan
dan meletakkan badan di atasnya adala yang berhubungan dengan mengendarai dan
menunggangi suatu kendaraan.
Kalimat di atas menyatakan makna adanya suatu pergerakan dan perpindahan suatu
subjek ke atas kuda dan menunggangi kuda tersebut. Dalam kalimat di atas menjelaskan
bahwa seseorang yang menaiki kuda. Saat seseorang menunggangi kuda dimana adanya
pergerakan dari bawah ke atas, maksud dari pergerakan bawah ke atas ini adalah pelaku yang
bermula tidak menaiki kuda jadi menaiki kuda dengan meletakkan badannya di atas kuda.
b. Pergerakan dan bergerak secara seimbang dengan baik
(5) 霧は⾵に乗って何処へでも⼊り込んできます
Kiri/ wa/ kaze/ ni/ notte/ doko/ he/ demo/ irikondekimasu.
Kabut/ par/ kaze/ par/ naik/ dimana/ par/ par/ masuk kemana saja.
‘Karena kabut terbawa angin sehingga bisa masuk ke mana saja.’
(nlb.ninjal.ac.jp, 12 mei 2021)
Pada kalimat di atas terdapat makna perluasan verba noru, yaitu terbawa pergerakan
objek. Menyatakan makna terbawa. Subjek berupa kabut yang menunjukkan bahwa kabut
tersebut terbawa oleh angin. Pada kalimat di atas dapat terjadi perubahan atau perluasan
makna pada verba noru berpengaruh pada objek apa yang melekat pada verba noru dalam
suatu kalimat.
Pada kalimat di atas dapat bermakna terbawa karena objek kaze melekat pada verba
noru yang dihubungkan dengan partikel ni, sehingga pada verba noru tidak bermakna naik
lagi. Dalam kalimat di atas menjelaskan bahwa adanya sebab akibat, karena adanya
Nunik Nur Rahmi Fauzah, Aulia Arifbillah Anwar dan Dewi Herliana
Makna Verba Noru Dalam Kalimat Bahasa Jepang (Kajian Semantik)
pergerakan kabut yang terbawa angin sehingga membuat kabut tersebut dapat masuk ke ruang
mana saja. Pergerakan kabut yang terbawa oleh angin adalah ke atas sehingga kabut itu
mengalami pergerakan ke atas dikarena angin.
(6) 船は、海の波のリズムに乗ってゆらりゆらりと動いていました
Fune/ wa/, umi/ no/ nami/ no/ rizumu/ ni/ notte/ yurari/ to/ ugoite/ imashita.
Kapal/ par/ laut/ par/ ombak/ par/ irama/ par/ naik/ terombang – ambing / par/
bergoyang
‘Kapal itu bergoyang terombang - ambing mengikuti irama ombak laut.’
(nlb.ninjal.ac.jp, 12 mei 2021)
Pada kalimat di atas terdapat makna perluasan verba noru, yaitu mengikuti pergerakan
objek. Menyatakan makna mengikuti. Subjek berupa kapal yang menunjukkan bahwa kapal
tersebut terombang-ambing oleh ombak laut. Pada kalimat di atas dapat terjadi perubahan atau
perluasan makna pada verba noru berpengaruh pada objek apa yang melekat pada verba noru
dalam suatu kalimat.
Pada kalimat di atas dapat bermakna terbawa karena objek kaze melekat pada verba
noru yang dihubungkan dengan partikel ni, sehingga pada verba noru tidak bermakna naik
lagi. Dalam kalimat di atas menjelaskan bahwa adanya sebab akibat, karena adanya
pergerakan ombak membuat kapal bergoyang terombang - ambing. Pergerakan kapal yang
terombang-ambing karena mengikuti ombak membuat kapal itu bergerak ke atas sehingga
kapal itu mengalami pergerakan ke atas dikarena mengikuti pergerakan ombak.
c. Mendengarkan pembicaraan orang lain
(7) ⼈の⼝⾞に乗らない。
Hito/ no/ kuchiguruma/ ni/ noranai.
‘Jangan ikut terlibat omongan orang.’
(nlb.ninjal.ac.jp, 12 mei 2021)
Pada kalimat di atas terdapat makna perluasan verba noru, yaitu mengikuti pergerakan
objek. Pada kalimat di atas dapat terjadi perubahan atau perluasan makna pada verba noru
berpengaruh pada objek apa yang melekat pada verba noru dalam suatu kalimat. Pada kalimat
di atas dapat bermakna ikut terlibat karena objek kuchiguruma melekat pada verba noru yang
dihubungkan dengan partikel ni, sehingga pada verba noru tidak bermakna naik lagi.
Kalimat di atas menyatakan bahwa seseorang bisa menjadi peran sebagai penentu atau
tidak terlalu ikut menentukan dalam pembicaraan orang lain. Peran sebagai penentu atau tidak
terlalu ikut campur dalam pembicaraan orang lain dianggap memiliki posisi lebih tinggi
Nunik Nur Rahmi Fauzah, Aulia Arifbillah Anwar dan Dewi Herliana
Makna Verba Noru Dalam Kalimat Bahasa Jepang (Kajian Semantik)
dibandingkan dengan mengikuti atau ikut campur dalam pembicaraan orang lain. Meski
makna noru secara ruang dari bawah ke atas tidak dapat terlihat, namun nuansa makna noru
masih bisa dirasakan pada perubahan makna dari kalimat di atas.
(8) もちろん、そんな話に乗る⼈はひとりもいませんよ。
Mochiron/ , sonna/ hanashi/ ni/ noru/ hito/ wa/ hitorimoi/ masenyo.
‘Tentu saja, tidak ada seorangpun yang ikut terlibat dalam pembicaraannya.’
(nlb.ninjal.ac.jp, 12 mei 2021)
Pada kalimat di atas terdapat makna perluasan verba noru, yaitu terbawa pergerakan
objek. Menyatakan makna terlibat. Pada kalimat di atas dapat terjadi perubahan atau
perluasan makna pada verba noru berpengaruh pada objek apa yang melekat pada verba noru
dalam suatu kalimat. Pada kalimat di atas dapat bermakna terlibat karena objek soudan
melekat pada verba noru yang dihubungkan dengan partikel ni, sehingga pada verba noru
tidak bermakna naik lagi.
Kalimat di atas menyatakan bahwa seseorang bisa menjadi peran sebagai penentu atau
tidak terlalu ikut menentukan dalam pembicaraan orang lain. Peran sebagai penentu atau tidak
terlalu ikut campur dalam pembicaraan orang lain dianggap memiliki posisi lebih tinggi
dibandingkan dengan mengikuti atau ikut campur dalam pembicaraan orang lain. Meski
makna noru secara ruang dari bawah ke atas tidak dapat terlihat, namun nuansa makan noru
masih bisa dirasakan pada perubahan makna dari kalimat di atas.
d. Mengikuti pembicaraan orang lain
(9) あんたがやらなくても、あんたのようにうまい話に乗る⼈はたくさんいる
Anta/ ga/ yaranakute/ mo/, anta/ no/ youni/ umai/ hanashi/ ni/ noru/ hito/ wa/
takusan/ iru.
Anda/ par/ tidak melakukan/ juga/ anda/ par/ par/ bagus/ berbicara/ par/ naik/
orang/ par/ banyak/ ada.
‘Bahkan jika Anda tidak melakukannya, ada banyak orang yang mengikuti ucapan
yang baik seperti Anda.’
(nlb.ninjal.ac.jp, 12 mei 2021)
Pada kalimat di atas terdapat makna perluasan verba noru, yaitu terbawa pergerakan
objek. Menyatakan makna mengikuti. Subjek berupa orang karena apapun jika apa yang kamu
ucapkan itu baik pasti orang akan mengikuti hal – hal baiknya. Seseorang yang selalu berucap
baik dianggap memiliki posisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan seseorang yang selalu
Nunik Nur Rahmi Fauzah, Aulia Arifbillah Anwar dan Dewi Herliana
Makna Verba Noru Dalam Kalimat Bahasa Jepang (Kajian Semantik)
berucap tidak baik. Meski makna noru secara ruang dari bawah ke atas tidak dapat terlihat,
namun nuansa makna noru masih bisa dirasakan pada perubahan makna pada kalimat di atas.
Pada kalimat di atas dapat terjadi perubahan atau perluasan makna pada verba noru
berpengaruh pada objek apa yang melekat pada verba noru dalam suatu kalimat. Pada kalimat
di atas dapat bermakna mengikuti karena objek hanashi melekat pada verba noru yang
dihubungkan dengan partikel ni, sehingga pada verba noru tidak bermakna naik lagi.
(10) ⼆度とその⼿には乗らない。
Futado/ to/ sono/ te/ ni/ wa/ noranai.
Dua kali/ par/ itu/ tangan/ par/ par/ tidak naik.
‘Saya tidak akan terbuai oleh hal itu lagi.’
(nlb.ninjal.ac.jp, 6 mei 2021)
Pada kalimat di atas terdapat makna perluasan verba noru, yaitu terbuai. Subjek berupa
orang yang tidak akan terpengaruh akan hal lain untuk kedua kalinya. Terbuai yang dimaksud
adalah keadaan dimana seseorang dalam situasi yang mudah terpengaruh oleh orang lain atau
hal lain. Ketika seseorang sedang terpengaruh dalam situasi dapat diibaratkan posisinya
berada di bawah dan jika seseorang tidak akan terpengaruh lagi untuk kedua kalinya dapat
diibaratkan posisinya berada di atas. Karena sebelumnya subjek terpengaruh dimana
apapun dan akhirnya tidak akan terpengaruh lagi. Meski makna noru secara ruang dari bawah
ke atas tidak dapat terlihat, namun nuansa makna noru masih bisa dirasakan pada perubahan
makna pada kalimat di atas.
Pada kalimat di atas dapat terjadi perubahan atau perluasan makna pada verba noru
berpengaruh pada objek apa yang melekat pada verba noru dalam suatu kalimat. Pada kalimat
di atas dapat bermakna terbuai karena objek te melekat pada verba noru yang dihubungkan
dengan partikel ni, sehingga pada verba noru tidak bermakna naik lagi.
e. Pergerakan yang segala sesuatunya berjalan dengan baik
(11) ようやく稼業も軌道に乗ってきた。
Youyaku/ kagyou/ mo/ kidou/ ni/ notte kita.
Akhirnya/ bisnis/ juga/ jalur/ par/ naik.
‘Bisnis akhirnya berjalan sesuai rencana.’
(nlb.ninjal.ac.jp, 5 juni 2021)
Pada kalimat di atas terdapat makna perluasan verba noru, yaitu berjalan dengan baik.
Menyatakan makna berjalan sesuai rencana. Kalimat di atas menyatakan bisnis yang sedang
di kerjakan telah berjalan sesuai rencana karena pada bisnis tersebut mengalami keberhasilan.
Nunik Nur Rahmi Fauzah, Aulia Arifbillah Anwar dan Dewi Herliana
Makna Verba Noru Dalam Kalimat Bahasa Jepang (Kajian Semantik)
Jika ada keberhasilan maka ada pula kegagalan. Keberhasilan yang diperoleh dianggap
memiliki posisi yang lebih tinggi dibandingkan jika bisnis tersebut mengalami kegagalan,
sehingga ketika mengalami keberhasilan dapat dianggap bahwa ia sedang mangalami
pergerakan noru atau bergerak ke atas.
Pada kalimat di atas dapat terjadi perubahan atau perluasan makna pada verba noru
berpengaruh pada objek apa yang melekat pada verba noru dalam suatu kalimat. Pada kalimat
di atas dapat bermakna berjalan sesuai rencana karena objek kidou melekat pada verba noru
yang dihubungkan dengan partikel ni, sehingga pada verba noru tidak bermakna naik lagi.
(12) 仕事が軌道に乗れば、派遣スタッフへの⽀払い額も増える。
Shigoto/ ga/ kidou/ ni/ noreba/, haken/ sutaffu/ he/ no/ shiharai/ gaku/ mo/ fueru.
Pekerjaan/ par/ jalur/ par/ naik/ pengiriman/ staf/ par/ par/ pembayaran/ jumlah/
juga/ meningkatkan.
‘Jika pekerjaan berjalan sesuai rencana, maka jumlah pembayaran kepada staf
pengirim juga akan meningkat.’
(nlb.ninjal.ac.jp, 5 juni 2021)
Pada kalimat di atas terdapat makna perluasan verba noru, yaitu berjalan dengan baik.
Menyatakan makna berjalan sesuai rencana. Kalimat di atas menyatakan jika pekerjaan yang
telah dikerjakan berjalan sesuai yang diharapkan maka akan membuahkan hasil yang baik,
sehingga seseorang akan mendapatkan keuntungan. Jika keuntungan makan ada pula
kerugian. Seseorang yang mengalami keuntungan dianggap memiliki posisi yang lebih tinggi
dibanding seseorang yang mengalami kerugian. Sehingga ketika merasa untung dapat
dianggap bahwa ia sedang mangalami pergerakan noru atau bergerak ke atas.
Pada kalimat di atas dapat terjadi perubahan atau perluasan makna pada verba noru
berpengaruh pada objek apa yang melekat pada verba noru dalam suatu kalimat. Pada kalimat
di atas dapat bermakna berjalan sesuai rencana karena objek kidou melekat pada verba noru
yang dihubungkan dengan partikel ni, sehingga pada verba noru tidak bermakna naik lagi.
KESIMPULAN
Makna verba noru yang ditemukan adalah verba noru yang memiliki makna dasar dan
makna perluasan. Makna dasar dari verba noru adalah ‘naik’. Makna dasar yang menyatakan
naik ke atas atau pergerakan dari bawah ke atas dengan adanya tumpuan. Terdapat dua data
untuk makna dasar verba noru. Sedangkan untuk makna perluasan terdapat lima makna
perluasan dari verba noru dalam kalimat Bahasa Jepang yang telah dianalisis, yaitu masuk ke
dalam kendaraan dan meletakkan badan di atasnya sebanyak dua data; pergerakan secara
seimbang sebanyak dua data; mendengarkan pembicaraan orang lain sebanyak dua data;
Nunik Nur Rahmi Fauzah, Aulia Arifbillah Anwar dan Dewi Herliana
Makna Verba Noru dalam Kalimat Bahasa Jepang (Kajian Semantik)
mengikuti pembicaraan orang lain sebanyak dua data; dan pergerakan yang dengan baik
sebanyak dua data.
Nunik Nur Rahmi Fauzah, Aulia Arifbillah Anwar dan Dewi Herliana
Makna Verba Noru dalam Kalimat Bahasa Jepang (Kajian Semantik)
REFERENSI
Ariani, S. A. (2009). Analisis Kontrastif Verba Naik Dalam Bahasa Indonesia dan Verba Noru
Dalam Bahasa Jepang. Universitas Pendidikan Indonesia.
Azzuhri, M., Hardini, I., & Misbakhudin, M. (2012). Perubahan Makna Nomina Bahasa Arab
dalam Alquran (Analisis Sosiosemantik).
ejje.weblio.jp. (n.d.-a). ejje.weblio.jp.
ejje.weblio.jp. (n.d.-b). ejje.weblio.jp.
Fanani, U. Z. (2019). Learning the Meaning of Sanji Jukugo (Three Characters Compound) in
[雪国](Snow Country) by Kawabata Yasunari Based on Industrial Revolution 4.0: A
Semantic Study. UI Proceedings on Social Science and Humanities, 3(2).
Fitriana, R. (2018). Pemakaian Verba Aru dan Iru Sebagai Pemarkah Gender Gramatikal
dalam Bahasa Jepang. Media Bahasa, Sastra, Dan Budaya Wahana, 1(10).
Gani, S. (2019). Kajian teoritis struktur internal bahasa (fonologi, morfologi, sintaksis, dan
semantik). A Jamiy: Jurnal Bahasa Dan Sastra Arab, 7(1), 1–20.
Hayashi, C., Hayashi, Y., & Kaneko, M. (2014). Gendai Hyoujin Kakugojiten. Gakkenkyoi.
Mahsun. (2005). Metode Penelitian Bahasa. PT Raja Grafindo Persada.
Meidariani, N. W. (2019). Makna Verba Bahasa Jepang. Jurnal Ayumi, 6(2), 97–113.
Muhlisian, A. A. (2013). Analisis Deskriptif Penggunaan [~ タばかり],[~ タところ],[~
タとたん] yang Menyatakan Beberapa Saat Waktu yang Sudah Berlalu Setelah Suatu
Aktivitas Terjadi. Izumi, 1(1).
nlb.ninjal.ac.jp. (n.d.). nlb.ninjal.ac.jp.
Pateda, M. (2001). Semantik leksikal. Rineka Cipta.
Ratna, M. P. (2017). Kesinoniman Verba Oriru Dalam Bahasa Jepang (Kajian Semantik).
Izumi, 2(2), 91918.
Shinmura, I. (1973). Kojien. Iwanami Shoten.
Sudjianto. (2003). Gramatika Bahasa Jepang. Kesaint Blanc.
Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan
R&D. Alfabeta.
Sutedi, D. (2001). Analisis Verba Agaru dan Noboru. “FUSII” Forum Utama Sumber
Informasi Ilmiah, Jepang Ten.
Sutedi, D. (2011). Dasar Dasar Linguistik Bahasa Jepang. Bandung: Humaniora.
Nunik Nur Rahmi Fauzah, Aulia Arifbillah Anwar dan Dewi Herliana
Makna Verba Noru dalam Kalimat Bahasa Jepang (Kajian Semantik)
Thomas, P. A. (2015). Analisis Verba Shinu dan Nakunaru Serta Pemakaiannya dalam
Kalimat Bahasa Jepang di Tinjau dari Ilmu Semantik (Sebuah Studi Komparatif)
日本語の文における動詞 「死ぬ」 および 「なくなる」 の使用に関し,
意味論から分析する 「比較学」. JURNAL ELEKTRONIK FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SAM RATULANGI, 2(2).