NIJI
Jurnal Kajian Sastra, Budaya, Pendidikan dan Bahasa Jepang
Vol. 3, No. 2, Juli 2021, p-ISSN 2355-889X
https://doi.org/10.18510/jt.2021.xxx
http://jurnal.stibainvada.ac.id/
122
EKSPRESI KECEWA DALAM FILM JEPANG “HOT ROAD”
(KAJIAN PRAGMATIK)
Yanti Hidayati
Institut Pendidikan dan Bahasa (IPB) Invada Cirebon
Andi Abd. Khaliq Syukur
Institut Pendidikan dan Bahasa (IPB) Invada Cirebon
Fikih Simpatik
Institut Pendidikan dan Bahasa (IPB) Invada Cirebon
Riwayat Artikel:
Diterima Maret 2021;
Direvisi Mei 2021;
Disetujui Juli 2021.
Abstrak
Penelitian ini meneliti tentang tindak tutur langsung dan tidak langsung yang menunjukkan
ekspresi kecewa. Penelitian ini menganalisis tindak tutur langsung dan tidak langsung yang
menunjukkan ekspresi kecewa pada film Hot Road (2014) yang bergenre romantis. Teori yang
digunakan pragmatik. Dalam pragmatik menggunakan teori Yule (2014), sedangkan untuk
menganalisis emosi kecewa menggunakan teori Zeelenberg et al (2000) dan Turner (2007).
Metode penelitian menggunakan tehnik deskriptif kualitatif. Dari hasil identifikasi terdapat 37
data, tetapi yang akan dibahas cuma 10 data yang merupakan tindak tutur langsung dan tidak
langsung yang menunjukkan ekspresi kecewa. Dari analisais tersebut ditemukan jenis ekspresi
yang menunjukkan kecewa, kecewa yang terkait dengan ekspresi marah, kecewa yang terkait
dengan ekspresi sedih dan kecewa yang terkait dengan ekspresi kesal yang melatarbelakangi
tuturan pada data tersebut. Film Hot Road (2014) dengan tindak tutur kecewa langsung ada
kata penanda tuturannya yaitu “yabai”, ”kawaisouda”, ”yabee” dll. Sedangkan tuturan tidak
langsung dalam film Hot Road (2014) menunjukkan kerumitan ekspresi kecewa, karena
hanya dipahami dalam konteks kalimat/percakapan.
Kata kunci: pragmatik, tindak tutur langsung dan tidak langsung, kecewa, Hot Road
Yanti Hidayati, Andi Abd. Khaliq Syukur dan Fikih Simpatik
Ekspresi Kecewa dalam Film Jepang “Hot Road” (Kajian Pragmatik)
123
PENDAHULUAN
Setiap negara mempunyai cara tersendiri dalam mengungkapkan rasa kecewa (Ahmad
et al., 2015). Ada sebagian orang yang mengungkapkan rasa kecewa secara langsung
(Rithaudin, 2010), namun banyak juga yang mengungkapkan kecewa secara tidak langsung
(Musthofa & Utomo, 2021). Penelitian ini akan meneliti tentang tindak tutur langsung dan tidak
langsung yang menunjukkan ekspresi kecewa (Hidayati, Syukur, & Sukmana, 2022). Penelitian ini
akan membahas tindak tutur langsung dan tidak langsung yang menunjukkan ekspresi kecewa
dalam film Jepang yaitu film Hot Road (2014) yang disutradarai oleh Takahiro Miki
(Takahiro, 2014).
Dalam percakapan ada dua bentuk tindak tutur, tindak tutur langsung dan tidak langsung
(Yule, 2014, p. 95). Tindak tutur langsung yaitu tuturan yang hanya membuat suatu
pernyataan, pertanyaan (Ariyanti & Zulaeha, 2017) dan permohonan yang langsung dapat
dipahami oleh mitra tutur (Darwis, 2018). Sedangkan tindak tutur tidak langsung yaitu tuturan
yang mengandung maksud tertentu yang dipengaruhi dengan konteksnya (Dwijayanti, 2019),
sehingga tidak secara langsung dipahami oleh mitra tutur (Dwijayanti, 2019). Oleh karena itu,
untuk dalam sebuah percakapan perlu untuk melihat jenis tindak tutur (Apriastuti, 2017).
Yule membagi jenis tindak tutur menjadi 3, yaitu lokusi, ilokusi dan perlokusi (Rosita,
2019). Tindak tutur adalah hasil dari suatu kalimat dalam kondisi tertentu dan merupakan
satuan terkecil dalam interaksi lingual yang dihasilkan dari suatu kalimat (Bawamenewi,
2020). Tindak tutur dapat berupa wujud pernyataan, pertanyaan, dan perintah (Yusuf, Mahmut, &
Devi, 2021). Tindak tutur ke dalam tiga jenis yaitu lokusi, ilokusi dan perlokusi (Amfusina,
Rahayu, & Harliyana, 2020). Sedangkan klasifikasi umum tindak tutur mencantumkan 5 jenis
fungsi yaitu deklarasi, representatif, ekspresif, direktif dan komisif (Yule, 2014, pp. 83-94).
Namun, pada penelitian ini penulis hanya fokus pada tindak tutur ilokusi yang mempunyai
fungsi ekspresif kecewa (Nadzifah & Utomo, 2020). Kekecewaan merupakan disconfirmed
expectancy (harapan-harapan yang tidak terpenuhi (Simanjuntak, 2021) (Zeelenberg M. e.,
2000). Turner menambahkan kekecewaan merupakan perasaan sekunder yang merupakan
kombinasi dari dua perasaan primer yaitu keterkejutan (surprise) dan penderitaan (sorrow)
menjadi kecewa (disappointment) (Suharyanto, 2021). Hal tersebut dapat muncul dalam
berbagai strategi pengungkapan tuturan yang mengandung elaborasi emosi dari kekecewaan
yang dapat berbentuk kombinasi dengan emosi-emosi negatif atau pun positif dalam satu
tempo (Turner, 2007, p. 6) .
Berikut contoh tindak tutur kecewa yang penulis temukan dari penelitian terdahulu:
Yanti Hidayati, Andi Abd. Khaliq Syukur dan Fikih Simpatik
Ekspresi Kecewa dalam Film Jepang “Hot Road” (Kajian Pragmatik)
124
(1) Hyuga :
悪いけど
ほとんどの⼈間 を覚えてない。
Warui kedo hotondo no ningen wo oboetenai.
Maaf tapi aku tak mengingat mereka semua’
Asahina : 気にするな。
Ki ni suruna.
‘Jangan berpikir seperti itu.’
(Reskhi, 2016)
Pada contoh tuturan (1) merupakan jenis tindak tutur kecewa, karena di dalamnya
terdapat perasaan kecewa. Konteks pada tuturan (1) adalah ketika Hyuga mengeluh kepada
Asahina tentang dirinya yang susah untuk mengingat semua karyawan-karyawannya di
perusahaan. Hyuga menderita penyakit, dia susah untuk mengahafal nama dan wajah
seseorang meskipun telah beberapa kali bertemu dan berkomunikasi. Mengeluh disini bisa
dikatakan lebih terhadap perasaan kecewa. Terdapat kata warui kedo yang menunjukkan
ada penekanan bahwa dia sedang kecewa secara langsung.
Berdasarkan pemaparan tersebut, penulis tertarik untuk mengkaji bagaimana jenis
tindak tutur kecewa langsung dan tidak langsung, dan bagaimana emosi kecewa yang
ditampilkan dalam film Hot Road dengan judul Ekspresi Kecewa dalam Film Jepang Hot
Road” dengan kajian pragmatik.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif (Moleong, 2017). Objek
data yang diambil dari penelitian ini adalah percakapan dan kalimat yang mengandung jenis
tindak tutur kecewa langsung dan tidak langsung yang terdapat dalam film Jepang. Sumber
data yang digunakan dalam penelitian ini adalah film Hot Road. Pada film Hot Road terdapat
37 data yang menunjukkan ekspresi kecewa. Metode pengumpulan data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah metode simak catat menurut (Sudaryanto, 1993, p. 133) dengan
validasi data oleh native speaker. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan beberapa tahap
menurut (Miles M. H., 2014, p. 29) yaitu pertama menyimak tuturan yang terdapat pada film
Hot Road . Kedua, mencatat tuturan naskah atau mengumpulkan data pada film Hot Road .
Ketiga, yaitu menganalisis data dengan menggunakan teori dan metode yang telah dipaparkan
serta tahap terakhir yaitu penarikan kesimpulan mengenai jenis tindak tutur kecewa langsung
dan tidak langsung dan mengkontrastif tindak tutur kecewa langsung dan tidak langsung pada
film Hot Road.
Yanti Hidayati, Andi Abd. Khaliq Syukur dan Fikih Simpatik
Ekspresi Kecewa dalam Film Jepang “Hot Road” (Kajian Pragmatik)
125
Dalam penelitian ini penulis menggunakan sumber data dari film Hot Road, karena film
tersebut banyak mengandung tuturan-tuturan kecewa. Film ini akan dikaji dengan
menggunakan teori dari (Yule, 2014) untuk menganalisis ekspresi kecewa secara langsung
dan tidak langsung.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dalam proses identifikasi, kecewa langsung dan tidak langsung adalah data yang
diambil berdasarkan tuturan yang menunjukkan ekspresi kecewa, isi tururan yang
menunjukkan ekspresi kecewa, dan ekspresi atau konteks yang menunjukkan kekecewaan.
Penulis telah menemukan 37 data, tuturan ekspresi kecewa, dalam pembahasan penulis akan
menganalisis beberapa data yang menunjukkan bentuk ekspresi kecewa langsung dan tidak
langsung. Dari 5 data yang dianalisis menampilkan kompleksitas ekspresi kecewa film Hot
Road .
Data pertama merupakan adegan yang terjadi saat Kazuki sedang berjalan sambil makan
dengan Haruyama yang saat itu adalah pacarnya, melihat ibunya berjalan ke hotel bersama
dengan kekasih ibunya. Kazuki kemudian berlari menghampiri ibunya, namun Kazuki ditahan
oleh penjaga hotel sehingga tidak bisa mengikuti ibunya.
(1) かずき:
ババア!
Kazuki : babaa !
Kazuki : Wanita tua!
あんちすきる:おきゃくさま。おきゃくさま。
Anchisukiru : okyakusama. Okyakusama.
Satpam : Nona! Nona!
かずき:
パパが。。。パパがかわいそうだ。「
本当は。。。お前は傷つけた
くないんだよ。」
Kazuki: papa ga...papa ga kawaisouda.(hontou wa .. omae wa kizutsuketakunaindayo.)
Kazuki: Ayah... kasihan sekali ayah. [Sebenarnya, aku tidak bermaksud menyakitimu.]
(Takahiro, 2014)
Pada percakapan data pertama menit 01:14:48- 01:15:13 diidentifikasikan sebagai
kalimat deklaratif. Tuturan kalimat deklaratif pada percakapan tersebut dituturkan oleh tokoh
Kazuki. Kalimat deklaratif tokoh Kazuki, yaitu mengatakan papa ga... papa ga
kawaisouda yang dalam bahasa Indonesia Ayah... kasihan sekali ayah”. Maksud dari
tuturan Kazuki, adalah mendeklarasikan pernyataan kepada ibunya yang tak punya rasa
kasihan kepada ayahnya. Gejala ini dapat diidentifikasi sebagai ekspresi kecewa karena
Yanti Hidayati, Andi Abd. Khaliq Syukur dan Fikih Simpatik
Ekspresi Kecewa dalam Film Jepang “Hot Road” (Kajian Pragmatik)
126
menunjukkan harapan Kazuki yang berharap ibunya lebih memberi perhatian dan kesempatan
pada bapaknya.
Dalam ekspresi kecewa ini terkait dengan ekspresi marah. Gejala ini dapat diidentifikasi
pada tuturan Kazuki pada saat memanggil mamanya. Kazuki memanggilnya dengan sebutan
babaa ! yang dalam bahasa Indonesia yaitu “Wanita tua!”. Tuturan ini diucapkan dengan
nada suara yang tinggi dan eksperesi marah.
Dalam percakapan termasuk dalam ekspresi kecewa langsung, meski dalam adegan film
ini, tuturan tersebut tidak direspon oleh lawan bicara. Meski demikian percakapan ini dapat
dipahami oleh penonton karena terdapat kesesuaian antara konteks konflik narasi antara
Kazuki dan Ibunya. Dalam konteks narasi bahwa sebenarnya ayah Kazuki sudah meninggal,
tetapi karena Kazuki tidak menyukai ibunya berjalan dengan mantannya, sehingga dia merasa
marah dan kecewa. Oleh karena itu terdapat kesesuaian antara struktur dengan fungsi
sehingga percakapan tersebut diidentifikasi sebagai tuturan langsung.
Dengan demikian dapat diketahui percakapan dalam kutipan tersebut menunjukkan
ekspresi kecewa yang diidentifikasikan pada kata kawaisouda” artinya “kasihan”. Sedangkan
ekspresi kecewa yang terkait dengan marah diidentifikasi dari “babaa!” yang berarti “Wanita
Tua” yang diujarkan dengan nada tinggi. Selain itu, menunjukkan tuturan kecewa langsung
yang dapat langsung dipahami oleh penonton, baik secara konteks, ekspresi, dan pilihan
diksinya.
Data kedua merupakan adegan yang terjadi saat itu Haruyama yang memimpin geng
motor, tetapi keadaan Haruyama sedang tidak baik yaitu tidak enak badan memutuskan untuk
istirahat sebentar dirumah. Pada saat dirumah ternyata ada Kazuki pacarnya Haruyama, yang
tidak mengijinkan Haruyama untuk ikut berperang. Sedangkan situasi yang terjadi pada
teman-temannya yaitu menunggu Haruyama. Teman-teman geng motor yang di pimpin oleh
Haruyama sudah tidak sabar untuk berperang dengan musuhnya.
(2) はるやま:何でいったよ。こんな⽇にくんなよ。
Haruyama : nande ittayo. Konna hi ni kunnayo.
Haruyama : Sedang apa kamu di sini? Kenapa kamu harus muncul hari ini?
---------------------------- scene sebelumnya ----------------------------------
友達:
やばいはるてねえ
Tomodachi : Yabai! Haru kitenee.
Teman : Gawat! Haru belum datang!
(Takahiro, 2014)
Yanti Hidayati, Andi Abd. Khaliq Syukur dan Fikih Simpatik
Ekspresi Kecewa dalam Film Jepang “Hot Road” (Kajian Pragmatik)
127
Pada percakapan data kedua menit 01:28:51-01:28:52 diidentifikasikan sebagai kalimat
deklaratif. Tuturan kalimat deklaratif pada percakapan tersebut dituturkan oleh tokoh teman
Haruyama. Kalimat deklaratif tokoh teman Haruyama, yaitu mengatakan Haru kiteneeyang
dalam bahasa Indonesia “Haru belum datang!”. Maksud dari tuturan teman Haruyama, adalah
mendeklarasikan pernyataan kepada semua anggota Night kalau peperangan tidak ada
pemimpin maka tidak akan bisa berjalan dengan baik, Haruyama.adalah ketua anggota Night.
Gejala ini dapat diidentifikasi sebagai ekspresi kecewa karena menunjukkan harapan teman
Haruyama yang berharap Haruyama datang tepat waktu.
Dalam ekspresi kecewa ini hanya menunjukkan ekspresi kecewa, tidak terkait dengan
ekspresi yang lain. Gejala ini dapat diidentifikasi pada tuturan teman Haruyama. Teman
Haruyama mengatakan Yabai! yang dalam bahasa Indonesia yaitu “Gawat!”. Tuturan ini
diucapkan dengan nada kecewa.
Dalam percakapan termasuk dalam ekspresi kecewa langsung, meski dalam adegan film
ini, tuturan tersebut tidak direspon oleh lawan bicara. Meski demikian percakapan ini dapat
dipahami oleh penonton karena terdapat kesesuaian antara konteks konflik narasi antara
teman Haruyama kepada anggota Night. Dalam konteks narasi bahwa sebenarnya Haruyama
sedang sakit dirumahnya, namun seluruh anggota Night hanya ingin ketua yang memimpin
perang datang tepat waktu, sehingga mereka merasa kecewa. Oleh karena itu terdapat
kesesuaian antara struktur dengan fungsi sehingga percakapan tersebut diidentifikasi sebagai
tuturan langsung.
Dengan demikian dapat diketahui percakapan dalam kutipan tersebut menunjukkan
ekspresi kecewa yang diidentifikasikan pada kata Yabai!artinya “Gawat!” yang diujarkan
dengan nada kecewa. Selain itu, menunjukkan tuturan kecewa langsung yang dapat langsung
dipahami oleh penonton, baik secara konteks, ekspresi, dan pilihan diksinya.
Data ketiga merupakan adegan yang terjadi saat disebuah restoran tempat teman-teman
Haruyama berkumpul, kemudian ada teman datang yang membawakan berita bahwa Touru
ketua Night akan pensiun. Mereka sudah mendengar bahwa Haruyama yang akan
menggantikan posisi Touru, tetapi mereka tidak setuju kalau Haruyama yang memimpin
Night.
(3) ともだち 1 :へい
Tomodachi 1 : hei
Teman 1 : Hei!
みんな:わあ。。。
Yanti Hidayati, Andi Abd. Khaliq Syukur dan Fikih Simpatik
Ekspresi Kecewa dalam Film Jepang “Hot Road” (Kajian Pragmatik)
128
Minna : waa...
Semua : Wah!
ともだち1:聞いた。聞いた。聞いた。
Tomodachi 1: Kiita. Kiita. Kiita.
Teman 1: Sudah dengar? Hei, sudah dengar? Sudah?
ともだち2:聞いた。聞いた。聞いた。
Tomodachi 2: Kiita. Kiita. Kiita.
Teman 2: Ya, ya, ya, sudah dengar.
ともだち 3:とうるさんいんたい。
Tomodachi 3 :Touru san intai.
Teman 3: Tooru-san akan pensiun!
ともだち 4:とうるさんがほんぶに、つぎのななだいめそうあたまは、はるや
まにやらせた いって。
Tomodachi 4: Touru san ga honbu ni, tsugi no nanadai mesou atama wa, Haruyama ni
yaraseta itte.
Teman 4 : Kudengar dia pergi ke markas untuk meminta izin agar Haruyama menjadi
pemimpin generasi ke-7.
ともだち5:そう。
Tomodachi 5: Sou.
Teman 5 : Benar!
ともだち3:けど、かんぶが
ナイツの頭あんなやつにやらせられっかって。
Tomodachi 3 : Kedo, kanbu ga naitsu no kao anna yatsu ni yaraserarekkatte.
Teman 3 : Pertanyaannya adalah apakah ketua mengizinkan dia menjadi pemimpin
Nights.
ともだち 1
もう、いかりくるっちまって話になんねえよ。
Tomodachi 1: Mou. Ikari kurucchi matte hanashi ni nan neeyo.
Teman 1 : Aku bahkan kesal tak bisa bicara.
ともだち 2
やっべえ、ナイツぶんれつするかも。
Tomodachi 2: yabbee, naitsu bunretsu suru kamo.
Teman 2 : Sial. Nights mungkin akan berantakan.
(Takahiro, 2014)
Pada percakapan data ketiga menit 00:41:45- 00:42:12 diidentifikasikan sebagai
kalimat deklaratif. Tuturan kalimat deklaratif pada percakapan tersebut dituturkan oleh salah
satu tokoh anggota Night yaitu teman 1 dan teman 2 Haruyama. Kalimat deklaratif tokoh
teman 1, yaitu mengatakan Mou. Ikari kurucchi matte hanashi ni nan neeyo yang dalam
Yanti Hidayati, Andi Abd. Khaliq Syukur dan Fikih Simpatik
Ekspresi Kecewa dalam Film Jepang “Hot Road” (Kajian Pragmatik)
129
bahasa Indonesia “Aku bahkan kesal tak bisa bicara”. Maksud dari tuturan teman 1, adalah
mendeklarasikan pernyataan kepada teman-teman anggota Night yang tidak setuju kalau
Haruyama yang akan menggantikan posisi Tooru yaitu menjadi ketua Night. Gejala ini dapat
diidentifikasi sebagai ekspresi kecewa karena menunjukkan harapan teman-teman anggota
Night yang berharap Haruyama tidak menjadi ketua Night.
Dalam ekspresi kecewa ini terkait dengan ekspresi kesal. Gejala ini dapat
diidentifikasi pada tuturan yang dikatakan oleh teman 1 di atas, dan direspon kembali oleh
teman 2 yang sama telah menunjukkan ekspresi kecewa. Teman 2 mengucapkan kata
yabbee yang dalam bahasa Indonesia yaitu “Sial” kemudian diteruskan kalimat naitsu
bunretsu suru kamo artinya Nights mungkin akan berantakan”. Tuturan ini diucapkan
dengan nada suara kesal tetapi pada scene nya tidak menunjukkan wajah atau ekspresi si
pembicara.
Dalam percakapan termasuk dalam ekspresi kecewa langsung, meski dalam adegan
film ini, teman 1 dan teman 2 tidak menunjukkan ekspresi wajahnya, Meski demikian
percakapan ini dapat dipahami oleh penonton karena terdapat kesesuaian antara konteks
konflik narasi antara teman 1 dan teman 2. Dalam konteks narasi bahwa sebenarnya berita
Haruyama ingin menjadi ketua itu masih rumor, ada salah satu anggota Night yang tidak
masalah Haruyama menjadi ketua Night, namun sebagian besar dari mereka tidak bisa
menerima kalau Haruyama yang akan menggantikan posisi ketua Night, sehingga mereka
merasa kesal dan kecewa. Oleh karena itu terdapat kesesuaian antara struktur dengan fungsi
sehingga percakapan tersebut diidentifikasi sebagai tuturan langsung.
Dengan demikian dapat diketahui percakapan dalam kutipan tersebut menunjukkan
ekspresi kecewa yang dengan kesal diidentifikasikan kata Ikariartinya “kesal” dan “yabee”
artinya “sial” yang diucapkan dengan nada kesal. Selain itu, menunjukkan tuturan kecewa
langsung yang dapat langsung dipahami oleh penonton, baik secara konteks, ekspresi, dan
pilihan diksinya.
Data keempat merupakan adegan yang terjadi ketika anggota Night berkumpul untuk
berperang dengan kelompok musuh geng motor lain. Salah satu anggota Night
menginformasikan kepada yang lain bahwa Haruyama tak kunjung datang, bila tidak segera
menyerang maka rencanapun akan gagal karena Haruyama berperan sebagai ketua di
kelompok Night, oleh karena itu mereka memutuskan berperang tanpa Haruyama. Pada
akhirnya rencana yang mereka buat tidak berhasil, karena polisi datang.
(4) 友達:
だめだ。むりだはる。
Yanti Hidayati, Andi Abd. Khaliq Syukur dan Fikih Simpatik
Ekspresi Kecewa dalam Film Jepang “Hot Road” (Kajian Pragmatik)
130
Tomodachi : Dameda. Murida Haru.
Teman : Tidak! Haru belum muncul!
友達 A:⾏くじゃねよ。
Tomodachi A : Ikujyaneyo.
Teman A : Kita tidak bisa pergi!
友達:もうほんとに⽌めらんねえ。
Tomodachi : Mou hontou ni tomerannee.
Teman : Kita sudah tidak bisa menghentikannya!
友達 B:
警察だ。
Tomodachi B : Keisatsuda.
Teman B : Polisi!
(Takahiro, 2014)
Pada percakapan data keempat menit 01:32:44-01:33:01 diidentifikasikan sebagai
kalimat deklaratif. Tuturan kalimat deklaratif pada percakapan tersebut dituturkan oleh tokoh
teman Haruyama. Kalimat deklaratif tokoh teman Haruyama yaitu mengatakan “Dameda.
Murida Haru” yang dalam bahasa Indonesia “Tidak! Haru belum muncul!”. Maksud dari
tuturan teman Haruyama, adalah mendeklarasikan sebenarnya teman Haruyama dan anggota
Night tidak bisa menunggu kedatangan Haruyama sebagai ketua Night untuk mulai berperang.
Gejala ini dapat diidentifikasi sebagai ekspresi kecewa karena menunjukkan harapan teman
Haruyama yang berharap Haruyama datang diwaktu yang tepat.
Dalam ekspresi kecewa ini terkait dengan ekspresi kesal. Gejala ini dapat diidentifikasi
pada tuturan yang mengatakan “tomerannee” yang dalam bahasa Indonesia yaitu “tidak bisa
menghentikannya!” maksudnya perang tidak bisa berhenti hanya karena Haruyama tidak
datang. Tuturan ini diucapkan dengan nada suara yang tinggi dan eksperesi kesal. Namun,
saat hendak berangkat salah satu anggota Night berteriak mengatakan “Keisatsuda” yang
artinya “Polisi!”, sehingga rencana yang mereka buat tidak berhasil terutama mereka tidak
jadi berperang karena polisi datang.
Dalam percakapan termasuk dalam ekspresi kecewa tidak langsung, meski dalam
adegan film ini, tuturan kecewa tersebut diutarakan bukan dengan tokoh yang bersangkutan
yaitu Haruyama. Dalam konteks narasi bahwa sebenarnya anggota Night sudah lama
menunggu ketua geng yaitu Haruyama yang tidak kunjung datang, padahal Haruyama sedang
dalam perjalanan menuju ke tempat anggota Night dengan kondisi sedang sakit, sehingga
anggota Night kesal. Oleh karena itu tidak terdapat kesesuaian antara struktur dengan fungsi
sehingga percakapan tersebut diidentifikasi sebagai tuturan tidak langsung.
Yanti Hidayati, Andi Abd. Khaliq Syukur dan Fikih Simpatik
Ekspresi Kecewa dalam Film Jepang “Hot Road” (Kajian Pragmatik)
131
Dengan demikian dapat diketahui percakapan dalam kutipan tersebut menunjukkan
ekspresi kecewa yang diidentifikasikan pada kata “Murida Haru” artinya “Haru belum
muncul!”. Sedangkan ekspresi kecewa yang terkait dengan kesal diidentifikasi dari
“tomerannee” yang berarti “tidak bisa menghentikannya!” yang diujarkan dengan nada tinggi.
Selain itu, menunjukkan tuturan kecewa tidak langsung yang dapat langsung dipahami oleh
penonton, baik secara konteks, ekspresi, dan pilihan diksinya.
Data kelima merupakan adegan yang terjadi pada malam hari, ketika Kazuki baru
pulang dari rumah Haruyama, kemudian ibunya yang menunggu kedatangan Kazuki karena
ibu Kazuki mendapat telepon dari pihak sekolah kalau Kazuki sudah tiga hari tidak berangkat
sekolah.
(5) ママ :こっちにいらっしゃい。 先⽣かられんらくがあったの。⾼校に⾏くた
めの⼤事なテストがあったんでしょう。三⽇間どこに⾏ってたのよ。
Mama : Kocchi ni irashai. Sensei kara renraku ga attano. Koukou ni ikutame no daijina
tesuto ga attandesuyou. Mikkakan doko ni ittetano.
Mamah: Kemarilah. Ibu menerima telepon dari gurumu. Ada ujian penting untuk masuk
SMA, kan? Kamu pergi kemana saja 3 hari ini ?
かずき :じゃあ、ママあの⽇どこいってたの。
Kazuki : jyaa, mama ano hi doko ittetano.
Kazuki : Kalau begitu, hari itu mamah ada dimana?
ママ :へえ。。。。
Mama : hee ..
Mamah : Eh?
かずき :あんたの男にくわしてもらうの、もういやだよ。
Kazuki : Anta no otoko ni kuwashite morauno. Mou iyadayo.
Kazuki : Aku muak diberi makan oleh pacar mu.
ママ
:何⾔ってるの。ママは⼀円だってすずきくんもらってない。なんで
そんなきたない⾔い⽅するの。私たち⾼校の時からずっと好きだった
のよ。それなのになんなの。どうして私たち、別々の⼈と結婚しなく
ちゃいけなかったの。どうしてみんな、そう呼び⽅をするのよ。あ、
待って。
Mama : nani itteruno. Mama wa ichidatte Suzuki kun morattenai. Nande sonna kitanai
iikata suruno. Watashitachi koukou no toki kara zutto sukidattanoyo. Sore
nanoni nannano. Doushite watashitachi, betsu betsu no hito to kekkon
shinakucha ikenakattano. Doushite minna, sou youbi kata o surunoyo. A, matte.
Mamah: Kamu bicara apa? Ibu tak menerima uang sepeser pun dari Suzuki-kun!
Mengapa kamu berkata kasar seperti ini? Kami sudah saling mencintai sejak
SMA! Lalu mengapa ini terjadi? Mengapa kami harus menikahi orang lain?
Yanti Hidayati, Andi Abd. Khaliq Syukur dan Fikih Simpatik
Ekspresi Kecewa dalam Film Jepang “Hot Road” (Kajian Pragmatik)
132
Mengapa kalian berkata seperti itu Ah. Tunggu.
かずき
家を汚い。
(こんなこと⾔いたくないのに)。お前顔のもう⾒たく
ない。
Kazuki : ie o kittanai. [konna koto iitakunainoni]. Omae kao no mou mitakunai.
Kazuki : Rumah kami memang kotor.[Aku tak ingin mengatakan ini] Aku tak pernah
ingin melihat wajahmu lagi.
ママ:なんでそんなこになっちゃったの。
Mama : nande sonna koninacchattano.
Mamah : Mengapa kamu jadi seperti itu...?
かずき:お前が、、、そういう⼦にしたんだ。
Kazuki : omae ga,,, sou iu ko ni shitanda.
Kazuki : Karena, kaulah yang membuatku seperti ini!
(Takahiro, 2014)
Pada percakapan data kelima menit 00:37:47-00:37:24 diidentifikasikan sebagai kalimat
deklaratif dan interogatif, kalimat deklaratif yang dituturkan oleh tokoh Kazuki sedangkan
kalimat inteogarif dituturkan oleh tokoh ibunya. Tuturan kalimat deklaratif pada percakapan
di atas dituturkan oleh tokoh Kazuki. Kalimat deklaratif Tokoh Kazuki, yaitu mengatakan ie
o kittanai yang berarti “Rumah kami memang kotor”. Maksud dari tuturan Kazuki, adalah
sebenarnya bukan rumahnya yang kotor tetapi kelakuan ibunya lah yang tidak baik, selalu
berpacaran dengan mantan kekasihnya. Gejala ini dapat diidentifikasi sebagai ekspresi
kecewa karena menunjukkan harapan Kazuki yang berharap ibunya tidak pacaran dengan
mantan kekasihnya.
Sedangkan tuturan kalimat inteogarif dituturkan oleh tokoh ibunya. Kalimat interogatif
tokoh ibunya Kazuki, yaitu mengatakan nande sonna koninacchattano yang berarti
“Mengapa kamu jadi seperti itu...?”. Maksud dari tuturan Ibunya, adalah ibunya merasa
perilaku Kazuki menjadi berubah tidak sopan. Gejala ini dapat diidentifikasi sebagai ekspresi
kecewa karena menunjukkan harapan Ibunya yang berharap Kazuki berubah sikapnya seperti
yang dulu dan sopan kepada orang tunya.
Dalam ekspresi kecewa ini terdapat dua ekspresi yang terkait dengan ekspresi marah
dan sedih. Gejala ini dapat diidentifikasi pada tuturan Kazuki pada saat mengatakan “kittanai
yang berarti “kotor”. Tuturan ini diucapkan dengan nada suara yang tinggi dan eksperesi
marah. Sedangkan, Ibunya mengatakan nandeyang berarti “mengapa” seakan kalau ibunya
mempertanyakan kepada anaknya yaitu Kazuki yang menjadi berubah. Tuturan ini diucapkan
dengan nada suara yang tinggi dan eksperesi sedih.
Yanti Hidayati, Andi Abd. Khaliq Syukur dan Fikih Simpatik
Ekspresi Kecewa dalam Film Jepang “Hot Road” (Kajian Pragmatik)
133
Dalam percakapan Kazuki dan Ibunya termasuk dalam ekspresi kecewa tidak langsung,
karena dalam tuturan tokoh Kazuki dan Ibunya mempunyai maksud lain. Meski demikian
percakapan ini dapat dipahami oleh penonton karena terdapat kesesuaian antara konteks
konflik narasi antara Kazuki dan Ibunya. Dalam konteks narasi bahwa tokoh Kazuki
sebenarnya bukan rumahnya yang kotor tetapi yang dimaksud kelakuan ibunya lah yang tidak
baik, selalu pacaran dengan mantan kekasihnya. Sedangkan Ibunya mempertanyakan kepada
anaknya yaitu Kazuki yang menjadi berubah. Oleh karena itu tidak terdapat kesesuaian antara
struktur dengan fungsi sehingga percakapan tersebut diidentifikasi sebagai tuturan tidak
langsung.
Dengan demikian dapat diketahui percakapan dalam kutipan tersebut menunjukkan
ekspresi kecewa yang terkait dengan marah diidentifikasikan pada kata “kittanai” yang berarti
“kotor” yang diujarkan dengan nada tinggi. Sedangkan ekspresi kecewa yang terkait dengan
sedih diidentifikasi dari nande yang berarti “mengapa”. Selain itu, menunjukkan tuturan
kecewa tidak langsung yang dapat langsung dipahami oleh penonton, baik secara konteks,
ekspresi, dan pilihan diksinya.
Data keenam merupakan adegan yang terjadi saat dikamar. Ibu Kazuki dan pacar Ibunya
yang bernama Suzuki. Ibu Kazuki menelpon pacarnya berkeluh kesah tentang apa yang terjadi
pada anaknya yaitu Kazuki. Sebelum menelpon pacarnya, ibu Kazuki dan Kazuki sedang
makan tiba-tiba ibu Kazuki berbicara masalah gaun yang sedang dipakai oleh Kazuki. Gaun
itu adalah gaun pernikahan ibunya dan ayahnya yang sudah meninggal saat kecil. Tiba-tiba
Kazuki menundukkan kepala hampir menangis, menjatuhkan makanan dan piring yang saat
itu dia makan. Ibunya yang tidak mengerti tentang apa yang terjadi kepada Kazuki, ibunya
langsung menelpon pacarnya tentang apa yang terjadi kepada anaknya.
(6) ママ:もしもし、すずきくん。
かずきが分からない。
Mama : moshi moshi, Suzukikun. Kazuki ga wakaranai.
Mamah : Halo, Suzuki-kun? Ini tentang Kazuki, aku tak mengerti anak itu.
すずき:そうか。
Suzuki : souka.
Suzuki : Begitu.
(Takahiro, 2014)
Pada percakapan data keenam menit 00:26:25-00:26:34 diidentifikasikan sebagai
kalimat deklaratif. Tuturan kalimat deklaratif pada percakapan tersebut dituturkan oleh tokoh
ibunya Kazuki. Kalimat deklaratif tokoh ibunya Kazuki, yaitu mengatakan Kazuki ga
Yanti Hidayati, Andi Abd. Khaliq Syukur dan Fikih Simpatik
Ekspresi Kecewa dalam Film Jepang “Hot Road” (Kajian Pragmatik)
134
wakaranai yang dalam bahasa Indonesia “Ini tentang Kazuki, aku tak mengerti anak itu”.
Maksud dari tuturan ibunya Kazuki, adalah mendeklarasikan sebuah keluk kesah kepada
pacar ibunya bernama Suzuki tentang anaknya yaitu Kazuki yang berubah menjadi tidak baik
sikapnya terhadap ibunya. Gejala ini dapat diidentifikasi sebagai ekspresi kecewa karena
menunjukkan harapan ibu Kazuki yang berharap Kazuki menjadi baik kepada ibunya.
Dalam ekspresi kecewa ini terkait dengan ekspresi sedih. Gejala ini dapat diidentifikasi
pada tuturan yang telah dijelaskan diawal, kemudian direspon oleh Suzuki dengan
mengatakan soukayang dalam bahasa Indonesia “Begitu” bahwa Suzuki mengerti perasaan
yang sedang dirasakan oleh ibunya Kazuki. Tuturan ini diucapkan dengan nada suara pelan
dan eksperesi sedih.
Dalam percakapan termasuk dalam ekspresi kecewa tidak langsung. Meski demikian
percakapan ini dapat dipahami oleh penonton karena tidak terdapat kesesuaian antara konteks
konflik narasi antara ibunya Kazuki dan Suzuki. Dalam konteks narasi bahwa sebenarnya
pada scene sebelumnya ibu Kazuki tidak bermaksud membuat Kazuki merasa tersinggung,
tetapi respon Kazuki malah sebaliknya yaitu Kazuki berontak sambil menjatuhkan piring
dimeja makan, sehingga ibunya Kazuki merasa sedih dan kecewa atas sikap anaknya. Oleh
karena itu tidak terdapat kesesuaian antara struktur dengan fungsi sehingga percakapan
tersebut diidentifikasi sebagai tuturan langsung.
Dengan demikian dapat diketahui percakapan dalam kutipan tersebut menunjukkan
ekspresi kecewa yang terkait dengan sedih diidentifikasikan pada kalimat wakaranai
artinya “aku tak mengerti anak itu” yang diujarkan dengan nada suara pelan dan eksperesi
sedih. Selain itu, menunjukkan tuturan kecewa tidak langsung yang dapat langsung dipahami
oleh penonton, baik secara konteks, ekspresi, dan pilihan diksinya.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis pembahasan tindak tutur langsung dan tidak langsung yang
menunjukkan ekspresi kecewa terdapat dalam film Hot Road diperoleh kesimpulan.
1. Dari hasil analisis terdapat 10 data diperoleh pada film Hot Road yang merupakan
tindak tutur langsung dan tidak langsung yang menunjukkan ekspresi kecewa. Pada film Hot
Road terdapat 5 data tindak tutur langsung yang menunjukkan ekspresi kecewa dan 5 data
tindak tutur tidak langsung yang menunjukkan ekspresi kecewa. Pada film Hot Road tuturan
kecewa langsung terdapat kata penanda, seperti yabai”, yabee dan kawaisouda”, tetapi
tidak semua ada kata penanda. Sedangkan tuturan tidak langsung dalam film Hot Road
Yanti Hidayati, Andi Abd. Khaliq Syukur dan Fikih Simpatik
Ekspresi Kecewa dalam Film Jepang “Hot Road” (Kajian Pragmatik)
135
menunjukkan ekspresi kecewa yang tidak memiliki penanda tertentu dan hanya dapat
dipahami dalam konteks narasi, ekspresi dalam film dan hal yang menunjukkan konteks.
Sebagaimana hal ini juga mengukuhkan teori dari pragmatik. Tindak tutur tidak langsung
hanya dapat dipahami dalam konteks. Konteks disini hanya dapat dipahami dalam narasi film
Hot Road, konteks ekspresi penutur dan konteks latar tuturan yang terjadi. Selain itu, pada
analisis di atas juga terdapat kalimat deklaratif yang digunakan untuk menyatakan kecewa
langsung dan tidak langsung terdapat 8 data dan kalimat interogatif yang digunakan untuk
menanyakan kecewa langsung dan tidak langsung terdapat 1 data, tetapi ada 1 data yang
memiliki kalimat deklaratif dan kalimat interogatif.
2. Dari analisis tersebut ditemukan ekspresi kecewa yang sebagaimana teori telah
dijelaskan oleh para ahli, penelitian ini juga menunjukkan bahwa emosi kecewa yang
ditampilkan dalam film Hot Road yaitu ekspresi kecewa yang hanya menunjukkan kecewa,
kecewa yang terkait dengan ekspresi marah, kecewa yang terkait dengan ekspresi sedih dan
kecewa yang terkait dengan ekspresi kesal yang melatar belakangi tuturan pada data tersebut.
Yanti Hidayati, Andi Abd. Khaliq Syukur dan Fikih Simpatik
Ekspresi Kecewa dalam Film Jepang “Hot Road” (Kajian Pragmatik)
136
REFERENSI
Ahmad, Abdul Latiff, Noh, Mohd Nazri Mohd, Mohamad, Emma Mirza Wati, Mohd, Rusyda
Helma, Salman, Ali, & Pawanteh, Latiffah. (2015). Eksplorasi adaptasi antarabudaya
pelajar melayu di Australia dan United Kingdom. Jurnal Komunikasi: Malaysian Journal
of Communication, 31(2), 389–403.
Amfusina, Sari, Rahayu, Ririn, & Harliyana, Iba. (2020). Tindak Tutur Lokusi, Ilokusi, dan
Perlokusi Pada Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Nisam. Jurnal
Metamorfosa, 8(2), 207–218.
Apriastuti, Ni Nyoman Ayu Ari. (2017). Bentuk, fungsi dan jenis tindak tutur dalam
komunikasi siswa di kelas IX Unggulan SMP PGRI 3 Denpasar. Jurnal Imiah
Pendidikan Dan Pembelajaran, 1(1).
Ariyanti, Lita Dwi, & Zulaeha, Ida. (2017). Tindak tutur ekspresif humanis dalam interaksi
pembelajaran di sma negeri 1 batang: Analisis wacana kelas. Seloka: Jurnal Pendidikan
Bahasa Dan Sastra Indonesia, 6(2), 111–122.
Bawamenewi, Arozatulo. (2020). Analisis Tindak Tutur Bahasa Nias Sebuah Kajian
Pragmatik. Jurnal Review Pendidikan Dan Pengajaran (JRPP), 3(2), 200–208.
Darwis, Agustina. (2018). Tindak Tutur Direktif Guru di Lingkungan SMP Negeri 19 Palu:
Kajian Pragmatik. Bahasa Dan Sastra, 4(2).
Dwijayanti, Tutut Ayu. (2019). Tindak Tutur Ilokusi Peserta Didik Dalam Pebelajaran Bahasa
Indonesia. Prosiding Seminar Nasional Bahasa Dan Sastra Indonesia (SENASBASA),
3(2).
Hidayati, Yanti, Syukur, Andi Abd Khaliq, & Sukmana, Hafiyyan Irham. (2022). Tindak Tutur
Ekspresif Marah Dalam Film Death Note Season 1 (2015). Jurnal SORA, 6(1), 1–12.
Musthofa, Dwi, & Utomo, Asep Purwo Yudi. (2021). Kesantunan Berbahasa Indonesia dalam
Tindak Tutur Ilokusi pada Acara Rosi (Corona, Media, dan Kepanikan Publik).
METAMORFOSIS| Jurnal Bahasa, Sastra Indonesia Dan Pengajarannya, 14(1), 28–36.
Nadzifah, Zulfa Naurah, & Utomo, Asep Purwo Yudi. (2020). Tindak tutur perlokusi pada
dialog film “Keluarga Cemara” karya Yandy Laurens. Dinamika, 3(2), 43–53.
Rithaudin, Ahmad. (2010). Aktivitas akuatik sebagai terapi psikis bagi anak. Medikora, (2).
Rosita, Farida Yufarlina. (2019). Tindak Tutur Ilokusi Guru dan Siswa dalam Proses
Pembelajaran Bahasa Indoensia Kelas VIII PK di MTsN 3 Boyolali Tahun Ajaran
2018/2019. An-Nas, 3(2), 27–37.
Simanjuntak, Demak Claudia Yosephine. (2021). Analisis Kepuasan dan Loyalitas Pelanggan
Lembaga Kursus. PUBLISH BUKU UNPRI PRESS ISBN, 1(1).
Suharyanto, Agung. (2021). Punk: Pengamen Jalanan dan Sebuah Subkultur Dari Kehidupan
Urban di Kota Medan Punk: Street Singers and a Subculture of Urban Life in Medan
City. Anthropos, 7(1), 98–105.
Yanti Hidayati, Andi Abd. Khaliq Syukur dan Fikih Simpatik
Ekspresi Kecewa dalam Film Jepang “Hot Road” (Kajian Pragmatik)
137
Yusuf, Akram Budiman, Mahmut, Abdul Karim, & Devi, Sri. (2021). Telaah Tindak Tutur
Ilokusi Guru dalam Interaksi Pembelajaran Bahasa Indonesia. KREDO: Jurnal Ilmiah
Bahasa Dan Sastra, 4(2), 402–424.